KEGAGALAN YANG BERHASIL

0
30

Alkitab mencatat kisah kegagalan Petrus dalam mengiring Tuhan Yesus Kristus. Tiga kali Petrus menyangkal bahwa ia tidak mengenal siapa Yesus ketika orang-orang mengatakan bahwa ia adalah salah satu dari pengikut Yesus. Setelah ia menyangkal Yesus tiga, pada saat itulah ayam berkokok. Maka Petrus ingat akan apa yang dikatakan Yesus sebelumnya kepada dia. Perasaan dan emosi Petrus bercampur baur, rasa bersalah, rasa sudah gagal, malu, kecewa dan semua rasa penyesalan lainnya berpadu dalam diri Petrus.

Petrus pun menangis. “Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali”. Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya” – Matius 26:75. Tangisnya itu membawa ia kepada kesadaran bahwa dengan kekuatannya sendiri ia tidak mampu menghadapi tantangan dan tekanan kehidupan – Matius 26:69-74.

Dalam hidup kita, sebagian besar dari kita pernah mengalami beragam pengalaman yang bisa dikategorikan sebagai kegagalan. Dalam situasi dan kondisi semacam itu, rasa frustrasi, terluka, kecewa dan sebagainya merupakan perasaan yang biasa kita alami. Akibatnya, banyak orang takut gagal.

Hal ini disebabkan oleh karena pemahaman dan pengertian kita yang salah terhadap kegagalan. Ada kalanya kegagalan yang nyata bukan kegagalan sama sekai bila kita mengingat prinsip yang mengubah kegagalan menjadi keberhasilan. Apa yang dimaksudkan kegagalan yang berhasil itu?

  1. Kegagalan yang mendorong kita untuk terus berusaha

Inilah yang dinamakan kegagalan yang berhasil. Artinya, melalui kegagalan yang kita alami memotivasi kita untuk terus berusaha, berjuang, bekerja lebih cerdas, melakukan perbaikan dan menciptakan terobosan baru demi meraih tujuan hidup kita.

Pemazmur menegaskan demikian: “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya” – Mazmur 37:23-24. Orang benar itu bisa gagal. Orang benar itu bisa mengalami keadaan yang buruk. Orang benar itu bisa mengalami masalah dalam hidup. Namun, semua itu tidak akan pernah membuat orang benar itu tergeletak. Dalam pertolongan Tuhan, orang benar itu bisa bangkit, bangun kembali dan berjuang lagi serta memperbaiki hidupnya lagi.

  1. Kegagalan yang membuat kita untuk belajar hal baru

Pengalaman adalah guru yang baik. Kegagalan adalah kurikulum terbaik dalam hidup kita. Dikatakan demikian, karena dari dalamnya kita bisa belajar tentang sesuatu bagi kehidupan kita. Ada kalanya kegagalan membuka pengetahuan baru bagi kita untuk melakukan sesuatu jauh lebih baik dari yang terdahulu. Melalui kegagalan kita bisa menemukan jalan yang baru untuk memasuki masa depan yang lebih baik. Melalui kegagalan, kita mengambil keuntungan yang luar biasa. Sehingga melalui kegagalan kita akan bersyukur karena ada hal indah yang kita peroleh. Inilah yang dimaksudkan dengan kegagalan yang berhasil.

Yesus dalam undangan-Nya berkata demikian: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlag pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” – Matius 11:28-29. Yesus tahu bahwa kita mudah lemah, mudah jatuh dalam dosa, mudah mengalami kegagalan dalam hidup. Itu sebabnya, Dia mengajak dan mengundang kita untuk datang kepada-Nya saat kita mengalami kegagalan. Maka Dia sendiri yang akan memberikan kelegaan kepada kita. Yesus juga akan mengajar kita bagaimana hidup dalam kelemah lembutan dan rendah hati. Melaluinya kita akan melihat kemenangan dan keberhasilan dalam hidup ini. 

  1. Kegagalan yang membantu kita untuk mengenal siapa kita sebenarnya

Dalam biografi para laki-laki dan perempuan yang sukses dalam hidup menunjukkan bahwa orang yang berhasil mengawali kehidupan dengan kegagalan dan karena mereka gagal, mereka menemukan dan mengenal diri secara benar. Visi hidup mereka menjadi jelas. Motivasi hidup mereka dimurnikan. Gaya hidup rendah hati mereka kembangkan. Jadi, kegagalan membantu kita mengenal diri kita dan menolong kita untuk mengenal bakat kita. Dengan demikian, kita bisa mempersembahkan sebaik-baiknya bagi Tuhan. Di sinilah kegagalan bisa disebut sebagai keberhasilan.

  1. Kegagalan yang membuat kita semakin disiplin

Dalam semua Kitab Suci (Alkitab), banyak dibicarakan dan ditemukan tentang pentingnya kehidupan yang berdisiplin. Orang-orang yang hebat pernah menenun kegagalan, perjuangan dan disiplin ke dalam kehidupan mereka.

Jika pengalaman kita dalam hidup, bagaimana pun pahit atau malang, dapat melembutkan hati, merendahkan roh, memurnikan motif, menyucikan jiwa, dan membuat kita lebih sensitif terhadap nilai-nilai yang benar dan lebih simpati terhadap yang kurang beruntung, maka kita akan berhasil.

Singkatnya, jika kita menggunakan apa yang disebut kegagalan sebagai alat untuk mendisiplinkan jiwa, maka itu bukan kegagalan tetapi keberhasilan. Baca juga materi khotbah ini: LADANG SUDAH MENGUNING SIAP DITUAI.

dikutip dari : https://kumpulankhotbahalkitabiah.blogspot.com/2015/03/kegagalan-yang-berhasil.html

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here