Strategi Menjaga Kekudusan Seksual Di Masa Pacaran

0
11

“Saya baru saja bertunangan dengan seorang pemuda yang menyenangkan. Dia meminta saya untuk menikah dengannya, karena dia mencintai saya. Senang sekali rasanya mengalami cinta, ingin rasanya selalu berdekatan dengan dia. Makin lama, kami semakin dekat secara seksual, lebih dari apa yang pernah kami bayangkan. Kami mulai bercumbu, tidak sering hanya sekali-sekali saja. Akhir-akhir ini, saya ingin melakukannya lebih jauh, dia pun demikian. Tidak seorangpun dari kami yang merasa tertekan. Kadang-kadang, saya tertarik untuk melakukan hubungan seks dengannya karena saya merasa senang bersamanya. Saya tahu dia pun demikian. Dia tidak pernah menjebak saya dengan perasaan bersalah, sewaktu saya memintanya untuk berhenti. Namun terkadang saya pun tidak ingin memintanya untuk berhenti. Pertanyaannya: Apakah perasaan ketertarikan ini salah? Apa yang harus saya lakukan ketika perasaan ini muncul?”

Pernyataan yang jujur dan terbuka di atas, datang dari seorang gadis. Masalah yang diungkap, mewakili pergumulan banyak insan muda yang sedang berpacaran.

Firman Tuhan mengatakan dalam Mazmur 119: 9 Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.

Firman Tuhan mendorong anak-anak muda untuk mempertahankan kelakuan yang bersih. Dengan apa? Dengan menjaga sesuai firman Tuhan.

Memang masa-masa berpacaran adalah masa yang sangat menyenangkan. Segala hal dirasa sungguh sangat baik.  Ada kobaran api yang membara dalam seluruh sanubari. Apa yang biasanya dirasa tidak mungkin, menjadi mungkin. Bersama sang kekasih, saya mampu melampaui segala rintangan! Kenapa begitu? Ya…Semua karena cinta! Ada apa dengan cinta? Cinta memang kuat seperti maut! Karenanya mesti ekstra hati-hati!

Dalam urusan cinta mencintai, pasti ada perasaan tertarik secara seksual. Muncul keinginan untuk selalu berdekatan fisik. Apakah perasaan tertarik untuk berhubungan seks, itu salah?

Perasaan ketertarikan tentu normal saja jika hadir di dalam diri seorang pria dan seorang gadis yang saling mencintai. Perlu disadari, ini adalah natur yang Tuhan tanamkan dalam diri manusia agar satu ketika mereka bisa menjadi satu. Terlebih menjelang waktu pernikahan yang semakin dekat, pasti keinginan itu akan semakin kuat. Bayangkan, jika yang terjadi  kebalikannya. Ketika mendekati hari pernikahan, kok rasa tertarik itu malah menghilang. Ujung-ujungnya…bisa batal menikah dong! “Apa iya saya ingin menjalani pernikahan seumur hidup dengan dia, wong sekarang aja perasaannya hambar?”

Jadi, perasaan tertarik jelas sesuatu yang normal di dalam hubungan  dua insan yang saling mencinta. Namun, karena manusia telah jatuh dalam dosa, sesuatu yang normal dan baik adanya, bisa berpotensi merusak. Di sini, ada unsur penting yang harus diperhatikan: PENGENDALIAN DIRI.

Perasaan tertarik / keinginan yang muncul, tidak harus selalu dipenuhi. Manusia bisa tertarik pada berbagai hal, toh tidak semuanya harus dipuaskan. Karena manusia memiliki pilihan moral. Kala tertarik ingin berhubungan seks, bagaimana menyikapinya? Jelas tidak boleh dilakukan, tunggu dong sampai hari pernikahan tiba. Bersabar… Lalu, bagaimana mengendalikan diri, agar keindahan seksual benar-benar “surprise”, dijaga, dan tidak hancur belur di tengah jalan?

Mari memandang pernikahan sebagai sebuah perayaan. Umpama Natal, sebentar lagi akan kita rayakan. Apa yang terlintas dalam pikiranmu mengenai perayaan Natal? Ya!  Keramaian, keriangan, kebahagiaan, sukacita! Dalam keluarga, kami membangun tradisi yang sama dengan banyak keluarga umumnya. Bersama anak-anak, saya dan Liana, membuka pohon natal yang sudah setahun tersimpan di gudang. Kami bersama merangkainya kembali. Melilitkan lampu kelap kelipnya, mengeluarkan dan menggantungkan bola warni warni, pine, candy cane, bintang-bintang, dan dekorasi meriah lainnya untuk menghiasi pohon Natal.

Tidak lupa, kami menyiapkan kado-kado kecil buat setiap anak. Tidak boleh ada yang membuka kadonya sebelum Hari Natal tiba. Anak-anak lucu sekali. Mereka sering duduk di dekat kado itu. Tidak hanya memandangi, mereka begitu tergoda untuk mengetahui apa yang ada di dalam bungkusan kado tersebut. Kadonya diambil, ditaruh, diangkat, dilihat dari atas, bawah, kiri, kanan; berusaha menebak isinya. Semakin ingin tahu, semakin dipikirin, semakin penasaran.

Menuju Natal di bulan Desember. Masih banyak yang harus dipersiapkan menuju Hari H. Kerjakan dulu apa yang harus dikerjakan. Pohon natal, dekorasi, kado, mencari CD lagu-lagu Natal, semuanya dapat menunggu sampai memasuki Bulan Desember. Jikalau tidak demikian, masa penantian menuju hari natal jadi terasa sangat lama. Bayangkan jika kado sudah kami letakkan di bawah pohon natal sejak Oktober, akankah anak-anak berhasil menunggu untuk membuka kado di Hari Natal 25 Desember?

Demikian pula halnya dengan pacaran. Jika pernikahan masih lama, jangan dulu berdekatan terlalu intens. Andai kata pernikahan sudah dekat, persiapkan dirimu baik-baik, agar menjadi kado yang paling indah, saat harinya tiba.

Jangan pikir, “Toh, sudah pasti menikah, kita buka saja ‘hadiahnya’ sekarang.” Justru,  semakin harus menguasai diri menjelang hari pernikahan. Mengapa? Menuju harinya, kedekatan sudah erat, pertemuan semakin intens, antusiasme makin besar. Di titik ini, penguasaan diri harus semakin kuat.

Hari pernikahan dan hari-hari penantian itu satu paket. Kita harus mengisi masa-masa penantian dengan sesuatu yang bermakna, jangan sampai kita mem-break the law.

Ketertarikan seksual seperti gravitasi bumi. Semua benda pasti jatuhnya ke bawah. Orang yang loncat dari pesawat, harus pakai parasut. Jika tidak, kehancuran sudah menunggu di depan mata. Begitulah kekuatan seks, ada titik “point of no return”. Begitu mulai, akan terus berlanjut. Kita harus punya parasut. Penguasaan diri, supaya tidak terjun bebas dan hancur.  Karenanya, pacaran jangan terlalu lama. Apalagi remaja, sebaiknya jangan pacaran! Jika rentang waktu menuju pernikahan masih sangat panjang, kemungkinan jatuh dalam dosa seksual terbuka lebar!

Hubungan seksual jelas sebuah “Kado” dari Tuhan bagi manusia ketika memasuki pernikahan, bersatu sebagai suami-istri. Beranak cuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu. Begitu ditulis dalam Kejadian 1. Jangan membuka kado sebelum diberkati Tuhan.

Untuk menjaganya, kita perlu strategi. Perlu parasut. Ada beberapa strategi sabar “membuka kado”, mengendalikan keinginan seksual sebelum memasuki pernikahan:

Mengakui perasaan ketertarikan tersebut.

Tidak perlu menyangkal. Manusia normal pasti memiliki rasa tertarik. Lantas, jangan merasa bersalah karena ada ketertarikan lalu berusaha memerangi perasaan tertarik yang ada. Saya percaya ketertarikan datang dari pada Tuhan, yang menciptakan pria dan wanita. Ketertarikan  timbul dalam suatu proses menuju pernikahan yang kudus. Cara terbaik adalah mengelola perasaan itu, bukan menyangkalinya ataupun memeranginya.

Akui saja di hadapan Tuhan, ”Tuhan, saya sungguh-sungguh tertarik pada dia. Saya ingin sekali memegang tangannya, membelai, bahkan memeluknya. Tuhan tolong saya agar dapat menguasai perasaan tertarik ini, dapat menghormati kekasihku dan menjaga kekudusan kami berdua”. Doakan juga bersama pasangan. Minta pertolongan Tuhan, agar dapat menjalani hubungan yang kudus. Akui dan berseru pada Tuhan. Dia tidak akan membiarkan pencobaan-pencobaan melampaui batas kekuatan kita. Namun ingat, jangan mencobai Tuhan. Jangan pula menempatkan diri masuk dalam pencobaan.

Memperkaya masa pacaran dengan aktifitas yang membangun.

Waktu sudah berdoa, tetap merasakan godaan yang besar sekali. Kenapa begitu? Tentu, Tuhan kan tidak menghapus rasa tertarik dari diri kita. Bisa gawat kalo tidak tertarik. Setelah kita berdoa, kita harus bertanggung jawab. Jangan memasuki situasi yang membawa diri ke dalam pencobaan. Setiap manusia punya the freewill of men, kehendak bebas. Dalam kebebasan yang Tuhan berikan, pilihan kita harus “Hidup Kudus”.

Coba telaah, situasi seperti apakah yang memicu nafsu? Jangan membangkit-bangkitkan nafsu. Secara umum, saat berdua saja di rumah, tidak ada siapa-siapa; berada di tempat sepi dan remang-remang. Dimana ada kegelapan, disana ada dosa. Jika kita memilih untuk hidup kudus, maka seharusnyalah membuat planning waktu pacaran. Tidak membawa diri dalam situasi menjebak.

Seperti apa misalnya? Perbanyak aktivitas yang melibatkan teman-teman. Tidak pacaran di dalam kamar. Pacaran ga selalu berdua mulu. Kreatif mencoba berbagai aktifitas. Mencoba hal baru bersama. Saya (Khui Fa) sejujurnya ga suka mancing, bahkan tidak pernah mau pergi mancing. Tapi hari itu, demi Liana, saya ikut juga. Ternyata saya menikmatinya. Bukan karena mancing itu sendiri, tapi karena ada sang kekasih yang bersukacita bersama; Juga ada teman-teman yang menambah suasana jadi seru.

Memiliki kegiatan yang menyenangkan tanpa dia (You Shall Have Life!)

Tanpa dia, kamu bisa menjalani hidup. Kamu punya pekerjaan yang dikerjakan. Punya hobi, yang dinikmati. Ada keluarga yang diperhatikan: ada orang tua, saudara. Ada sahabat yang bisa dipercaya. Tanpa kehadiran pasangan, hidupku juga hepi. Tidak selalu harus ada dia menemani. Masing-masing kita memiliki keluarga, pakai waktu juga untuk membina kedekatan dengan keluarga (bersama orang tua/kakak/adik). Melakukan aktivitas bersama mereka, tidak hanya dengan pacar saja.

Cobalah menemukan sesuatu yang kamu benar-benar sukai. Pergi ke toko buku, bacalah buku-buku yang menarik hati. Pelajari dan dalami suatu bidang tertentu. Dalam dunia ini, banyak sekali hal-hal menarik. Fotografi, hewan peliharaan, tanaman, mobil, elektronik, music, memasak, dll. Dengan bertambahnya keahlian, pasti daya tarik akan meningkat. Jangan karena pacaran, diri kita stag. Tidak berkembang. Tidak tahu apa-apa. Tidak tertarik pada apapun selain pacar. Kalau begitu, kita pasti jadi orang yang paling membosankan!  Lambat laun, pacarpun akan bosan sama kamu. So, kembangkan diri. Have life!

Mengubah cinta dalam bentuk yang lain.

Cinta yang menggebu-gebu harus diarahkan ke bentuk lainnya. Tak terhitung hasil karya di dunia ini yang lahir karena kekuatan cinta. Rasa tertarik pada pasangan, membuat manusia begitu kreatif. Segala sesuatu yang indah, asalnya dibuat karena cinta.

Suatu hari, saya (Liana) pergi ke pantai bersama keluarga. Saya begitu terbawa suasana. Angin sepoi-sepoi, menyapa hangat. Ombak memanggil-manggil untuk dihampiri. Pasir halus menyentuh permukaan kaki, ketika saya melepas sandal. Wah senang banget. Terselubung di dalam pasir, ada cangkang kerang yang indah tersembul sedikit. Saya tergerak mengais untuk mengambil cangkang itu. Teringat akan sang kekasih yang nun jauh di sana, pikiran saya langsung berkreasi. Mulailah saya mencari cangkang-cangkang kerang yang bentuk dan warnanya menarik, beberapa raup pasir dan menyimpannya untuk membuat sebuah karya untuk kekasihku. Sampai di rumah, segera saya rangkai menjadi kartu ucapan yang indah baginya.

Masa penantian menuju hari pernikahan, pasti masa yang indah. Banyak hal bisa dikreasikan. Mencipta karya-karya menawan, ada puisi, ada lagu, ada film, ada buku, ada candi bahkan diciptakan karena cinta.

Apa yang kamu mau buat untuk cinta? Ciptakan keindahan jangan kehancuran.

Dikutip dari : https://datinginsightindonesia.wordpress.com/2014/11/20/strategi-menjaga-kekudusan-seksual-di-masa-pacaran/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here