Pahlawan Pemanah

0
18

Ayat bacaan: Mazmur 127:4
===================
“Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.”

 

Jika anda sudah menonton film The Avengers, anda tentu mengenal salah satu tokoh disana yang bernama Hawkeye. Tokoh ini bukanlah seorang dengan kekuatan superhero seperti halnya Hulk, tetapi ia piawai dalam menggunakan panah dan disebut sebagai pemanah terbaik dalam dunia komik Marvel. Di dalam film memanah itu sepertinya terlihat mudah, tapi sebenarnya tidaklah demikian. Menurut seorang teman saya yang menggeluti dunia panah, untuk bisa menjadi pemanah ulung haruslah melalui banyak latihan dan butuh persiapan yang tidak ringan. Untuk menjaga agar tidak sampai cedera kita harus tahu betul prosedur dan cara yang benar dalam melakukannya, demikian juga agar panah bisa diarahkan tepat ke sasaran. Posisi tangan yang membidik dengan yang memegang busur harus sejajar, bagaimana menarik busur dengan tiga jari dan cara melepaskannya, berbagai peralatan pengaman seperti pelindung tangan, dada (jika diperlukan, terutama bagi wanita) dan sebagainya, itupun perlu mendapat perhatian khusus. “Menjadi pemanah butuh persiapan dan latihan matang, karena salah-salah bukan hanya bisa meleset dari sasaran tapi juga bisa mencelakakan diri sendiri.” kata teman saya.

Hawkeye adalah salah satu pahlawan dalam film The Avengers yang menyelamatkan dunia dari kehancuran. Ia hanyalah tokoh fiktif hasil imajinasi pencipta tokohnya. Kita bukan Hawkeye dan hidup di dunia nyata, itu benar. Tapi tahukah anda bahwa di mata Tuhan anda pun sama dianggap para pahlawan apabila bisa mengarahkan anak-anak anda menuju sasaran yang benar? Tuhan menggambarkan peran anda para orang tua dan calon orang tua seperti Hawkeye, yaitu pahlawan yang bisa membuat anak-anak ‘panah’nya untuk bisa tepat sasaran, membawa dampak positif dimanapun mereka ditempatkan.

Kata pahlawan sebagai sebutan bagi orang tua yang bisa mengarahkan anak benar-benar disebutkan di dalam Alkitab, yaitu di dalam kitab Mazmur 127:4. “As arrows are in the hand of a warrior, so are the children of one’s youth.”Dalam bahasa Indonesianya dikatakan “Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.” Dikatakan anak-anak pada masa muda, karena kita harus mulai mengarahkan mereka sejak di usia dini. Biasanya anak-anak sudah sulit diatur apabila sudah mulai beranjak dewasa atau memasuki masa puber, oleh karena itu yang terbaik adalah mengenalkan mereka kepada Tuhan dan kebenaran-kebenaran FirmanNya, mengajarkan tata krama, kesopanan dalam berbicara dan bertingkah laku dan sebagainya sejak mereka masih kecil. Kita bisa melihat bahwa sesungguhnya peran orang tua terhadap masa depan anaknya sangatlah krusial. Benar, jika kita melihat ayat sebelumnya Tuhan sudah mengingatkan bahwa anak adalah milik pusaka, pemberian atau anugerah dari Tuhan (ay 3), tetapi ingatlah bahwa kita yang dititipkan punya tanggungjawab besar untuk mengarahkan mereka menghadapi arus dunia yang penuh dengan kesesatan. Siapa anak-anak kita kelak akan sangat tergantung dari bagaimana kita mengarahkannya, apakah kita sudah menjadi sosok pahlawan (warrior) seperti yang diinginkan Tuhan atau membiarkan mereka terseret arus dan menjadi orang-orang yang tidak berdampak atau malah mengganggu lingkungan.

Buat saya, peran orang tua yang disimbolkan bagai pahlawan yang berjuang dengan panah ini sangatlah menarik karena bisa mengilustrasikan koneksi orang tua dan anak beserta peran didalamnya secara tepat. Agar anda bisa menjadi pemanah ulung yang bisa membawa harum nama bangsa, anda butuh persiapan dan latihan yang matang. Mari kita lihat satu persatu dan kaitannya dengan peran orang tua ini.

  1. Persiapkan tali busur, busur dan anak panah yang kuat
    Seorang pemanah harus memperhatikan peralatan yang mereka pergunakan, demikian juga dengan anak panahnya. Jika hanya terbuat dari bahan yang mudah lapuk, tipis atau patah, tentu itu akan menggagalkan anda dalam mengenai sasaran. Seperti itulah persiapan orang tua agar dapat mengarahkan anaknya. Tidak ada anak yang akan bisa diarahkan jika orang tuanya masih lemah dalam memahami nilai-nilai dan prinsip-prinsip kebenaran Kerajaan Allah. Jadi orang tua perlu terlebih dahulu mengerti nilai dan prinsip dan tidak hanya berhenti disana tapi juga menjadi teladan langsung lewat contoh perbuatan dalam hidup sehari-hari agar bisa mempersiapkan anak-anak muda yang kuat dalam menghadapi masalah.

 

  1. Tali busur harus fleksibel dan elastis
    Anda tidak akan bisa memanah jika tali busurnya tidak elastis. Tanpa adanya gaya pegas dari keelastisan tali, panah tidak akan bisa melesat jauh menuju sasaran. Sebagai orang tua, kita harus bisa bersikap fleksibel dan elastis terhadap anak-anak yang notabene berada dalam generasi yang berbeda dengan orang tuanya. Maksud elastis atau fleksibel disini bukanlah bersikap lunak membiarkan pelanggaran-pelanggaran yang mereka perbuat, tetapi mengacu kepada pemahaman/mengerti tentang generasi seperti apa yang tengah dialami oleh anak-anak kita.

Akan halnya elastis dan fleksibel terhadap anak, mari kita ambil contoh kecil saja, antara generasi X yang lahir di jaman sekitar 1960an hingga 1980an dengan generasi Y yang disebut juga dengan Millenial Generation, mengacu kepada generasi yang lahir di tahun 80an sampai awal 2000an. Antara dua generasi ini saja ada banyak perbedaan nyata yang akan sulit dipahami jika memaksakan kebiasaan atau pola pikir generasi anda ke dalam generasi setelahnya. Seperti apa contohnya? Misalnya dalam hal menyikapi hobi dan profesi. Generasi X cenderung mengatakan bahwa kerja dahulu baru menyalurkan hobi jika sempat. Generasi X masih berpusat pada gelar-gelar kesarjanaan klasik seperti dokter, insinyur dan sebagainya. Sedang pada generasi Y, hobi sudah bukan lagi sesuatu yang dilakukan hanya kalau ada waktu luang tetapi bisa dijadikan profesi. Tidaklah heran jika ada banyak orang tua yang tidak mengerti keinginan anaknya. Mereka terus memaksakan kehendak mereka, mengadopsi kebiasaan dan pola pikir generasinya ke dalam zaman si anak. Mereka sulit mengerti bahwa hobi sudah bisa menjadi profesi yang bisa memberi kehidupan stabil bagi anak-anaknya. Pendidikan-pendidikan era baru seperti desain grafis/desain komunikasi visual, menjadi chef atau juru masak, musisi, ini bagi generasi X hanyalah dianggap bagian dari hobi yang tidak menjamin masa depan anaknya. Padahal di generasi Y semua ini menjadi bidang-bidang profesi yang menarik dan menjanjikan. Itu baru generasi X dan Y, bagaimana jika generasi X dihadapkan dengan generasi digital hari ini? Masalah yang lebih besar tentu akan muncul.

Karena itulah orang tua sebaiknya diharapkan untuk bisa memahami/mengerti generasi apa yang tengah dihidupi oleh anaknya. Anda perlu tahu dunia pekerjaan hari ini seluas apa, anda perlu tahu bidang yang sesuai bakat atau hobi mereka, anda perlu juga tahu tentang hiburan-hiburan apa yang mereka nikmati hari ini seperti lagu-lagu misalnya. Jumlah lagu yang berisi lirik negatif semakin banyak, sehingga anda perlu tahu apa yang mereka dengar agar bisa mengingatkan mereka tentang hal-hal buruk yang diajarkan lewat lagu-lagu yang sedang ‘in’ tersebut. Bersikap menentang dengan keras akan membuat anak semakin berjarak dan tertutup dari anda, bersikap cuek atau tidak peduli akan membuat mereka terseret ke dalam pusaran kesesatan yang ditawarkan dunia. Jadi jangan terlalu sibuk mengatur gaya, trend, mode atau hobi, minat dan bakat mereka dan kemudian menjadi terlalu kaku sehingga gagal dalam menyiapkan busur yang kuat dan elastis. Meski mungkin tidak sesuai dengan selera anda, selama tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, anda harus bisa bertoleransi. Bentuk mendidik atau mendisplinkan yang terlalu kaku dan memaksakan kehendak berlebihan hanyalah akan membuat anak-anak hidup dalam ketakutan, menjauh dari anda dan membuat mereka tidak bisa berkembang. Sebuah sikap fleksibel akan mampu menjembatani hubungan antar generasi, antara anda dan anak-anak, dan itu akan membuat anda mampu mengarahkan mereka, bagai pahlawan yang mengarahkan anak panahnya menuju sasaran.

  1. Mengarahkan anak panah ke tempat yang tepat
    Seorang pemanah tentu ingin menembakkan anak panahnya mengenai target secara tepat. Tapi bisakah si pemanah mengenai sasaran apabila ia sendiri tidak tahu apa yang menjadi targetnya? Pada kenyataannya ada banyak orang tua yang hanya menerapkan peraturan secara buta tanpa tahu apa yang menjadi tujuan. Mereka tidak mau dilarang, tidak memberi contoh yang baik, tapi mereka menerapkan secara keras terhadap anak-anaknya. Mereka belum jelas tentang kebenaran Firman Tuhan tapi bersikap layaknya pemimpin diktator dalam rumah tangga. Ini bukanlah gambaran yang baik jika mau mendidik anak-anak untuk menjadi orang-orang terampil yang berhasil dan takut akan Tuhan dalam hidupnya.

Apa yang terlebih dahulu harus diperhatikan adalah sejauh mana orang tua memahami prinsip-prinsip Kerajaan Allah dan mengaplikasikan semua itu secara nyata dalam keluarga. Bagaimana mau anak tidak merokok kalau orang tuanya saja bebas merokok didepan mereka? Mau bagaimana mendidik mereka agar tidak menghakimi orang lain kalau orang tuanya jago gosip? Mau bagaimana mendidik moral dan akhlak anak-anak kalau orang tuanya menunjukkan pola hidup yang tidak baik seperti korupsi, berbuat curang atau mempertontonkan keahlian mencari keuntungan dengan merugikan yang lain? Anak-anak akan melihat keteladanan dari orang tuanya. Itu yang sering dilupakan oleh banyak orang tua. Mereka cenderung bersikap otoriter karena menyangka posisinya diatas sehingga merasa berhak bersikap seenaknya terhadap anak-anak.

Para orang tua harus ingat bahwa mencari Tuhan bukanlah berarti mencari peraturan saja tetapi lebih jauh itu berarti mengenal Tuhan. Ketetapan Tuhan dijadikan kesukaan bagi kita yang diterapkan sebagai prinsip-prinsip hidup yang akan menginspirasi dan diteladani oleh anak-anak.

Selain itu orang tua juga diharapkan mampu menemukan minat, bakat atau potensi anak-anak yang tertinggi dan kemudian mengarahkan mereka dengan baik, bukan memaksakan obsesi pribadi. Anak-anak harus diasah untuk tajam dan diarahkan untuk melesat ke arah yang benar, dan itu artinya kita memberi visi kehidupan yang tepat bagi mereka. Kita harus ingat bahwa peraturan hanyalah membatasi dari luar, tetapi prinsip-prinsip Kerajaan yang diadopsi dengan baik dalam kehidupan nyata bisa merubah seseorang dari dalam dan akan hidup di dalam mereka untuk waktu yang lama.

Dari seluruh isi renungan yang saya sampaikan ini kita bisa melihat bahwa untuk menjadi orang tua sama sulitnya seperti menjadi pemanah ulung. Itu butuh proses, butuh perjuangan dan seringkali butuh pengorbanan. Tapi itulah yang bisa menjadikan kita tampil sebagai pahlawan-pahlawan di mata Tuhan. Jika kita sudah melakukan semua ini, kelak bukan hanya anak-anak kita yang hidupnya baik dan berhasil, tapi kita sebagai orang tua pun akan merasa bangga dan bahagia. “Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang.” (Mazmur 127:4). Dalam Amsal dikatakan “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6). Anda siap untuk menjadi pahlawan pemanah? Jika ya, arahkanlah anak-anak panah anda menuju sasaran, sehingga selain hidup mereka diberkati mereka pun bisa berdampak bagi kesejahteraan lingkungan sekitar, kota, bangsa dan negara bahkan hingga memberkati dunia.

Anda adalah pahlawannya Tuhan jika berhasil mengarahkan anak-anak panah anda ke sasaran yang benar

 

 

Dikutip dari : http://24hoursworship.com/pahlawan-pemanah-1/

http://24hoursworship.com/pahlawan-pemanah-2/

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here