Persatuan Dan Kesatuan Dalam Jemaat Kristus

0
12

PERSATUAN DAN KESATUAN DALAM JEMAAT KRISTUS

(Kol. 3:12-15)

Tiap jemaat, bagaimanapun baiknya, harus bergumul dengan soal persatuan dan kesatuan. Membentuk persatuan dan kesatuan yang baik dalam gereja merupakan tantangan baik pada abad pertama maupun sekarang ini, dalam banyak surat Perjanjian Baru Rasul-rasul menyinggung hal persatuan dan kesatuan dan malahan pokok ini menjadi salah satu pokok utama dalam surat I Korintus. Dan siapa saja yang mengetahui soal-soal intern gereja-gereja setempat, sinode-sinode apalagi yayasan Kristen dan lain-lain menyadari bahwa hal membangun persatuan dan kesatuan rohani adalah tugas yang memakan banyak waktu pimpinan organisasi-organisasi tersebut.

Baru saja kami mendengar beberapa ceritera intern dari tiga organisasi gereja yang bergumul dengan persatuan dan malahan sudah masuk kekacauan ke dalam organisasi mereka. Tetapi yang penting ialah jangan tunggu sampai ada kekacauan sebelum menekankan kesatuan dan persatuan. Jikalau kita terus-menerus mengajar dan membina jemaat/sinode kita dalam hal kesatuan/persatuan, ada kemungkinan besar kita akan dapat menghindari kekacauan dan perpecahan.

Paulus dalam Kolose 3:12-17 berusaha mengemukakan beberapa unsur tentang kesatuan dan persatuan. Sebetulnya jemaat di Kolose tidak pecah dan malahan kelihatan cukup stabil. Namun demikian Paulus melihat beberapa tanda yang memaksa dia membuka beberapa unsur ini. Demikianlah nas kita memuat 4 unsur yang harus dimiliki oleh tiap jemaat Kristen yang ingin menikmati kesatuan dan persatuan rohani.

Marilah kita menyelidiki unsur ini satu demi satu.

  1. KESELAMATAN PRIBADI PADA ANGGOTA-ANGGOTA JEMAAT (12)

Perhatikanlah ayat 12, “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya…………” Paulus berbicara kepada orang Kolose sebagai “orang-orang pilihan Allah” dan sebagai orang yang “dikuduskan”. Jadi anggota-anggota jemaat di Kolose sudah mengalami keselamatan, sudah menjadi anak Allah, sudah dibersihkan dengan darah Yesus yaitu sudah memiliki dan mengalami keselamatan pribadi. Mereka semua sudah menjadi “batu hidup” (I. Pet 2:15) dalam rumah Allah. Jadi jangan kita mengharapkan apalagi berusaha mendirikan kesatuan dan persatuan pada anggota-anggota jemaat yang belum diselamatkan. Kita pasti akan gagal.

Mungkin saudara menganggap hal ini terlalu jelas dan sederhana. Memang ! Tetapi walaupun demikian gereja kita sering menerima orang-orang menjadi anggota yang belum diselamatkan. Dan orang-orang ini dapat merusakkan kesatuan dan persatuan.

Kami masih ingat waktu kami berada di tingkat empat di Sekolah Theologia di Kanada. Salah satu dosen kami menyuruh semua mahasiswa dalam kelas kami untuk menyelidiki hatinya untuk melihat apakah mereka sungguh-sungguh selamat. Dia memberi keterangan yang begitu jelas mengenai siapakah orang Kristen sambil mengatakan orang Kristen adalah orang yang berkehidupan suci dan seterusnya. Kemudian salah satu mahasiswa mengangkat tangannya dan mengatakan, “Bapak guru hampir meyakinkan kami bahwa kami belum orang Kristen!” Dosen kami menjawab, “Untung. Kita semua disuruh menguji hati kita masing-masing untuk melihat apakah kita percaya atau tidak” (II Kor. 13:5. Pokoknya dosen kami mengerti bahwa walaupun seorang mahasiswa duduk dalam tingkat 4 dalam Sekolah Theologia ia mungkin juga belum mengalami keselamatan pribadi.

Ada orang lain mengatakan, “Tetapi, kami sudah maju ke muka di gereja kami pada waktu ada panggilan untuk keselamatan.” Oleh karena itu dia merasa diselamatkan. Kami akui bahwa banyak orang sesudah maju ke muka dalam gereja menerima keselamatan tetapi tidak ada satu ayat dalam Alkitab yang mengatakan bahwa kalau kita maju ke muka dalam kebaktian kita akan diselamatkan. Malahan kami pernah membaca buku mengenai seorang penginjil terkemuka yang mengatakan bahwa ia maju ke muka dalam kebaktian tiga kali sebelum ia sungguh mengalami keselamatan.

Ada orang lain mengatakan, “Kami dibaptiskan pada tanggal sekian dan oleh karena itu kami tahu kami diselamatkan.” Ucapan semacam ini sering terdengar di gereja-gereja dan di antara orang-orang Kristen. Dan siapa berani mengatakan bahwa baptisan tidak mempunyai peranan penting dalam kehidupan seorang kristen? Namun tidak seorangpun diselamatkan melalui air baptisan.

Beberapa tahun yang lalu kami dengan satu team melayani Firman Tuhan di Gereja GSPII di Lorok, Pacitan. Waktu itu seorang missionari baru dari Amerika Serikat mengikuti team kami. Gembala setempat di Lorok mengumumkan bahwa ia ingin mengadakan upacara baptisan di pantai Samudera Indonesia. Teman kami diminta membawa renungan sebelum upacara baptisan dijalankan. Kami masih mengingat hari indah itu di mana kami duduk di pasir pantai, menikmati alam yang sejuk, dan menantikan upacara baptisan. Teman kami dari Amerika berdiri dan memulai renungannya dengan mengatakan, “Mungkin kami, lebih dari saudara-saudara lain di pantai ini, sanggup memberi renungan mengenai baptisan. Kenapa demikian? Karena kami sudah dibaptiskan tiga kali. Pada waktu kami berumur 12 tahun ibu kami mendorong kami untuk dibaptiskan walaupun waktu itu kami belum diselamatkan. Kemudian sesudah kami berumur 18 tahun kami merasa ingin betul-betul mengikuti Tuhan dan kami meminta dibaptiskan lagi walaupun kami masih belum diselamatkan. Akhirnya pada waktu kami berumur 24 tahun, seseorang membawa kami kepada sang Juruselamat dan dosa kami betul-betul dibersihkan dengan darah Yesus. Saat itu kami dilahirkan baru. Sesudah itu kami dibaptiskan untuk kali ketiga.”

Nah, kiranya saudara dapat melihat bahwa baik maju ke muka maupun dibaptiskan tidak akan menyelamatkan seseorang. Orang hanya diselamatkan apabila ia mengakui dosanya dan kemudian minta agar dosanya dibersihkan dengan darah Tuhan Yesus (I Yoh. 1:7-9).

Jika kita ingin memupuk kesatuan dan persatuan di gereja, kita harus terlebih dahulu berusaha supaya tiap anggota adalah “pilihan Allah” yang “dikuduskan”. Inilah fondasi dan dasar kesatuan dan persatuan dalam jemaat Tuhan.

  1. BUAH ROH YANG MENCERMINKAN KASIH (14,12)

Tanpa buah Roh yang mencerminkan kasih tidak akan ada kesatuan dan persatuan dalam jemaat.

Kami pernah membaca kalimat yang berbunyi, “You can tell a man by his clothe.” Maksudnya pakaian seseorang sungguh menyatakan siapakah dia. Dan memang demikian. Tiap suku di Indonesia mempunyai pakaian khas apalagi pakaian dinas, pakaian pramuka dan pakaian khusus yang dipakai pemborong, sopir dan lain-lain. Dengan melihat pakaian seseorang kita dapat tahu banyak sekali tentang dia. Pakaian atau buah Roh apakah yang harus dikenakan orang Kristen supaya orang-orang akan tahu siapakah kita?

Dalam ayat 14 Rasul Paulus mengatakan, “Kenakanlah kasih………” dan dalam ayat 12 ia mengatakan, “kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah lembutan dan kesabaran.” Inilah pakaian orang Kristen. Inilah buah-buah Roh yang harus mendandani anak Tuhan.

Kasih dan ciri-ciri khasnya mutlak untuk menjamin kesatuan dan persatuan. Kebanyakan persoalan di gereja disebabkan pertengkaran antar pribadi atau salah faham dan sakit hati. Dalam tiap kelompok manusia pasti akan timbul hal-hal yang menyebabkan seseorang tersinggung atau mungkin kehilangan muka. Hanya orang yang menyendiri sendiri dan tidak berhubungan dengan orang lain dapat menghindari soal macam ini. Jikalau ada dua orang atau lebih dari dua orang selalu akan muncul persoalan antar pribadi. Di sini Paulus mengemukakan satu-satunya obat untuk memperlancar hubungan antar pribadi.

Maksud Paulus begini: Siapakah yang sukar hidup dan kerja sama dengan orang yang: penuh belas-kasihan, rendah hati, sabar, lemah lembut dan murah hati? Kita semua dapat bersatu dengan orang seperti ini, oleh sebab itu Paulus menyuruh kita sekalian untuk mengenakan buah Roh ini, dan dengan demikian menjamin kesatuan dan persatuan di jemaat Tuhan.

Ada orang yang akan mengatakan, “Tetapi kami sudah dikuduskan menurut ayat 12 tadi.” dan memang demikian tetapi perhatikanlah ayat ini dari Wahyu 22:11 “………… barang siapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!” Maksudnya? Kita dikuduskan oleh darah Tuhan Yesus tetapi untuk kehidupan sehari-hari secara praktis kita harus mengenakan buah Roh. Dan tugas ini dilemparkan kepada kita. “Kenakanlah …………” adalah perintah Alkitab. Demikian Tuhan Yesus membersihkan kita dari dosa sambil menyuruh kita untuk bertanggung-jawab atas kesucian pribadi kita.

Semoga tiap anak Tuhan akan berusaha mengenakan buah-buah Roh dalam nas ini agar supaya kesatuan dan persatuan dalam Sidang Jemaat diperkokoh.

Sekarang, marilah kita melihat unsur ketiga yang harus dimiliki oleh setiap jemaat sebelum mereka sungguh bersatu.

III. PENGAMPUNAN SEORANG AKAN YANG LAIN (13)

Seperti kami katakan tadi, dalam hubungan antara manusia, akan selalu ada hal-hal yang menyebabkan dendam dan sakit hati. Kita tidak ingin hal-hal semacam itu terjadi tetapi karena kita sekalian adalah anak Adam dan sering hidup di bawah pengaruh tabiat tubuh dan daging kita, bagaimanapun juga, sering timbul hal-hal yang menyinggung. Rasul Paulus adalah seorang realis dan oleh sebab itu ia tidak menganggap bahwa tak mungkin hal-hal seperti yang tersebut di atas akan terjadi. Memang orang akan bertindak salah! Memang orang akan berbuat hal yang tidak bijaksana! Memang! Dan oleh karena itu umat Tuhan harus belajar untuk “…………. ampunilah seorang akan yang lain apabila seorang menaruh dendam terhadap yang lain………….” Inilah jalan keluar yang Tuhan berikan kepada tiap orang Kristen, keluarga Kristen, gereja Kristen, ………….” ……………… ampunilah seorang yang akan lain ……………”

Namun anak Tuhan sungguh lambat belajar hal ini. Kami pernah mendengar mengenai pertengkaran/perselisihan dalam satu gereja di mana salah satu anggota diberitahu tentang perlunya mengampuni satu sama yang lain sebagai jalan keluar. Ia mengatakan, “Wah, itu terlalu idealistik ……………. tak mungkin laku. Pengampunan adalah satu teori belaka yang tidak mungkin terjadi dalam gereja kami.” Sayang seorang Kristen berbicara demikian.

Apakah mungkin satu perintah Tuhan terlalu idealistis? Apakah mungkin satu perintah Tuhan tak mungkin dapat dijalankan dalam “Jemaat Tuhan”? Sebaiknya kalau kita akan bersatu kita harus belajar bersatu. Dan bagaimana kita mestinya mengampuni orang lain? Hal itu juga diajar dalam ayat 13, yaitu, “……………sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu ………….” Terjemahan Kabar Baik Untuk Masa Kini tentang ayat yang sama mengatakan, “Tuhan dengan senang hati mengampuni kamu ……….”. Kristus adalah teladan kita, juga Ia dalam hal mengampuni. Dalam hal pengampunan kita harus mengikuti jejakNya.

Gampang? Tidak! Siapa mengatakan hal mengampuni orang yang sudah menyinggung perasaan kita mudah? Sulit dan sering menuntut pengorbanan besar pada pihak kita. Sering dengan meminta ampun, kita akan kehilangan muka dan menjadi malu. Sering kita akan hancur hati dan sungguh merasa tidak enak. Tetapi mengenai hal ini tak mungkin kita akan menderita lebih dari Tuhan Yesus.

Penulis Ibrani mengatakan, “Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.” Tuhan Yesus menumpahkan darah untuk membeli pengampunan bagi kita. Kita paling-paling hanya kehilangan muka. Tetapi jikalau kita ingin sungguh menghasilkan kesatuan dan persatuan dalam sidang jemaat, kita harus mengajar dan melakukan pengampunan seorang akan yang lain, dan pengampunan itu harus up to date, artinya tidak boleh ditunda-tunda.

  1. DAMAI SEJAHTERA SEBAGAI PENGUASA TIAP HATI (15)

Inilah unsur keempat yang dihayati oleh kelompok yang mengalami kesatuan dan persatuan. Perhatikanlah ayat 15, “Hendaklah damai-sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh.”

Sebelum ada damai-sejahtera dalam sidang Tuhan, terlebih dulu damai-sejahtera harus diam dalam tiap hati. Kita sudah tahu bagaimana seorang anak yang nakal dapat merusakkan suasana kebaktian. Demikian juga seorang Kristen yang tidak memiliki damai-sejahtera Tuhan dapat merusakkan kesatuan jemaat.

Mengapa damai-sejahtera begitu penting? Karena anggota-angota jemaat sering, bersama-sama sebagai satu organisasi, harus mengambil keputusan tentang pelayanan, tentang disiplin, tentang pimpinan jemaat dan kehendak Tuhan. Sukar sekali berjalan sebagai jemaat kalau selalu ada yang bertindak sebagai rem atau sebaliknya mau bergerak terlalu cepat. Yang diharapkan ialah agar seluruh jemaat bersama-sama akan tahu kehendak Tuhan dan pimpinan Tuhan. Hal ini memang ideal dan sulit, tetapi inilah yang diharapkan. Bagaimana ini dapat terjadi? Hanya apabila tiap anggota jemaat mengalami damai-sejahtera Tuhan secara pribadi.

Nas kita mengatakan, “Hendaklah damai-sejahtera Kristus memerintah ……………” Terjemahan lain berbunyi, “Hendaklah damai-sejahtera Kristus bertindak sebagai wasit ………….” Artinya tiap anggota harus sensitif pada hal damai-sejahtera dan apabila damai-sejahtera hilang, mereka harus mencari sebabnya. Dan jemaat tidak boleh bertindak sampai damai-sejahtera kembali. Dengan demikian damai-sejahtera akan bertindak sebagai “wasit” dalam hati mereka dan juga dalam sidang jemaat.

Tiap anggota wajib menjaga supaya damai-sejahtera Allah selalu menguasai hatinya. Damai-sejahtera dengan Tuhan dan damai-sejahtera dalam hati kita adalah pertanda kuat bahwa kita berjalan dalam kehendak Tuhan. Bila setiap anggota jemaat sungguh-sungguh dikuasai oleh damai-sejahtera Tuhan dan hidup terus-menerus dalam damai-sejahtera, jemaat setempat juga akan mengalami damai-sejahtera dan sebagai akibatnya jemaat akan mengalami kesatuan dan persatuan.

KESIMPULAN:

Kita sudah melihat bahwa sebelum sebuah persekutuan Kristen dapat menikmati kesatuan dan persatuan, setiap anggota harus mengalami keselamatan pribadi, buah Roh yang mencerminkan kasih harus menghiasi anak Tuhan dalam jemaat, pengampunan seorang akan yang lain harus jalan terus dan damai-sejahtera Tuhan harus menjadi wasit setiap hari.

Yang aneh ialah kita tidak disuruh berdoa agar unsur-unsur ini muncul. Sebaliknya kita diperintahkan untuk bertindak saja, terutama berhubungan dengan tiga unsur terakhir. Nas kita mengatakan, “Kenakanlah …………….” “……….. ampunilah……………” dan “Hendaklah ……………” Sedangkan untuk unsur pertama jelas kita dapat mengatakan, “Bertobatlah, percayalah ………….”

Artinya kesatuan dan persatuan tidak terjadi dengan doa saja atau tanpa usaha kita. Kita harus bertindak untuk menghasilkan unsur-unsur dalam nas ini dan dengan demikian kita akan menghasilkan kesatuan dan persatuan.

  1. KESELAMATAN PRIBADI PADA ANGGOTA-ANGGOTA JEMAAT (12)
  2. “Karena itu sebagai …………” Paulus anggap mereka “pilihan Allah”.
  3. Maju ke muka, dibaptis, belajar theologia belum bukti keselamatan
  4. Keselamatan ………… kesadaran akan dosa …………… bersandar pada pengorbanan Yesus
  5. BUAH-BUAH ROH YANG MENCERMINKAN KASIH (14,12)
  6. Pakaian seorang menyatakan pribadinya
  7. Kasih dengan ciri-ciri khasnya mutlak untuk persatuan dalam jemaat
  8. Walaupun “dikuduskan” kita harus bertanggung-jawab untuk pertumbuhan

III. PENGAMPUNAN SEORANG AKAN YANG LAIN (13)

  1. Dalam hubungan antar pribadi sering terjadi hal yang menyinggung
  2. Di mana ada dendam/sakit hati tidak ada persatuan
  3. Pengorbanan perlu, kalau kita akan mengampuni orang lain
  4. DAMAI – SEJAHTERA SEBAGAI PENGUASA TIAP HATI (15)
  5. Sebelum ada damai-sejahtera sidang harus terlebih dahulu ada dalam tiap hati
  6. Damai-sejahtera harus menjadi “wasit” ………….. memerintah dalam hati
  7. Kita disuruh memiliki damai-sejahtera ………….. “Hendaklah” …………….

KESIMPULAN:

  1. Dalam nas ini kita tidak disuruh berdoa untuk persatuan
  2. Dalam nas ini kita disuruh bertindak untuk mengalami persatuan

Dikutip dari : https://www.homiletika.info/khotbah-masa-kini-ii/persatuan-dan-kesatuan-dalam-jemaat-kristus-kol312-15/

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here