Yesus Sayang Semua

0
27

Ulangan 6: 5-9

Teks ini merupakan bagian yang seringkali disebut sebagai “Shema”, dari bahasa Ibrani “shama” yang artinya mendengar. Bagian ini dikenal baik oleh orang Yahudi pada zaman Yesus karena diucapkan setiap hari dan secara tetap oleh seorang saleh Yahudi dalam kebaktian di sinagoge. Yang artinya setiap harinya diperdengarkan kepada umat sebagai pernyataan tentang ke-Esa-an Allah (monoteistis Allah: Allah yang satu-satunya); dengan diikuti dua perintah kepada bangsa Israel:

  1. Untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan (ayat 5-6), dan
  2. Untuk mengajarkan iman dengan tekun pada anak-anak mereka (ayat 7-9).

TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! (ayat 4) merupakan pernyataan pengakuan yang menegaskan bahwa Allah adalah Allah yang esa dan benar, dan Allah ini harus dijadikan satu-satunya sasaran kasih dan ketaatan Israel, dan merupakan dasar dari larangan untuk menyembah illah lain. Perintah ini mengikat dan Allah benar-benar menginginkan Firman-Nya tersimpan dalam hati umat-Nya.

Frasa mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu” (ayat 6) merupakan tindakan konkrit untuk mengungkapkan kasih kepada Allah dengan mempedulikan kesejahteraan rohani anak-anak. Menuntun mereka setia kepada Allah dan ini merupakan perhatian utama semua orang tua. Pengarahan rohani berpusat di rumah, melibatkan ayah dan ibu, dengan tujuan mengajarkan anak-anak untuk takut akan Tuhan, berjalan pada jalan-Nya, mengasihi dan melayani Dia dengan segenap hati dan jiwa. Orang percaya harus dengan tekun memberikan pendidikan ini.

PERSIAPAN CERITA :

Jika ada orang tua yang mendampingi anak-anaknya dapat membantu pamong sebagai pencerita di depan. Ada yang berperan sebagai ayah bagi semua anak, ada yang berperan sebagai ibu bagi semua anak. Jika tidak ada orang tua yang mendampingi, maka dua pamong dapat berperan sebagai ayah dan ibu. Jika melibatkan Pamong maka diharapkan Pamong yang terlibat sesuai dengan gender. Artinya laki-laki berperan sebagai ayah dan perempuan berperan sebagai ibu. Jangan laki-laki berperan sebagai ibu atau sebaliknya. Hal ini untuk mengajarkan sejak diri anak-anak mengenal identitas gender.

CONTOH CERITA (Untuk Anak-anak)

Selamat pagi Anak-anak,

(Beri anak-anak kesempatan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut) Siapa yang sudah sarapan pagi? Siapa yang tadi ke gereja bersama ayah ibu? Wah senang ya, pagi-pagi sudah sarapan. Memang siapa yang membuatkan sarapan untuk anak-anak? Iya, Ibu sudah membuatkan sarapan, sudah menyiapkan baju untuk anak-anak, juga mengantar anak-anak ke sekolah minggu.

Di depan ini ada Ayah dan Ibu. Siapa yang sayang ayah? Angkat tangan! Yang sayang Ibu angkat tangan! Yang sayang Ayah lambaikan tangan! Yang sayang Ibu lambaikan tangan! Yang sayang Ayah lari peluk Ayah! Yang sayang Ibu lari peluk Ibu!

Yang sayang Tuhan Yesus, ucapkan Haleluyah! Tuhan juga sayang anak-anak. Mari berpelukan!

Anak-anak yang disayang Tuhan. Hari ini kita juga mendengarkan cerita bahwa Tuhan sayang pada anak-anak yang dekat dengan Tuhan, dekat dengan Ayah dan Ibu. Tuhan sayang pada anak-anak yang dengar-dengaran ayah-ibu. Yang menurut dan bersikap baik. Karena ayah dan ibu sudah menerima perintah dari Tuhan untuk menyayangi anak-anak. Demikian juga anak-anak harus menyayangi ayah dan ibu, juga kakak-adik, teman-teman dan saudara semua.

 

Dikutip dari : https://gkjw.or.id/tiar-balita/yesus-sayang-semua/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here