6:19 pm - Monday December 18, 2017

Tentang Franky Sihombing

Kok, bisa Anda diminta berkhotbah?
Awalnya saya enggak pede untuk khotbah. Belajarnya, sih, mulai SMA, yaitu ada ujian berkhotbah selama 5 menit. Ternyata, guru memuji khotbah saya. Katanya saya berbakat. Mulailah saya khotbah di depan persekutuan doa sekolah.

Belakangan setelah jadi penyanyi, tahun 1991 saya diminta khotbah di depan jemaat. Semula saya cuma menggantikan pendeta yang berhalangan hadir. Rupanya pemaparan saya bisa diterima dengan baik. Sekarang yang minta saya khotbah justru lebih banyak dibandingkan menyanyi.
KLIK - Detail
Terus terang saya tidak belajar Alkitab secara khusus. Saya sendiri, kan, cuma lulusan SMA. Saya belajar sendiri secara otodidak dari buku-buku. (Melihat sosoknya, sama sekali tidak terbayang Franky adalah sosok pengkhotbah. Rambutnya gondrong, tangannya pun penuh dengan tato.)

Penampilan Anda yang bertato enggak mengundang kontroversial?

Ketika memutuskan bertato tentu saja mengundang kritik keras. Media Kristen menuliskan kecaman dengan tulisan, “Hamba Tuhan bertato.” Akibatnya, sekitar 70 persen jadwal khotbah saya langsung dibatalkan.

Memang di kalangan umat Kristen, saya dipandang sebagai evangelis mbeling. Pernah lima tahun lalu, saya tampil di SCTV pakai anting. Buntutnya, saya menerima tiga ribu lebih surat bernada protes. Saya dibilang tidak memberi contoh yang baik.

Kenapa, sih, Anda bertato segala?
Sebenarnya saya ingin mengkritik umat. Ceritanya, saya dengar cerita dari teman bahwa ada seseorang yang ngedrugs ingin bertobat. Dia ke gereja hanya memakai kaus lengan pendek dan jins. Padahal, tangannya penuh tato. Apa yang terjadi? Sampai di depan gereja, dia ditahan petugas yang jaga gereja. Dia enggak boleh masuk gereja, kalaupun mau beribadah harus pakai baju lengan panjang untuk menutupi tatonya.

Saya berpikir, keputusan seseorang mendekat pada Tuhan berharga banget, kenapa mesti dihalangi hanya karena penampilan. Saya sakit hati. Aku pun mutusin bertato. Kalau aku yang melakukan bagaimana? Ternyata memang heboh banget. Buat saya, sih, saya mau berkorban apa saja untuk sesuatu yang benar.

Apa penjelasan Anda pada kalangan umat Kristen?
Saya jelaskan bahwa kehidupan rohani tidak ada hubungannya dengan penampilan. Apalagi dalam Alkitab tidak ada larangan untuk bertato. Jadi, alasan mereka tidak ada rujukannya dalam Alkitab. Seiring perjalanan waktu, terutama dua tahun belakangan ini, mereka mau terima saya apa adanya.

Tentu saja saya tetap menghormati gereja yang mengundang saya. Kalau mereka ingin saya tampil rapi, tentu saya khotbah pakai jas atau kemeja lengan panjang, seperti yang saya lakukan ketika khotbah di Malaysia.

KLIK - DetailOh Anda sering juga diundang ke luar negeri?
Ya. Setiap tahun saya pasti diundang khotbah di Amerika. Kalau sudah ke sana, jadwal saya penuh sampai sebulan. Saya biasa khotbah di 8 kota di sana. Tahun lalu, saya juga diundang ke beberapa kota Australia.

Untuk Indonesia, sudah hampir seluruh kota saya pernah diundang pelayanan. Saya sering sekali melayani di Papua, bahkan sampai ke suku-suku terasing. Pernah pula ke pedalaman Kalimantan, saya lupa tempatnya, naik perahu selama tiga hari. Saya juga pelayan pertama yang masuk Ambon usai perang. Tahun 1997 itu, saya datang ke sana dengan dikawal anggota Marinir.

Tak kalah mengesankan, saya pernah diajak ikut pelayanan perdamaian di Sampit setelah kerusuhan. Suasana di sana sungguh mencekam. Saya pun memberi penghiburan. Saya ajak mereka untuk hidup saling mengasihi seperti yang diajarkan Tuhan.

Anda tergabung dalam gereja apa?
Saya lebih memilih membuat sebuah membuat komunitas kecil yang saya sebut Gereja Rumah. Jemaat saya hanya 25 orang. Semula, mereka adalah orang-orang yang pakai narkoba. Saya dekati mereka agar mengubah cara hidupnya. Salah satu contoh, saya pernah menemui seseorang di kawasan Blok M, yang menggelepar di got dalam keadaan sakaw. Orang-orang seperti ini saya tampung di rumah.

Berkat Allah juga, hidup mereka berubah. Sekarang mereka jadi orang-orang baik. Belakangan ini, saya juga menitikberatkan pelayanan saya untuk masalah AIDS dan obat-obat terlarang.

Apa rencana Anda selanjutnya?
Saya sedang merencanakan membuat gereja rumah di Denpasar, Siantar, Medan. Ke depan, saya dan beberapa teman ingin bikin majalah mengenai bahaya drugs dan AIDS. Saya ingin mengajak generasi sekarang tidak terjebak dalam hidup yang tidak benar.
(Saat wawancara, anak bungsu Franky, Iva Anabel Sihombing (4) yang baru bangun tidur di sore itu, menghampiri ayahnya. Ia pun memeluk ayahnya dengan manja. Tak lama kemudian, Franky menemani anak keduanya, Ben Joshua Sihombing (9), main biliar di lantai atas rumahnya.)

Anda sangat dekat dengan anak-anak?

Tentu saja. Tiga anak saya, adalah inspirasi hidup saya. Mereka juga sudah terlibat kegiatan pelayanan saya, lho. Semua anak saya ikut menyanyi di album lagu saya. Malah si sulung, Petra Joshua Sihombing (12) membantu saya untuk urusan studio rekaman. Mulai jadi operator sampai buat program lagu. Petra dan Ben sudah tampak bakatnya di musik. Dan istri saya, Luciana Nova Putong (35) pastilah menjadi bagian terpenting dalam hidup saya. Dia sangat berperan dalam pribadi dan pelayanan saya.

Filed in: Berita, Selebriti

No comments yet.

Leave a Reply