Tuhan Kok Saya Belum Punya Pacar?

0
10

TUHAN, Kok Saya Belum Punya Pacar….

Meskipun di kota besar seperti Jakarta, masih banyak orang tua yang prihatin ketika melihat anaknya yang dalam usianya yang semakin mendekati kepala tiga belum juga memiliki pacar tetap. Apalagi jika anaknya adalah anak perempuan. Bisa dimaklumi. Apalagi yang diinginkan orang tua setelah anaknya selesai kuliah dan mendapatkan pekerjaan kalau bukan menikah? Bukankah dengan membangun keluarganya sendiri secara tidak langsung anak membebaskan ayah dan ibunya dari tugas mereka sebagai orang tua? (Kej. 2:24) Bukan berarti bahwa mereka kemudian harus putus hubungan sebagai orang tua dan anak tetapi setelah seorang anak menikah, orang tua tidak lagi sebagai orang terpenting setelah Tuhan dalam kehidupan anaknya karena posisi itu telah digantikan oleh pasangannya (Ef. 5:22 dan 25). Orang tua sangat menyadari bahwa ketika anak-anaknya telah memiliki keluarganya sendiri, mereka akhirnya layak untuk menyandang sebutan “orang dewasa”. Jadi harap dimaklumi jika orang tua sering merasa tugasnya belum selesai sebelum menyaksikan anaknya duduk di pelaminan.

Namun tak juga disangkal bahwa hal ini justru sering menambah beban pikiran anak. Banyak teman saya yang sengaja mencari pekerjaan di luar kota, jauh dari kota tempat tinggal orang tuanya, untuk menghindari pertanyaan, “Kapan kamu menikah?” Tetapi bukankah dimanapun kita berada kita tetap akan menjumpai pertanyaan yang sama? Kalau bukan dari orang tua ya dari teman atau kenalan kita? Jadi saya rasa masalahnya bukan terletak pada orang tua tetapi bahwa secara umum orang telah menentukan usia dimana seharusnya seseorang menikah dan kita setuju dengan pendapat umum tersebut. Akibatnya ketika kita telah melewati batas usia yang telah disepakati, kitapun merasa resah.

Bagi yang tidak mengalami, mungkin kelihatannya ini masalah kecil – seseorang belum memiliki pacar dalam usia yang menurut umum dianggap sudah layak menikah – tetapi saya menyaksikan banyak teman saya yang jatuh dalam pencobaan ini. Tidak tahan memikirkan “apa kata orang”, mereka berkompromi dan menikah dengan seseorang tanpa sebelumnya benar-benar menguji calonnya tersebut.

Seorang teman, perempuan, menerima pemberkatan nikah di gereja dengan seorang laki-laki hanya setelah tiga bulan pacaran. Karena sedikitnya waktu untuk saling mengenal, setelah menjadi suami-istri teman saya ini selalu ketakutan bahwa suaminya itu dulu sebetulnya menikahi dia bukan karena cinta tetapi karena hartanya, meskipun sang suami adalah seorang karyawan tetap di sebuah bank. Saking ketakutannya, ketika suaminya kena PHK karena bank tempat dia bekerja terkena dampak krisis moneter, teman sayapun mengusirnya dari rumah. “Jangan pernah kembali kalau papa belum punya pekerjaan!” Sejak saat itu, laki-laki yang baru saja menjadi ayah itu terpaksa berpisah dari anak bayinya dan tidak bisa melihat bagaimana anak tersebut tumbuh dan berkembang.

Seorang teman lagi, laki-laki, dalam usianya yang ke 45 akhirnya menikah dengan teman kantornya meskipun hatinya mengingatkan bahwa perempuan yang akan dinikahinya itu bukanlah seorang calon ibu seperti yang diinginkannya. Ketika sedang mengunjungi pacarnya di rumahnya, teman saya ini melihat sang pacar menampar keponakannya yang masih berusia 3 tahun. Teman saya sangat kaget waktu itu namun berharap bahwa pacarnya hanya terbawa emosi. Melihat pembawaannya di kantor, teman saya ini masih percaya bahwa wanita yang sudah 4 bulan dipacarnya ini sebetulnya adalah orang yang sabar.

Ternyata setelah menikah dia menemukan bahwa bukan hanya tangannya suka memukul, istrinya ini juga suka memaki dengan kata-kata kasar. Teman saya ini sampai berhenti bekerja dan memilih untuk membuka usaha di rumah supaya bisa melindungi anak-anaknya dari “keganasan” ibunya. “Bodohnya aku… kenapa aku dulu terburu-buru,” begitu sering ia keluhkan.

Seandainya mereka bisa menunggu…ini juga yang sering saya sayangkan dari teman-teman saya ini. Seberapapun beratnya tekanan orang-orang di sekitar untuk segera menikah, kita tetap tidak boleh kehilangan akal sehat kita. Menurut saya, menikah bukan sekedar masalah menemukan seorang lawan jenis yang mau untuk diajak hidup bersama tetapi jauh lebih serius dari ini. Menikah adalah sebuah komitmen untuk membangun sebuah keluarga yang berkualitas. Dari apa yang Allah kerjakan kepada nenek moyang rohani kita seperti Abraham, Yakub dan Daud, jelas terlihat bahwa Allah melihat keluarga sebagai alat untuk memenuhi bumi ini dengan kasih dan kuasa-Nya. Dengan kata lain, Allah tidak pernah memandang keluarga hanya sebagai sekumpulan manusia yang sedang belajar untuk hidup bersama, tetapi sebagai agen surgawi untuk menghadirkan kerajaan Allah di bumi ini. Dengan rencana yang sebesar ini, saya rasa sangat banyak keuntungannya jika kita mau menunggu daripada terburu-buru.

Tapi menunggu itu sangat membosankan….

Memang, menunggu bisa jadi sangat membosankan jika kita tidak melakukan apa-apa. Sekarang ini dengan adanya kemajuan tehnologi, orang tidak lagi keberatan menunggu berjam-jam karena mereka bisa SMS-an, main game, chatting on line dsb. Menunggu kedatangan soulmate-pun bisa jadi pekerjaan yang menyenangkan kalau kita juga melakukan sesuatu.

 

Temukan hal yang bisa diberikan kepada pasangan

Salah satu hal menyenangkan yang bisa anda lakukan adalah mengevaluasi diri. Contohnya dengan pertanyaan: jika saya menemukan pasangan, apa yang akan saya berikan kepadanya? Banyak perempuan terperangkap dengan pertanyaan ini karena mengira jawabannya adalah, “Tubuhku.” Sementara laki-laki mengira jawabannya adalah, “Kelaki-lakianku.” Maaf saya bicara terus terang disini, tetapi entah disadari atau tidak, banyak orang mengira bahwa pemberian terindah dalam sebuah hubungan adalah keintiman fisik.

Pendapat ini berasal dari ketidak-tahuan bahwa banyak hal lain yang bisa kita berikan selain keintiman fisik. Masih sedikit orang tua, guru ataupun orang dewasa yang bertanggung jawab dalam pendidikan, melihat pentingnya mengajarkan anak-anak melihat dan mengembangkan kelebihan yang mereka miliki sementara media massa terutama televisi setiap harinya membombardir pikiran anak dengan hal-hal yang mengarah ke sexualitas. Akibatnya, baik disadari atau tidak banyak anak muda mengira bahwa sex adalah unsur terpenting dalam sebuah hubungan lawan jenis dan menjadikan itu sebagai pembuktian cinta. “Kalau kamu memang sayang sama aku, buktikan….”

 

Ketaatan kepada Tuhan adalah pemberian yang terbaik

Banyak hal selain sex yang bisa kita berikan kepada pasangan kita. Pemberian terindah dan termulia menurut saya adalah ketaatan kita kepada Tuhan. Mendengar jawaban saya ini salah satu teman saya pernah berkomentar, “Kamu nge-roh banget sih?” Seandainya saya masih single dan sedang dalam proses mencari soulmate, teman saya ini pasti akan langsung saya coret dari daftar orang yang ingin saya dekati meskipun dia kaya dan menarik. Karena dari komentarnya saya tahu bahwa dia tidak bisa melihat bahwa ketaatan akan Tuhan adalah sebuah pemberian yang sangat berharga.

 

Kalau kita taat dan takut akan Tuhan dengan sendirinya kita akan belajar untuk hidup selaras dengan kehendak-Nya. Kita akan belajar untuk setia, mengasihi, mengampuni, tidak menghakimi, dsb. Kalau saya tanya dia, “Jadi kamu nggak mau punya pacar yang setia, sayang sama kamu, ngertiin kamu dan nggak suka membesar-besarkan kesalahan kamu?” pasti jawabannya, “Ya maulah…”

Tapi dari pilihan katanya saya menilai bahwa teman saya ini tidak tahu bahwa semua sifat mulia yang ada dalam diri manusia itu hanya bisa keluar jika kita ada di dalam Allah. Karena itu saya tidak akan membuang waktu dengan orang seperti itu. Yesus sendiri mengingatkan, “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.” (Mat. 7:6) Seandainya orang seperti itu saya terima sebagai pacar sudah terbayang bahwa dia pasti akan jadi pacar yang senang mentertawakan usaha saya dalam mencari tuntunan Tuhan.

 

Berani menghadapi tantangan hidup

Hal lain yang dapat kita berikan kepada pacar adalah keseriusan kita dalam mengalahkan tantangan hidup. Orang yang berani bukanlah orang yang tidak pernah takut melainkan orang yang meskipun takut tetap memutuskan untuk menghadapi tantangan yang dihadapinya. Mungkin saat ini kita belum memiliki sikap yang demikian tetapi dengan komitment yang konsisten lama kelamaan sikap kita akan terbentuk. Dan ketika kita telah memiliki sikap seperti ini dengan sendirinya kitapun hanya akan tertarik kepada orang yang sama. Jadi ketika ada kandidat yang mendekat tetapi ia memiliki mental pecundang, dengan sendirinya tidak akan kita terima.

 

Keuletan

Keuletan juga merupakan pemberian yang banyak diminati. Siapa yang tidak suka dengan orang yang pantang menyerah? Yang meskipun berkali-kali gagal tetap terus mencoba? Orang yang memiliki sikap semacam ini adalah orang yang sangat menarik dan memiliki nilai tinggi untuk dijadikan pasangan. Mereka adalah orang-orang kuat yang nantinya akan tetap bisa berdiri tegak ketika keluarga sedang diterjang badai.

Sikap-sikap yang disebut diatas adalah beberapa contoh dari sikap yang sangat dibutuhkan dalam sebuah hubungan. Masih banyak sikap positif lain yang bisa kita gali. Mereka yang memiliki sikap yang membangun adalah orang-orang yang membawa kekuatan bagi orang lain sehingga banyak orang senang bergaul dengan mereka. Sementara orang yang memiliki sikap senang mengeluh, mudah putus asa, tidak berani mencoba, pesimis, dan sikap-sikap negatif lainnya, adalah orang-orang yang tanpa disadari menebarkan racun dimanapun mereka berada. Mereka adalah orang-orang yang tidak menarik dan sering dijauhi.

Mengenali dan mengembangkan sisi-sisi positif kita juga akan membuat kita semakin percaya diri karena kita tahu bahwa banyak hal berguna yang bisa kita tawarkan. Karena kita telah memiliki hal-hal yang baik, dengan sendirinya kitapun menginginkan hal-hal yang baik pula dari pasangan kita. Maka pertemuan dengannya nanti akan merupakan pertemuan antara dua orang yang memiliki hal-hal baik untuk dibagi, dan bukan pertemuan dua orang yang ingin memanfaatkan hal-hal baik dari pasangannya.

 

Salah satu ungkapan kasih adalah dengan memberikan yang terindah yang kita miliki. Sudahkah anda tahu hal terindah yang ingin anda berikan untuk pasangan anda?

Dikutip dari : http://jodoh-persahabatan-kristen.blogspot.com/

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here