2:03 am - Monday June 25, 2018

Allah Itu Mahatahu dan Mahahadir. So What?!

Garamdunia.com

Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.  Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku. Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya. Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku. Jika aku berkata: “Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam,” maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang. (Mzm. 139:1-12)

Apa yang ada di benak pemazmur ketika mengutarakan kalimat-kalimat seperti di atas? Apa keunikan pengalaman Kristiani akan kemahatahuan dan kemahahadiran Allah jika dibandingkan dengan pengalaman religius para pemeluk agama dan kepercayaan yang lain? Keunikan pengalaman Kristiani bersifat fundamental dan esensial, selain juga tentunya bersifat individual dan subjektif.

Keunikan pertama terletak pada natur pengalaman Kristiani itu sendiri, yaitu: pengalaman bergaul dengan satu-satunya Allah yang hidup, yang menyatakan diriNya sebagai “TUHAN,” Allah yang esa dan sejati yang kita kenal di dalam Kristus itu. Ia adalah Allah yang mendekatkan diri-Nya dan menjalin relasi pribadi dengan kita. Bukan Allah menurut konsep manusia yang hanya bertahta di singgasana imajinasi manusia.

Namun, Ia adalah Allah yang berinkarnasi, aktif menyatakan diri-Nya secara pribadi kepada orang-orang yang dipilih-Nya, dan menjalin relasi dengan umat-Nya. Ia adalah “TUHAN” yang “menyelidiki dan mengenal aku,” yang “mengetahui,” “mengerti pikiranku dari jauh,” dan “memeriksa aku.” Ia adalah “Allahku,” bukan sekadar “konsepku” atau “pikiranku” tentang Allah.

Keunikan kedua, buah dari keunikan pertama, adalah hadirnya transformasi hidup secara utuh. Pengalaman bergaul dengan Allah yang hidup akan membawa seseorang masuk ke dalam dimensi spiritual yang belum pernah dikenali dan dialami sebelumnya. Sebagaimana air memancar keluar dari mata air, maka hidup yang baru (bukan semata aspek kognitif atau kebiasaan hidup) juga mengalir dari roh yang diperbarui melalui pergaulan dengan Allah ini.
Pergaulan ini melibatkan totalitas hidup manusia sedemikian rupa sehingga kemahatahuan dan kemahahadiran Allah itu tidak hanya hadir dalam pikiran, namun dihayati dan termanifestasi dalam perasaan dan tingkah laku sehari-hari. Ketika menghayati kemahatahuan dan kemahahadiran Allah, pemazmur berseru: “Sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN. … ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?”

Betapapun bagusnya bahasa rohani yang membungkus tingkah laku rohani seseorang, tapi jika tidak kembali kepada hidup Alkitabiah, semua itu hanya religiusitas lips-service dan antroposentris yang tidak lebih daripada fenomena kejiwaan manusia. Sebaliknya, hidup Kristiani sejati adalah kehidupan yang selalu dipersembahkan (Rm. 12:1-2) di hadapan dan hadirat Allah yang mahahadir (Luther: “coram Deo”), dan apapun yang kita lakukan selalu “berurusan dengan Allah” (Calvin: “negotium cum Deo”). Lihat Yusuf (Kej. 39:8-9)!

Keunikan ketiga, manifestasi keunikan kedua, adalah munculnya rasa takut akan Tuhan, rasa takut berbuat dosa, dan ketulusan hati sebagai wujud penghayatan akan kemahatahuan dan kemahahadiran Tuhan. Pemazmur menyadari bahwa sekalipun manusia berdosa telanjang di hadapan Allah yang mahatahu dan mahahadir, namun manusia berdosa masih sering berusaha untuk “menyemat daun pohon ara dan membuat cawat” bagi dosa dan agenda pribadi. Seseorang yang memiliki pengalaman kepada Allah yang otentik akan senantiasa dibawa kepada rasa ketelanjangan, dan pada saat yang sama kerinduan untuk senantiasa disucikan dan dimurnikan. “Selidikilah aku,” “ujilah aku,” dan “tuntunlah aku di jalan yang kekal” akan senantiasa menjadi doa bagi orang-orang yang bergaul dengan Allah yang sejati. Tidak disangkali, seseorang yang hendak menyembah Allah “dalam roh dan kebenaran” (Yoh. 4:24) harus menumbuhkembangkan kepekaan akan kemahatahuan dan kemahahadiran Allah ini.

Filed in: Relax Inspiration, Renungan Harian, Santapan Rohani

No comments yet.

Leave a Reply