3:34 pm - Saturday August 16, 6064

Satu Lebih Baik Dari Dua

garamdunia.comMARKUS 9:43 LEBIH BAIK BUNTUNG

Dua tangan dan satu tangan, tentu lebih baik dua tangan. Dengan satu tangan itu segala perbuatan kita sangat terbatas, mungkin yang bisa kita perbuat tinggal 25 persen, 75 persen pekerjaannya tidak lagi bisa diperbuat apalagi kalau tidak latihan khusus. Tetapi Firman Tuhan berkata dengan satu tangan masuk Surga lebih baik daripada dua tangan masuk Neraka. Mengapa? Sebab yang dimaksud di sini dua tanpa salib itu lebih jelek daripada satu dengan salib. Kalau dua dengan salib tentu ini lebih baik daripada satu dengan salib. Yang penting di sini ada salib, sebab tanpa salib tidak bisa jadi murid dan tidak bisa ikut Tuhan Yesus Luk 9:23. Yang penting ada salibnya, ada penyangkalan diri.

Tangan = perbuatan. Dalam perbuatan kita harus ada penyangkalan diri, sebab tanpa penyangkalan diri maka segala perbuatan kita akan penuh dengan hawa nafsu kedagingan, sebab manusia itu condong pada dosa Yoh 3:19. Sekalipun sudah lahir baru dan sudah ditebus, orang dalam sudah jadi baru, tetapi tanpa penyangkalan diri, daging (orang luar) dilazatkan, maka hawa nafsu akan bertambah kuat Rom 13:14, sehingga orang itu akan berbuat banyak dosa karena menuruti hawa nafsunya. Kalau menyangkal diri, maka banyak perbuatan daging tidak jadi dilakukan, sisa hanya perbuatan yang berkenan pada Tuhan, sebab perbuatan-perbuatan daging dipotong dan dibuang. Kalau Akhan, Daud, Gehazi, Yudas, dll mau memotong semua perbuatan-perbuatan menuruti daging, maka mereka tidak akan berdosa dan tidak sampai masuk Neraka kekal. Harus mau buntung (secara rohani), memang rugi bagi daging, dipotong, tetapi selamat, sebab sisanya adalah perbuatan-perbuatan yang benar dan berkenan pada Tuhan, bahkan hal-hal ini bisa makin banyak.

Inilah yang dimaksudkan dengan buntung di sini, yaitu sisa perbuatan-perbuatan yang cocok dengan Firman Tuhan. Bagi dunia orang seperti ini buntung, sebab tidak ikut dalam perbuatan-perbuatan dosa menuruti hawa nafsunya, mereka diumpat sebagai orang buntung 1Pet 4:4. Orang-orang beriman itu ganjil, aneh, buntung di hadapan orang-orang dunia, mengapa ada kesempatan yang nikmat bagi daging, tidak dipakai seperti orang buntung saja. Tetapi ini yang selamat di hadapan Allah. Sebab itu orang-orang beriman harus mengerti baik-baik dan ingat, lebih baik buntung, tidak mau, tidak bisa, tidak berbuat perbuatan-perbuatan yang menuruti nafsu kedagingan tetapi hidup benar dan berkenan pada Tuhan, masuk dalam Kerajaan Surga, daripada limpah dengan segala perbuatan dosa dan masuk neraka.

Buntung itu adalah:

1. Tidak ada reaksi dosa.

Orang dunia langsung membalas segala perbuatan jahat yang diterimanya. Untuk dunia ini tidak salah sebab mereka dijahati leibh dahulu tetapi belum tentu mereka berhasil membalas, apalagi kalau musuhnya lebih kuat. Kadang-kadang mereka terpaksa menahan diri dan jadi dendam.

Tetapi orang beriman yang mau menyangkal diri dan taat akan Firman Tuhan Rom 12:21, 19, mereka buntung, tidak ada pembalasan dan juga tidak dendam, dalam hatinya pun tidak ada pembalasan, ini lebih untung sebab hidupnya tetap suci dan tidak masuk neraka. Orang-orang beriman harus menyangkal diri, dengan Tuhan pasti bisa!!

2. Lazarus buntung.

Orang kaya itu limpah dengan segala perbuatan melazatkan daging, ia bebas menuruti daging, pesta pora, berzinah, menuruti keinginan mata dan hidup jemawa, limpah dengan segala perbuatan hawa nafsu daging.

Mungkin juga ada amal dan perbuatan-perbuatan baik untuk menenangkan perasaan hati dan menipu diri sendiri dan orang lain, tetapi itu sia-sia, sebab dosa tidak boleh masuk Surga Wah 21:27. Lazarus sebab terlalu miskin (pengemis) tidak bisa melakukan satupun dari perbuatan-perbuatan orang kaya itu, tetapi juga di dalam hatinya ia tidak mau berbuat, sehingga ia benar di hadapan Tuhan bahkan setingkat dengan Abraham. Ada orang miskin, lemah, tidak berdaya, tidak bisa berbuat perkara-perkara dosa seperti orang-orang yang kaya, yang kuat, yang punya kesempatan, tetapi dalam hatinya ia ingin berbuat. Orang seperti ini sama saja dengan orang-orang yang berbuat, sebab hatinya penuh dosa dan satu kali kalau ada kesempatan mereka akan berbuat sesuai dengan kemampuan atau kesempatan yang didapatnya dan mereka bukan orang buntung yang selamat, tetapi orang-orang berdosa.

Buntung itu sampai dalam hati, suci di hadapan Tuhan Maz 51:8. Orang yang sudah lahir baru kalau mau pasti bisa disucikan sampai dalam hatinya (ingat cerita kera yang tidak bisa melepaskan genggaman kacangnya).

Orang dunia tidak mungkin lepas dari dosa sebab dikuasai hukum dosa dan maut, tetapi orang baru bisa kalau mau Fil 4:13.

3. Herodes dan Yohanes Pembaptis

Herodes bisa membatalkan sumpahnya meskipun malu di hadapan tamu-tamunya, meskipun dengan demikian ia menjadi buntung, tetapi Herodes tidak mau buntung di hadapan manusia dan ia melakukan perbuatan yang keji (membunuh Yohaens Pembaptis) dan binasa. Yohanes pembaptis menyerah. Sebetulnya ia bisa menggerakkan murid-murid dan orang banyak menghadap dan minta Herodes melepaskan dari penjara, apalagi kalau Yohanes menarik tuduhannya dari Herodes dan minta maaf. Tetapi Yohanes tetap berdiri benar di hadapan Tuhan, ia tetap melakukan kehendak Allah meskipun untuk itu ia banyak menderita Mat 11:7-11. Yohanes rela mati syahid dan tidak membalas, ia menderita karena kebenaran, inilah orang buntung.

Rasul-rasul juga adalah orang buntung yang tidak membalas dan tidak benci atau dendam. Bahkan Paulus waktu ditangkap di Filipi, ia seperti orang buntung, sebab menuruti Roh untuk jadi buntung (ia tidak memakai kedudukannya warga negara Roma), tetapi kemudian kuasa Allah bekerja. Ini semua orang-orang buntung di hadapan Tuhan, tetapi mereka yang punya Kerajaan Surga untuk kekal.

MARKUS 9:44, 46, 48 TASIK API YANG KEKAL

Neraka disini adalah Gehena yaitu tasik api yang kekal (Inggris: lake of fire).

Ini pertama kali dihumi oleh Antikris dan nabi palsu Wah 19:20 sesudah mereka ditangkap dalam perang Harmagedon. Sesudah Tahta Putih yang Besar, baru semua orang berdosa yang bangkit dan iblis dan semua tentaranya dilempar dalam Tasik api. Jadi orang-orang berdosa masuk dalam Neraka (rohnya saja) lalu sesudah bangkit dalam tubuh kebangkitan orang berdosa, mereka masuk dalam Tasik api yang kekal di mana:

1. Apinya tidak terpadamkan

Ini api siksaan untuk orang berdosa, mereka dibakar (dalam tubuh kebangkitan), sehingga hangus dan sangat menderita, bisa merasakannya seperti manusia biasa tetapi tidak bisa mati 1Pet 4:6 dan asap siksaannya naik ke atas selama-lamanya Wah 14:11. Ini penderitaan yang dahsyat terus menerus untuk kekal tanpa bisa mati. Mereka tinggal seperti bangkai tetapi terus hidup Yes 66:24. Bangkai ini hidup dan tidak habis. Kalau tubuh manusia biasa akan habis jadi abu, tetapi ini tubuh kebangkitan yang tidak bisa habis, tidak bisa mati, tetap ada, begitu mengerikan. Tubuh orang beriman yang masuk Surga, itu tubuh kebangkitan yaitu tubuh kemuliaan yang tidak bisa sakit, menderita dan mati, seperti tubuh kebangkitan Kristus Flp 3:21. Sebaliknya tubuh kebangkitan orang berdosa itu bisa menderita sengsara, sakit tetapi juga tidak bisa mati sehingga menjadi suatu pemandangan yang ngeri sekali untuk kekal. Tetapi Tasik api ini dengan isinya dijauhkan dari Allah, begitu jauh, sampai keluar dari hati, tidak teringat lagi oleh Allah dan semua orang yang adadalam Surga Bumi baru Yes 65:17.

2. Ulatnya tidak bisa mati

Ini aneh, tetapi ada. Ulat ini menyiksa terus menerus (bahkan Herodes belum mati, masih hidup sudah dimakan ulat fana sampai mati dan kelak akan dilanjutkan dalam Tasik api Kis 12:33). Ini juga jadi hukuman orang-orang berdosa, sebab itu tampaknya jumlah ulat penyiksa ini sesuai dengan dosanya. Tapi heran, ulatnya tidak bisa mati. Mungkin dibuang bisa kembali lagi, digigit jadi dua, tidak mati mungkin bertambah jadi dua. Sebab itu Tuhan mengingatkan lebih baik buntung daripada utuh, limpah dengan perbuatan sesuka hatinya (menurut daging) tetapi masuk Gehena yang dahsyat. Bahkan orang-orang berdosa itu sudah menderita sejak di dunia, lalu dalam Neraka meningkat penderitaannya sampai puncak-puncaknya dalam Gehena.

Ini (api dan ulat) adalah sengsara pokok dalam Neraka, belum lagi ingatan yang menyiksa sama dahsyatnya juga, perkelahian, kebencian, keinginan yang tidak terpenuhi dll. Sungguh-sungguh neraka itu khusus tempat siksaan yang dahsyat dan kekal. Allah menawarkan Surga asal mau percaya pada kata-kata Allah, sehingga mau bertobat. Orang yang tidak bertobat, kalau diijinkan masuk ke dalam Surgapun akan berbuat dosa lagi sehingga Surga menjadi rusak lagi, dan mereka akan dihukum lagi, sebab itu sia-sia saja kalau diijinkan masuk Surga Yes 26:10. Ini sudah dibuktikan dalam Kerajaan 1000 tahun yang semata-mata suci diperintah langsung oleh Tuhan Yesus dan orang-orang yang kemudian memihak pada iblis (menjadi orang berdosa) tetap berdosa lagi, sia-sia masuk di sini, apalagi di Surga. Ini sudah terbukti, sebab itu orang berdosa tidak boleh masuk Surga Wah 21:27.

MARKUS 9:45 LEBIH BAIK TIMPANG DARIPADA UTUH

Prinsipnya seperti di ayat 43.

Kaki = perjalanan hidup. Ada banyak perjalanan hidup manusia dalam dunia dan sebagian besar menuruti hawa nafsu kedagingannya. Lebih baik timpang, tetapi selamat masuk Surga daripada punya kaki lalu berjalan pergi ke Neraka.

1. Abraham dan Lot. Lot punya kaki pergi ke Sodom Gomora, akhirnya binasa. Abraham juga tahu tentang Sodom bahkan dia adalah juru selamat untuk Sodom, ia bisa masuk dan duduk di Pintu Gerbangnya, tetapi Abraham seolah-olah timpang, tidak mau berjalan ke Sodom, sebab itu tetap selamat. Jangan pergi sembarangan tempat. Minta pimpinan Roh Kudus supaya jangan sampai tiba di Neraka. Belajar hidup dipimpin Roh seperti Putra manusia Yesus Mat 4:1, Luk 4:1, 28. Petrus pergi menurut pimpinan Roh Kis 11:12. Jangan pergi menurut kehendak sendiri lebih-lebih menurut hawa nafsu daging.

Orang yang dipimpin Roh itu seperti timpang, tidak bisa pergi semaunya sendiri, terbatas, dibatasi, tetapi itu yang membuat kita selamat. Dalam segala hal minta pimpinan Roh. Lebih baik timpang masuk Surga daripada bisa pergi sepuas hati sendiri tetapi masuk Neraka! Jangan seperti Lot, tetapi minta pimpinan Tuhan dan mau dibatasi oleh Roh Kudus seperti Abraham.

Waktu Abraham disuruh mengorbankan Ishak, itu terlalu berat bagi Abraham tetapi ia taat dan menjadi mulia untuk kekal. Sebab itu Abraham termasuk salah seorang yang dapat prioritas, tidak masuk penjara iblis Ef 4:8, tetapi ada di Surga. Abraham seperti timpang tetapi mulia di Surga.

2. Anak terhilang, kakinya kuat dan pergi ke mana-mana sesuka hatinya, ia menjadi habis dan celaka Luk 15. Untung ia bertobat dan kembali, kalau tidak ia akan mendekam di Gehena untuk kekal.

3. Elimelekh juga pergi semaunya sendiri, dengan begitu mudah Rut 1:2. Sebab itu akhirnya ia mati di Moab, lain dari orang-orang Israel yang sangat timpang, mereka tidak bisa pergi sendiri ke luar negeri. Naomi yang terseret, akhirnya kembali ke Israel dan selamat seperti anak terhilang yang bertobat. Jangan berjalan semaunya sendiri menurut kehendak daging sendiri.

MARKUS 9:47 LEBIH BAIK MATA SATU

Mencukil satu mata, sekalipun secara rohani itu sakit sekali. Punya mata tetapi tidak boleh melihat, itu seperti siksaan, seperti orang mata satu, tetapi itu yang menyelamatkan, tidak sampai di Gehena.

1. Daud dan Simson terus menerus menuruti nafsu matanya, sehingga akhirnya pengalaman hidupnya sangat pahit dan getir. Daud masih pulih, tetapi Simson yang melihat terus tidak habis-habisnya, akhirnya mati. Yusuf, Ishak, Ayub dll juga punya mata, tetapi mereka rela mencungkil Ay 31:1-4. Sakit bagi orang beriman, menang salib itu sakit tetapi sehat, selamat dan bahagia.

2. Akhan dan Gehazi. Tidak mau berhenti melihat uang dan bahkan jatuh cinta, akhirnya sebab terus menuruti nafsu mata, menjadi celaka. Coba mereka dengan keluarganya mau menjadi mata satu, mau mencungkil matanya, mereka akan tetap selamat dan bahagia sampai kekal.

3. Saul, Absalom, matanya terus melihat tahta dan kemuliaan manusiawi, duniawi, sebab itu mereka binasa. Jangan menuruti keinginan mata, nanti menyesal untuk kekal.

MARKUS 9:49 MASING-MASING AKAN DIGARAMI DENGAN API

Bila ada garam, makanan menjadi gurih, enak, nikmat. Begitulah kalau kita mau digarami dengan api Mat 3:11. Putra manusia Yesus mau digarami dengan api yaitu baptisan api dan Ia belum puas kalau itu belum selesai Luk 12:50. Baptisan api ini adalah Golgota. Inilah puncak sengsara salib, sengsara karena kebenaran. Sejak dari rahim Maria sampai Golgota, perjalanan Tuhan Yesus penuh dengan salib, penyangkalan diri.

Tiga hal penyangkalan diri yang disebut dalam ayat-ayat ini, buntung, timpang dan mata satu, itu semua adalah penyangkalan diri yang puncaknya sampai pada baptisan api yaitu Golgota, mati sepenuhnya karena kebenaran dan menjadi sempurna Flp 2:8. Ini berarti tembus Tirai dan menjadi sempurna. Ini harus dimulai dari Pintu Gerbang, baru berhasil kalau tekun sampai Tirai. Tidak mungkin orang bisa langsung ke Golgota, tidak bisa langsung ujian Ayub, tidak tahan. Tetapi kalau setia di jalan sempit, akhirnya akan sampai di Golgota. Sebab itu kita harus tekun di jalan sempit, selalu digarami dengan api. Ini hidup yang indah, sedap, penuh kuasa dan sukacita, sebab hidup suci itu indah Maz 28:2; 50:2.

SETIAP KORBAN SEMBELIHAN AKAN DIGARAMI DENGAN GARAM

Mengapa ini diulangi lagi. Di atas sudah digarami dengan api, ini baptisan api yaitu Golgota. Di sini lain lagi, korban sembelihan diberi garam Im 2:13. Orang yang menjadi korban karena Tuhan, menderita karena Tuhan, maka Roh kemuliaan akan turun ke atasnya 1Pet 4:14 dan ia digarami oleh Roh Kudus sehingga bisa memberi jawaban dalam setiap problemnya Kol 4:6. Kalau Roh Kudus mengurapinya sebab menjadi korban karena Tuhan, hidupnya akan menjadi indah. Roh Kudus akan menggarami dengan segala perkara yang diperlukan sehingga korbannya itu menjadi sempurna, menjadi indah, berkemenangan dan sesuai dengan rencana Allah.

Yusuf menjadi korban, tidak bersungut-sungut, maka Roh Kudus mengurapinya dalam semua problemnya Kej 41:38. Suatu hidup yang indah, seperti masakan diberi garam menjadi sedap, begitu pengorbanan Yusuf menjadi sedap, indah bahkan sempurna dalam rencana Allah, semua yang dijanjikan Allah, jadi dalam hidupnya.

Begitu kalau kita mau  menjadi korban yang hidup bagi Tuhan, itu berkenan kepada Tuhan Rom 12:1-2, maka Roh Kudus akan mengurapinya dan hidupnya menjadi indah dalam tangan Allah.

MARKUS 9:50 MILIKI GARAM YANG ASIN

Kalau kita mau digarami dengan api, akan menjadi garam yang asin, bukan yang tawar. Mau menyangkal diri untuk taat kepada Firman Tuhan, pasti menjadi asin dan Tuhan berkenan. Maka Roh Kudus akan mengurapi kita, menggarami kita. Pengurapan Roh Kudus ini perlu terus dipelihara. Miliki garam yang asin dan berdamailah dengan orang-orang lainnya, jangan tidak suka atau benci pada orang-orang yang jahat di sekitar kita, ampuni dan kasihi (tetapi tetap cerdik Mat 10:16), maka kita akan punya garam dalam diri kita. Orang yang benci, tidak suka pada orang-orang di sekitarnya, tidak punya garam dalam diri, tidak punya pengurapan Roh Kudus; kalau toh punya garam, garamnya itu tidak asin, sia-sia. Belajar menyangkal diri tanpa bersungut-sungut, tanpa benci, tetapi penuh dengan kasih, maka hidup ini akan menjadi indah, penuh dengan garam yang asin, yaitu pengurapan Roh Kudus, sehingga seluruh hidup, pelayanan dan pengorbanan kita jadi asin, jadi berkat sebab diurapi Roh Kudus karena mau menyangkal diri, hidup suci dan berdamai, kasih dengan semua orang sekitarnya. Kalau mau menjadi berkat, Tuhan akan memberkati. Ingat lebih baik satu daripada dua, lebih baik buntung, timpang dan mata satu daripada masuk Neraka dan hidup dalam pengurapan Roh Kudus, miliki garam yang asin.

Ditulis oleh Pdt. Jusuf B.S.

Disalin tanpa perubahan dari www.tulang-elisa.org pada tanggal 26-09-2011

Filed in: Diskusi Kekristenan, Santapan Rohani

No comments yet.

Leave a Reply