Melihat ke Dalam Diri

0
16

1 Raj. 21:1-16

Introspeksi merupakan sebuah peninjauan atau koreksi terhadap segala perbuatan & kelemahan diri sendiri. Intro artinya dalam dan specartinya melihat. Melihat ke dalam diri adalah sesuatu hal yang penting khususnya dalam kebajikan Kristen. Kita perlu introspeksi diri di hadapan Tuhan. Kita semua mengenal kata introspeksi, tetapi kita juga perlu melakukan hal tersebut. Tuhan Yesus mengatakan, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.” Ini mengajarkan kita untuk introspeksi hidup. Alkitab banyak mengajarkan bagaimana kita melihat diri kita seperti apa. Devosi adalah ketika kita membaca Alkitab, kita mengaplikasikannya ke dalam diri apakah hidup sudah benar dan bijaksana, atau malah hidup salah dan tidak bijaksana. Apabila kita baca surat Paulus kepada jemaat Galatia mengenai buah Roh Kudus dengan cara devosi / introspeksi, maka kita membaca itu bukan sebagai informasi. Kita akan melihat diri kita apakah sudah memiliki kasih, damai Kristus, kesabaran, kebaikan, pengendalian diri, lemah lembut, dan berbagai macam hal lainnya. Hal berbahaya bagi kita yang sudah lama belajar teologi reformed adalah kita sudah tahu mana yang benar dan salah, tetapi tidak mempunyai buah Roh. Kita bisa mengetahui teologi yang tinggi tetapi tidak memiliki damai sejahtera. Ini adalah hal yang teraplikasi di dalam diri manusia. Apa yang kita tahu belum tentu kita lakukan. Ini adalah kebahayaan. Calvin katakan pelajaran yang utama adalah knowledge of God dan knowledge of self. Lao Tze mengatakan “Dia yang mengenal orang lain, dikatakan berbijaksana. Orang yang mengenal diri sendiri, mempunyai pengertian.” Ini adalah hikmat bagaimana kita bisa bersungguh-sungguh dalam pengenalan akan diri kita di hadapan Tuhan. Dari ayat yang kita baca kita melihat raja Ahab yang jahat dan kita akan belajar melihat ke dalam diri raja Ahab. Itu menjadi introspeksi bagi kita bahwa manusia berdosa seperti apa dan apa yang dilakukannya. Kita tahu Salomo memiliki satu kerajaan. Tetapi setelah kematian raja Salomo, timbullah perang saudara di dalam 12 suku Israel. Akhirnya membuat terpecah Israel Utara (Samaria) dan Israel Selatan (Yehuda). Kalau kita membaca 1 dan 2 Raja-Raja, raja kerajaan Utara adalah jahat di mata Tuhan. Tetapi raja yang jahat pun diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memerintah puluhan tahun. Kenapa seolah-olah Tuhan sangat baik terhadap yang jahat? Tuhan panjang sabarnya pada kerajaan Israel Utara. Sementara di kerjaan Israel Selatan ada raja yang benar di mata Tuhan dan ada juga yang jahat. Kita akan melihat empat karakter yang perlu dihindari dari raja Ahab.

Karakter pertama, di ayat kedua. Kita melihat Ahab memiliki ego yang tinggi. Ahab tidak kekurangan apapun. Tetapi egonya tidak terpenuhi maka dia stres. Kenapa Ahab ingin mengambil kebun anggurnya Nabot? Dia memikirkan kepentingannya sendiri. Padahal Ahab adalah raja yang seharusnya memikirkan kepentingan rakyat. Alkitab mengatakan akar segala dosa adalah cinta diri. Kita yang sudah ditebus akan dimuridkan oleh Kristus. Pemuridan Kristus adalah proses yang tak pernah habis untuk menjadi serupa dengan Kristus untuk kepentingan orang lain. Ahab tidak mengerti ini. Ahab kalah dengan keinginannya. Ahab mempunyai seluruh kerajaan tetapi dia ingin memiliki satu kebun anggur milik Nabot. Ini adalah hal yang lumrah. Ahab juga tahu kalau mengambil secara paksa maka akan merugikan Nabot. Maka dia tawarkan kebun anggur yang lain. Kalau perlu bayar uang. Karena Ahab ingin menjadikan kebun itu kebun sayur. Memang saat itu kebun anggur adalah mata pencaharian yang umum. Kebun anggur akan dirawat dengan baik. Kebun anggur bisa membuat orang sukacita atau dukacita. Lambang kesejateraan orang-orang waktu itu. Nabot menolak Ahab karena kebun itu adalah warisan turun temurun keluarganya. Ahab sudah melanggar perintah kesepuluh. Ahab tidak bisa mengendalikan egonya. Keinginan ini juga yang menjadi akar dosa Adam dan Hawa. Mereka tidak bisa mengendalikan keinginannya untuk mencoba buah yang dilarang. Keinginan ini harus kita kendalikan. Tetapi bukan berarti kita tidak boleh menginginkan sesuatu.

Karakter kedua, di ayat 22, kita melihat Ahab menimbulkan sakit hati Tuhan karena dosa. Kenapa Ahab dikatakan pembuat sakit hati Tuhan, tetapi Daud yang juga membunuh diampuni dosanya? Bahkan Daud dikatakan orang yang berkenan di hati Tuhan. Bukankah kitab Roma mengatakan semua manusia sudah jatuh dalam dosa? Semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Yang membedakan adalah kualitas dan kuantitas dosa raja Ahab. Nama Yerobeam juga disebutkan berkali-kali sebagai pembuat sakit hati Tuhan. Mengerikan sekali kalau nama orang sudah diingat sebagai pembuat sakit hati Tuhan. Pastilah dia sudah melakukan dosa yang sangat besar. Apa yang dilakukan oleh Yerobeam bin Nebat? Ketika kerajaan Salomo begitu besar, Yerobeam berusaha memberontak menghancurkan Salomo. Dia juga pernah membuat dua lembu jantan dari emas. Harun saja membuat satu patung lembu emas, sedangkan Yerobeam membuat dua. Yerobeam berkata kepada umat Israel untuk tidak perlu lagi beribadah ke Yerusalem. Beribadah saja kepada patung-patung tersebut. Ini merupakan perkataan yang sangat mengerikan. Yerobeam berbuat dosa dan membuat bangsa Israel berdosa dengan menyembah berhala. Baesa bin Ahia memerintah Israel dan melakukan apa yang jahat di mata Tuhan dan hidup menurut tingkah laku Yerobeam bin Nebat. Mereka sama-sama membawa umat Israel untuk beribadah kepada allah lain. Apa yang dilakukan raja Ahab dapat kita baca di 1 Raja-Raja 16:30-33. Pdt. Antonius pernah berkata bahwa gereja Tuhan adalah biji mata Tuhan. Raja Ahab membawa umat Israel menyembah allah lain. Berarti Ahab sedang macam-macam dengan umat Tuhan. Ibaratnya Tuhan berkata “Jika kamu macam-macam dengan biji mata-Ku, maka lihat akibatnya. Lalu ditingkatkan lagi dikatakan bahwa gereja adalah tubuh Kristus. Jika kamu mencari masalah dengan tubuh-Ku, maka kamu akan berhadapan dengan kepala yaitu Aku sendiri. Lalu ditingkatkan lagi bahwa gereja adalah kekasih hati Tuhan. Jika kamu macam-macam dengan pasangan-Ku maka berhadapan dengan Aku sendiri. Tuhan marah dan menghukum Ahab dan mengatakan Ahab pembuat sakit hati Tuhan. Tuhan bisa menghukum bukan saja Ahab, tetapi juga keturunannya. Pada akhirnya Ahab minta ampun dan merasa bersalah dan Tuhan memberikan pengampunan. Maka malapetaka akan diberikan kepada keturunan Ahab.

Sekarang kita lihat diri kita apakah sebagai pembuat orang lain melakukan dosa. Di sini kita melihat satu contoh yaitu istri Ahab sendiri yaitu Izebel yang terus membawa suaminya untuk memberontak kepada Tuhan. Sebenarnya Ahab tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia hanya bisa kesal ketika Nabot menolak menjual kebun anggurnya. Tetapi Izebel menganjurkan hal yang membuat Ahab dan seluruh bangsa Israel berdosa. Bahkan tua-tua dan pemuka-pemuka di Samaria melakukan dosa kepada Nabot. Izebel menuliskan surat atas nama Ahab memerintahkan tua-tua dan pemuka-pemuka untuk menyuruh dua orang dursila mengucapkan saksi palsu sehingga Nabot tidak mempunyai waktu membela diri. Nabot dilempari batu oleh seluruh rakyat yang tidak tahu persis apa kejadian sebenarnya. Ini adalah hal yang mengerikan. Sampai kematian Izebel begitu mengerikan. Dia dilempar dari atas kemudian darahnya dijilat oleh anjing.

Bagaimana sikap hidup kita? Ini senada dengan pertanyaan para murid dan jawaban Yesus Kristus. Para murid bertanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, haus, sebagai orang asing, telanjang, sakit, atau dalam penjara, dan kami tidak melayani Engkau? Jawaban Yesus: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu tidak lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Perbuatan baik yang kita lakukan kepada orang lain, itu secara tidak langsung kita lakukan kepada Kristus. Kita harus saling melayani, jangan sampai orang lain berdosa. Inilah gereja. Kta harus berpikir dalam pola tubuh Kristus untuk saling melengkapi, melayani, dan mengasihi. Demikian juga setiap departemen yang ada di gereja ini saling mendukung. Bukan saja hamba Tuhan yang terus memberitakan firman tetapi orang lain juga bisa memberitakan firman. Maka kita adakan KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) agar firman disebarkan supaya kita bisa sama-sama saling melayani. Inilah wujud mengasihi orang lain atau membawa orang tidak jatuh dalam dosa melainkan ketaatan kepada Tuhan.

Karakter ketiga dari Ahab di ayat 25 yang merupakan sindiran tajam bahwa tidak ada orang yang seperti Ahab, tetapi bukan yang baik melainkan yang jahat. Ahab dikatakan sebagai seseorang yang memperbudak diri. Manusia pada naturnya adalah cenderung melakukan dosa. Budak itu melakukan apapun yang diinginkan oleh tuannya. Tuannya Ahab adalah dirinya sehingga dia melakukan apa yang diinginkan oleh natur manusia berdosa. Dia digoda oleh istrinya untuk melakukan dosa dan yang mengerjakan di belakangnya adalah iblis. Ordo di dalam keluarganya terbalik. Izebel yang mengatur suaminya. Yang lebih parah istrinya adalah penyembah berhala. Kita tidak terlepas dari kemungkinan diperbudak oleh keinginan kita. Kita harus belajar mengendalikan diri.

Karakter keempat di ayat 26. Ahab berlaku sangat keji dengan mengikuti berhala-berhala. Ini menunjukkan Ahab adalah penentang Allah. Apakah kita seperti Ahab, menyembah berhala? Pasti kita jawab tidak karena rajin beribadah, saat teduh, dan berdoa. Tetapi di dalam kepercayaan diri seperti itu kita bisa terjebak. Orang merasa memuja Allah yang benar, tetapi ternyata Allah katakan kamu adalah pembuat jahat. Kamu bisa melakukan mujizat dan injil, tetapi Allah yang menentukan pengenalan diri orang tersebut kepada Tuhan. Di dalam Yer 17:9 dikatakan: Saya mempunyai berhala, tetapi saya anggap diri saya tidak ada berhala. Nabi Yeremia bicara soal hati. Kita bisa berkata kita memuja Allah yang benar dan sikap hidup kita benar, tetapi kita sedang ditipu oleh hati kita sendiri. Maka kita introspeksi bukan hanya diri kita saja melainkan melibatkan Tuhan. Kalau hanya berhenti di introspeksi diri tanpa bergantung kepada Tuhan, maka kita akan menghakimi diri dengan hati yang menipu, dengan standar penilaian yang sangat subjektif. Yang sudah memiliki pasangan (suami/istri) bisa dikatakan berbahagia karena ketika kita introspeksi diri, maka pasangan kita akan mengintrospeksi kita juga. Ketika itu terjadi, maka kita harus belajar menahan diri. Kita sudah membohongi hati kita bertahun-tahun sampai harus ada orang yang memberitahu bahwa kita salah. Berbahagialah kalau kita mempunyai persekutuan yang kuat di dalam gereja yang saling menasehati. Menasehati pun butuh bijaksana. Merupakan kelemahan manusia berdosa bahwa hati kita bisa menipu hati kita sendiri. Pemazmur mengatakan: Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan, bebaskanlah aku dari apa yang tidak aku sadari. Ini adalah pertanyaan retorik. Hati kita pun belum tentu bisa mengetahui jalan yang benar. Maka kita butuh Kristus untuk menyatakan kebenaran kepada kita. Pemazmur juga mengatakan: Ujilah aku, ya Tuhan. Selidikilah hatiku dan batinku. Kenalilah pikiranku. Pemazmur memohon demikian karena hati ini menipu. Orang yang menganggap diri benar, bisa dianggap salah oleh Tuhan. Orang yang menganggap diri salah, bisa dianggap benar oleh Tuhan.

Mahatma Gandhi dan seorang ibu yang miskin dengan anak laki-lakinya. Ibu ini ingin menerima solusi dari Gandhi agar anaknya berhenti makan gula. Ibu ini berjalan selama satu minggu untuk bisa bertemu Gandhi. Guru besar yang penuh belas kasihan ini terdiam sejenak ketika ditanya. Lalu dia berkata: Pergilah dan datanglah kembali ke sini satu minggu lagi. Ibu itu kebingungan. Satu minggu kemudian ibu itu memberanikan diri bertanya kenapa dalam kunjungan pertama, Gandhi tidak bertanya apa-apa. Gandhi menjawab bahwa sampai minggu dia juga makan terlalu banyak gula. Jadi Gandhi sadar. Pertama-tama kita perlu memperbarui diri dulu, baru kita bisa perbarui orang lain. Ini hal yang sangat sulit. Dari 2 Kor. 13:5 kita melihat bahwa jika tidak dibawa ke dalam diri maka kita akan melupakan karena terlalu fokus kepada yang lain. Tetapi ketika sudah melihat diri, hal kedua yang perlu dilakukan adalah melihat ke dalam diri Kristus. Dimulai dengan pertanyaan: Apakah pelayanan saya, pernikahan saya, relasi saya dengan keluarga, sudah baik di hadapan Tuhan? Alkitab mengatakan pelayanan itu memuliakan Kristus senantiasa. Pdt. Stephen Tong juga pernah mengatakan: Apabila kamu terlihat hebat dengan pelayananmu, maka kamu telah gagal. Seharusnya Kristus yang terlihat hebat melalui pelayananmu. Kemudian berikutnya relasi yang paling intim di dalam seluruh hidup manusia adalah pernikahan. Kita perlu introspeksi kenapa sulit intim dengan pasangan kita. Tim Keller mengatakan: Hai laki-laki, kamu tidak akan bisa menjadi mempelai yang baik bagi istrimu jika kamu tidak menjadi pengantin yang baik bagi Yesus Kristus. Lalu di dalam relasi keluarga Alkitab memerintahkan anak-anak untuk menghormati ayah dan ibu.

Melihat ke dalam diri sudah baik, tetapi yang lebih penting lagi melihat ke dalam diri Kristus. Manusia itu bobrok, penuh kelemahan, tidak ada pengharapan. Ketika melihat diri Tuhan, Tuhan telah mengatakan tidak ada dosa yang terlalu besar yang tidak bisa diampuni Tuhan. Manusia berharga di mata Tuhan. Kita bisa menyembunyikan dosa dan orang lain tidak tahu, tetapi tidak ada dosa terlalu kecil yang tidak bisa dilihat Tuhan. Tuhan Mahahadir. Dunia mengatakan kalau kita mau sukses maka kita harus mendapatkan sesuatu. Tetapi apakah ketika kita mempunyai kekayaan maka kita berhasil di mata Tuhan? Tidak tentu. Alkitab memberikan jawaban lain. Alkitab justru mengatakan tidak perlu melakukan atau mendapatkan sesuatu, kita sudah diterima oleh Tuhan. Karena Tuhan Yesus sendiri yang sudah melakukannya demi kita. Kita tidak diminta melakukan melebihi kapasitas kita melainkan mengikuti Kristus dengan senantiasa. Lakukan dengan sungguh-sungguh apa yang Tuhan percayakan pada kita.

Kita sudah melihat Ahab memiliki ego yang tinggi, pembuat sakit hati Tuhan, melakukan hal  keji, membuat orang menyembah berhala-berhala lain, dan juga memperbudak diri. Kiranya kita tidak demikian. Kalau dibandingkan Ahab, saya yakin kita bisa berkata bahwa kita tidak sebobrok Ahab. Tetapi hati-hati bahwa hati ini bisa menipu. Kiranya kita bisa melihat diri dari kacamata Tuhan ketika kita melihat diri Kristus. Adakah Yesus berkuasa dalam hati kita? Adakah Roh Kudus menyertai kita? Kita bisa mengatakan iya. Tetapi kita harus terus berhati-hati. Robert Murray mengatakan “Setiap kali kamu melihat kepada dirimu sendiri, maka kamu perlu sepuluh kali melihat kepada Kristus.” Kalimat mengenai introspeksi diri ini sangat terkenal. Kalau hanya melihat diri, maka bisa salah. Inilah yang membuat orang bunuh diri, mudah menyerah, dan memaki Tuhan. Setiap hari kita pasti memikirkan tentang diri kita. Melihat ke dalam diri itu baik, tetapi lebih baik kalau kita melihat ke dalam diri Tuhan untuk tahu seperti apa kita di hadapan Tuhan. Kiranya kita boleh sungguh-sungguh memahami hal ini. Ini adalah hal yang dasar sekali. Doktrin manusia dan dosa. Kiranya kita mau dipakai Tuhan untuk pekerjaan Tuhan yang besar.

Dikutip dari : http://grii-semarang.org/melihat-ke-dalam-diri-3-september-2017/

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here