Cara Mengembangkan Potensi Diri Dalam Tuhan

0
76

Cara mengembangkan potensi diri dalam Tuhan – Alkitab menegaskan bahwa kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Nabi Musa di kitab Kejadian menulis tentang hal itu demikian: “Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi”. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” – Kejadian 1:26-27.

Berdasarkan firman Tuhan tersebut kita melihat bahwa manusia diberi potensi diri oleh Allah untuk menaklukkan ciptaan yang lain. Namun, karena dosa, potensi diri manusia menjadi terpendam. Dosa menghambat manusia mengenali dan mengembangkan potensi dirinya. Itu sebabnya, manusia mencari cara mengembangkan potensi diri dalam Tuhan agar bisa melaksanakan mandate yang Allah berikan kepadanya. Potensi diri yang terpendam harus digali dan diasah agar berkembang secara optimal dan menjadi berkat bagi banyak orang. Berikut ini akan disajikan beberapa cara mengembangkan potensi diri dalam Tuhan yang bisa dilakukan.

 

  1. Memperluas wawasan.

Mengembangkan potensi diri dimulai dengan memperluas wawasan kita. Bagaimana caranya? Kita harus mengenal Allah Sang Sumber pengetahuan. Alkitab menegaskan bahwa takut akan Allah dan mengenal Yang Mahatinggi merupakan wawasan yang harus kita miliki karena itulah landsan bagi pengetahuan kita secara rohani.

Penulis kitab Amsal menulis demikian: “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan” – Amsal 1:7. Kita harus memandang kehidupan ini dengan mata iman. Dan menyemangati diri kita bahwa bersama dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa. Pemazmur menegaskan hal itu demikian: “Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita” – Mazmur 60:14.

 

Selain itu, untuk memperluas wawasan kita juga harus belajar atau mempelajari ilmu pengetahuan yang akan melengkapi kita di dalam menjalankan peran kita di bumi ini. Anda harus memiliki gambaran mental yang jelas tentang apa yang akan Anda raih. Gambaran ini harus menjadi bagian dari dirimu, di dalam benakmu, dalam percakapanmu, meresap ke pikiran alam bawah sadarmu, dalam perbuatanmu dan dalam setiap aspek kehidupanmu.

Rasul Petrus dalam suratnya menulis demikian: “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,… Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil …” – 2 Petrus 1:5, 8.

 

  1. Mengembangkan gambar diri yang sehat.

Dalam perspektif Allah setiap kita sangat berharga di mata-Nya. Tetapi karena dosa manusia kehilangan pengenalan diri yang benar kepada dirinya. Akibatnya, potensinya tidak berkembang. Penulis kitab Ayub menegaskan hal itu demikian: “Apakah gerangan manusia, sehingga dia Kauanggap agung dan Kau perhatikan, dan Kau datangi setiap pagi, dan Kauuji setiap saat?” – Ayub 7:17-18.

Itu artinya Anda harus melandasi gambar dirimu di atas apa yang Tuhan katakan tentang Anda. Keberhasilanmu meraih tujuan sangat tergantung pada bagaimana Anda memandang dirimu sendiri dan apa yang Anda rasakan tentang dirimu. Sebab hal itu akan menentukan tingkat kepercayaan diri Anda dalam bertindak. Fakta menyatakan bahwa Anda tidak akan pernah melesat lebih tinggi dari apa yang Anda bayangkan mengenai dirimu sendiri.

 

  1. Temukan kekuatan dibalik pikiran dan perkataanmu.

Target utama serangan musuh adalah pikiranmu. Ia tahu sekiranya ia

berhasil mengendalikan dan memanipulasi apa yang Anda pikirkan, maka ia

akan berhasil mengendalikan dan memanipulasi seluruh kehidupanmu.

Pikiran menentukan perilaku, sikap dan gambar diri. Pikiran menentukan tujuan.

Alkitab memperingatkan kita untuk senantiasa menjaga pikiran. Penulis kitab Amsal menulis demikian: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” – Amsal 4:23.

Hati merupakan inti dan pusat dari pikiran, perasaan dan kehendak. Dari hatilah segala sesuatu dimulai. Itu sebabnya bila hati tidak dijaga dengan baik, akan menyebabkan terhambatnya semua potensi diri, sehingga membuat hidup tidak berdaya. Tetapi sebaliknya dengan menjaga hati yang adalah pusat pikiran, perasaan dan kehendak, maka potensi diri akan berkembang sehingga memancarkan kehidupan.

 

  1. Lepaskan masa lalu, biarkanlah ia pergi.

Setiap orang memiliki masa lalu, baik masa lalu yang menyenangkan maupun masa lalu yang menyakitkan. Biasanya sulit bagi kita untuk melupakan masa yang gelap, yang pahit, yang menyakitkan dan menyedihkan.

Akibatnya banyak orang hidup dalam baying-bayang masa lalu itu, sehingga potensi dirinya tidak berkembang. Rasul Paulus menulis tentang meninggalkan masa lalu dalam suratnya kepada jemaat di Filipi demikian: “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” – Filipi 3:13-14.

 

Anda mungkin saja telah kehilangan segala yang tidak seorangpun patut mengalaminya

dalam hidup ini. Jika Anda ingin hidup berkemenangan , Anda tidak boleh memakai

trauma masa lalu sebagai dalih untuk membuat pilihan-pilihan yang buruk saat ini.

Anda harus berani tidak menjadikan masa lalu sebagai alasan atas sikap burukmu

selama ini, atau membenarkan tindakanmu untuk tidak mengampuni seseorang.

 

  1. Temukan kekuatan di dalam keadaan yang paling buruk.

Terkadang keadaan yang buruk membuat kebanyakan orang menjadi takut, pesimis dan patah semangat serta panik. Itulah yang terjadi dalam hidup banyak orang termasuk orang Kristen. Bujang atau pelayan dari Elisa ketika menghadapi keadaan yang buruk, ia begitu panik.

Ia mengatakan demkian kepada Elisa: “Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: “Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?” 2 Raja-Raja 6:15. 

Kita harus bersikap: “Saya boleh saja terjatuh beberapa kali dalam hidup ini, tetapi saya tidak akan terus tinggal di bawah sana.” Kita semua menghadapi tantangan dalam hidup ini . KIta semua pasti mengalami hal-hal yang datang menyerang kita. Kita boleh saja dijatuhkan dari luar, tetapi kunci untuk hidup berkemenangan adalah belajar bagaimana untuk bangkit lagi dari dalam.

Elisa membangkitkan kembali keberanian dari bujang atau pelayan.Elisa menegaskan demikian: “Jawabnya: “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.” Lalu berdoalah Elisa: “Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.” Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa” – 2 Raja-Raja 6:16-17. O

 

Dalam keadaan terburuk yang dialami oleh Elisa dan bujangnya, Elisa menujukkan bahwa ia menemukan kekuatan di balik keadaan paling buruk yang dihadapi mereka. Kekuatan yang ditemukan dalam keadaan terburuk yang bisa dilakukan yaitu:

1) Berdoa. Elisa berdoa kepada Tuhan untuk membukakan mata bujangnya.

Jika kita ragu dan khawatir, bawa keraguan dan kekhawatiran kita pada Tuhan dan minta Tuhan untuk membukakan mata ‘rohani’ kita akan pertolonganNya yang sudah tersedia bagi kita.

2) Meminta dukungan mentor rohani. Bujang Elisa datang pada Elisa dan menceritakan kekhawatirannya. Selain berdoa kepada Tuhan, kita juga bisa mencari dukungan doa dari anak-anak Tuhan yang Tuhan tempatkan di sekitar kita. Jadi, ketika masalah datang, ketakutan menghantui, jangan jauhkan diri dari persekutuan dengan anak-anak Tuhan. Mendekatlah dan minta dukungan doa.

Apa yang Tuhan kerjakan untuk kita?
1) Penyertaan-Nya. Tuhan membukakan mata rohani kita akan penyertaanNya, sehingga kita bisa melihat dan merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita (misalnya: melalui orang-orang di sekitar kita, kejadian-kejadian di sekitar kita)

2) Porsi Masalah sebenarnya. Tuhan mencelikkan mata kita akan porsi masalah yang sebenarnya–Bersama Tuhan tak ada masalah yang tak bisa teratasi. Bersama Tuhan tak ada kesulitan  yang tak bisa diselesaikan. Tuhan juga mencelikkan mata kita akan talenta dan kemampuan yang Tuhan berikan pada kita untuk mengatasi masalah tersebut.

3) Pertolongan. Kita akan melihat bahwa Tuhanlah yang berperang ganti kita. Kita berdiam diri saja menantikan hikmat dan pertolongan Tuhan serta melakukan bagian kita. Untuk hal-hal yang tidak bisa kita lakukan, Tuhan mengirim pertolongan dan penolong bagi kita.

4) Hikmat. Tuhan akan memberikan kita hikmat untuk melangkah sejalan dengan kehendakNya. Tuhan akan memberikan kita hikmat untuk mengambil keputusan yang sesuai dengan rencananya. Hikmat Tuhan akan membimbing kita dan memampukan kita untuk melakukan yang terbaik (karena rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan). Jadi, jika saat ini Anda dan saya sedang terbelenggu rasa takut, jangan tinggal lama dalam ketakutan.  Bangkit dan serahkan rasa takut kita pada Tuhan dan cari hadiratNya. Saat ini juga Tuhan berkata kepada Anda dan saya: “Jangan Takut. Aku akan menolongmu!”

 

  1. Memberi dengan sukacita. 

Salah satu tantangan terbesar yang kita hadapi adalah godaan untuk hidup mementingkan diri sendiri. Sebab kita tahu bahwa Tuhan memang menginginkan yang terbaik buat kita. Ia ingin kita makmur, menikmati kemurahan-Nya dan banyak lagi yang Ia sediakan buat kita, namun kadang kita lupa dan terjebak dalam perilaku mementingkan diri sendiri. Sesungguhnya kita akan mengalami lebih banyak sukacita dari yang pernah dibayangkan apabila kita mau berbagi hidup dengan orang lain.

 

Berkaitan dengan memberi dengan sukacita, rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di kota Korintus menulis demikian: “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan” – 2 Korintus 9:6-8.

 

Tuhan dalam anugerah-Nya yang melimpah telah mengaruniakan potensi kepada kita untuk memperoleh berkat dalam hidup kita. Baik melalui usaha dan juga pekerjaan kita. Tuhan memberkati kita dengan tujuan supaya kita bisa menjadi berkat kepada orang lain dan juga bagi pekerjaan Tuhan.

 

Dikutip dari : https://kumpulankhotbahalkitabiah.blogspot.com/2015/05/cara-mengembangkan-potensi-diri-dalam.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here