Orang Muda Yang Kaya

0
17

Matius 19:16-26

Banyak cerita atau khotbah yang menafsirkan lubang jarum di dalam perikop ini sebagai sebuah pintu di Yerusalem yang sangat kecil. Ini sebenarnya merupakan penafsiran yang salah. Penafsiran yang salah ini baru muncul pada abad ke-5 atau ke-6 dari seorang uskup. Uskup tersebut memikirkan kesulitan dari istilah ‘lubang jarum’ dan kemudian terbentuklah kreativitas ini. Namun penafsiran ini sebenarnya kurang tepat dan bukan yang Tuhan maksudkan.

Hampir semua penafsiran yang baik menjelaskan bahwa tidak pernah ada pintu di Yerusalem yang disebut the eye of the needle. Tuhan sebenarnya sedang menyindir, sebab lubang jarum adalah lubang terkecil yang bisa dibayangkan pada jaman itu, dan unta yang Ia maksudkan adalah sungguh-sungguh unta. Oleh karena itulah murid-murid menjadi gempar, sebab kalau begitu “Siapa yang bisa diselamatkan?” Tuhan Yesus kemudian mengkonfirmasikan bahwa hal itu memang tidak mungkin bagi manusia, tapi mungkin bagi Allah. Di sini kita akan diajarkan ketidakmungkinan salvation by works (keselamatan melalui usaha manusia), tapi keselamatan hanya datang dengan pekerjaan Tuhan.

Pertama-tama, kita harus perhatikan beberapa kehebatan orang muda yang mendatangi Yesus ini. Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas, kita dapat melihat Markus 10 dan Lukas 18. Beberapa kehebatan pemuda itu adalah:
Muda. Di Matius 10:22, dia digambarkan sebagai seorang yang masih muda. Dan ia adalah
seorang muda yang memiliki banyak kelebihan.
Kaya. Bila poin ini digabung dengan poin pertama, berarti dia masih muda dan kaya. Pada zaman Yesus, hanya ada sedikit orang yang kaya, misalnya Herodes yang empunya setengah kerajaan, atau bangsawan atau bisa juga saudagar. Kemungkinan anak muda ini adalah seorang bangsawan Yahudi yang juga tidak banyak jumlahnya saat itu. Tidak hanya kaya, dia masih muda, sehingga masih banyak hal yang dapat dilakukannya.
Pemimpin. Di dalam Injil Lukas diceritakan bahwa pemuda ini merupakan seorang pemimpin,
kemungkinan besar sebagai pemimpin di jemaat Yahudi pada saat itu. Mungkin ia berperan
sebagai salah satu dari para tua-tua, walaupun umurnya masih muda, dan bisa juga dia
mempunyai kapasitas mengajar dan lain sebagainya.
Moralnya tinggi. Ketika Tuhan berkata “jangan membunuh, jangan berzinah, dsb …”, dia
menjawab telah melakukan semua itu sejak masa kecilnya.
Rendah hati. Di Markus dikatakan bagaimana dia datang dengan berlari dan berlutut kepada
Yesus.

Saudara-saudara, siapakah di antara kita yang memiliki karakter-karakter di atas? Namun demikian dengan segala kehebatannya anak muda ini tetap datang kepada Yesus dan bertanya apa yang harus ia lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal. Ia sadar bahwa di dalam segala kehebatannya dan apa yang ia miliki, ada sesuatu yang kurang di dalam hidupnya. Kalau kita pikir lebih lanjut lagi, waktu Tuhan Yesus berkata jangan membunuh, jangan berzinah, maka seharusnya dia tidak menjawab dengan perkataan selanjutnya. Harusnya ia menjawab, “Semua itu telah kuturuti, aku bersukacita, karena aku telah berhasil melakukan semuanya, dan percaya bahwa aku telah selamat”. Namun tidak begitu, anak muda itu malah menjawab, “Semua itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?”. Berarti dia tidak puas dengan perkataan Tuhan Yesus yang benar itu. Dia tahu bahwa masih ada yang kurang,walaupun ia melakukan dan memiliki apa yang orang-orang dunia ini inginkan, tapi terus ada sesuatu yang kurang.

Peristiwa ini mengungkapkan kebenaran Alkitab, intisari dari Firman Tuhan. Agustinus mengatakan bahwa ,“Thou has created me for Thee and my heart is restless till I rest in Thee”/”Engkau telah menciptakan diriku bagiMu, dan hatiku resah sampai aku mendapatkan istirahat di dalam Engkau.” Di dalam hidup kita sebagai manusia, ada tempat yang kosong dan tidak bisa diisi oleh apapun, kecuali Yesus hadir di situ. Tapi orang-orang dunia ini terus mencoba mengisinya dengan berbagai macam hal, seperti karir, kekayaan, kemewahan, obat terlarang, seks bebas dan kekuasaan. Mereka melakukan itu dengan tujuan mengisi hati mereka yang paling dalam. Pengajaran Firman Tuhan di dalam Kitab Pengkhotbah mengatakan bahwa ketika segala sesuatu telah didapatkan, hal itu tidak akan pernah dapat mengisi kekosongan jiwa manusia.

Pemuda ini juga mencoba mengisi kekosongan hidupnya dengan melakukan perbuatan baik. Jadi dia menanyakan apa yang masih kurang. Inilah kesalahan pertama dari pemuda ini. Dia mencoba mengisi kekosongan hatinya dengan perbuatan, dan berbuat lebih lagi. Meskipun itu adalah perbuatan baik. Inilah yang membuat inti Kekristenan berbeda dengan agama. Semua agama mengajarkan perbuatan baik. Tapi kita harus lihat apa fungsi dari perbuatan baik itu di dalam setiap agama yang ada. Alkitab melihat fungsi perbuatan baik itu berbeda sama sekali dengan agama-agama lain. Alkitab mengajarkan bahwa masalah manusia pertama-tama bukan di dalam perbuatannya. Masalah manusia adalah di dalam dirinya yang berdosa. Bukan apa yang dia lakukan, tapi siapakah jati dirinya, keadaan rohaninya di hadapan Tuhan. Inilah yang menjadi perbedaan yang sesungguhnya antara Kekristenan dengan agama-agama yang lain. Inilah inti Kekristenan, bahwa kita tidak bisa diselamatkan dengan berbuat baik.

Kita dapat melihat Rasul Paulus dalam pertumbuhannya. Semakin ia bertumbuh menyerupai Kristus, semakin ia sadar akan keberdosaannya. Pada awalnya dia berkata bahwa di antara para Rasul, dialah yang terkecil. Kemudian di surat berikutnya, dia menyatakan dirinya sebagai yang terhina di antara seluruh orang percaya. Kemudian menjelang akhir hidupnya di dalam 1 Timotius, dia mengatakan bahwa di antara orang-orang berdosa, maka dialah yang paling berdosa. Inilah pertumbuhan orang Kristen yang berbeda sekali dengan agama lain. Makin bertumbuh, makin sadar akan perlunya anugerah Tuhan. Kalau kita tidak sadar bahwa kita perlu anugerah Tuhan, itu menjadi tanda tanya besar. Bisa jadi iman percaya kita sedang tidur dan mungkin kita tidak sedang bertumbuh. Apakah saudara sadar perlu anugerah Tuhan di dalam hidup?

Kita melihat di sini pemuda ini terus mencoba melakukan lebih banyak perbuatan baik. Maka Tuhan sebenarnya hanya memberikan satu perintah di sini, yang bisa disimpulkan sebagai kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (ayat 19). Walaupun pemuda itu menjawab ia telah mentaati segala perintah Tuhan, tetapi sebenarnya Tuhan sendiri akhirnya yang membongkar hati pemuda itu. Tuhan membongkarnya dengan menyuruhnya menjual seluruh hartanya dan membagikannya kepada orang miskin lalu mengikut Tuhan. Pemuda itu langsung gagal. Maka waktu ia berkata bahwa ia telah melakukan semuanya, sebenarnya itu hanya secara permukaan saja. Perbuatan-perbuatan baiknya hanya diukur dengan standar orang-orang lain pada saat itu. Ini sekali lagi menekankan poin the impossibility of salvation by works. Tidak mungkin manusia diselamatkan hanya melalui usahanya sendiri, betapa pun hebat, besar dan sungguh-sungguhnya ia melakukan perbuatan baik itu. Bila manusia melakukan itu tanpa didasari oleh hidup yang telah mati bagi Kristus, dan hidup yang baru hidup yang telah diberikan oleh Kristus, maka perbuatan baik apa pun yang kita kerjakan hanyalah seperti yang dikatakan oleh Nabi Yesaya: kain kotor yang tidak berarti. Sesungguh-sungguhnya di dalam hati kita yang telanjang di hadapan Tuhan, tidak ada apapun yang bisa kita kerjakan yang boleh membawa kita diselamatkan di hadapan Tuhan. Tuhan pemilik alam semesta, Tuhan bisa mengerjakan segala sesuatu, Tuhan tidak membutuhkan perbuatan baik kita. Yang Tuhan perlukan ialah hati yang hancur, hati yang remuk, yang sadar bahwa dirinya adalah orang berdosa dan sudah tidak mencapai apa yang Tuhan kehendaki, dan memohon pengampunan dari Tuhan, meminta belas kasihan.

Tuhan selanjutnya menunjukkan bahwa pemuda itu sesungguhnya bukan mengikut Tuhan, tapi mengikut hartanya. Di sini saya ingin menambahkan selain the impossibility of salvation by works, juga ada the snare of wealth/jebakan harta benda. Ini memang sangat sulit, karena sudah tertanam begitu dalam di hidup kita. Betulkah hidup kita tidak mengejar harta? Misalnya, mungkin kita sering kali memilih sekolah dan karir semata-mata karena persoalan ekonomi. Oleh karena itu kita harusnya bertanya kepada diri kita sendiri: apakah pilihan sekolah/karir kita didasarkan oleh karena mengerti kelebihan dan beban yang Tuhan berikan supaya kita boleh berkarya di situ bagiNya, atau karena pada akhirnya lebih mudah mencari uang dan pekerjaan? Alkitab berkali-kali memberi peringatan kepada kita betapa bahayanya cinta uang itu. Terlalu banyak Alkitab mengajar memberi peringatan, sehingga jangan sampai kita kita dibodohi dan dipegang oleh harta yang akhirnya terus menguasai seluruh hidup kita. Biarlah kita belajar dari kisah akan Tuhan yang bertemu dengan pemuda yang kaya dan suskes ini, yang akhirnya pergi dengan sedih sebab tidak dapat melepas hatinya dari hartanya.

Lalu apakah mengikut Tuhan berarti harus hidup miskin? Apakah perintah ini berlaku bagi kita semua? Jawabannya memang pasti tidak, sebab Alkitab mencatat banyak orang-orang kaya yang mengikut Tuhan, misalnya Abraham. Jadi, bukan berarti orang yang mengikut Tuhan harus miskin. Tapi Robert Gundry memberikan satu pernyataan yang menarik, “That Jesus did not command all his followers to sell all their possessions gives comfort only to the kind of people to whom he would issue that command”. Maksudnya, bagi anak muda ini, Tuhan perintahkan dia untuk jual seluruh hartanya, karena Tuhan tahu bahwa harta itu adalah tuhan bagi anak muda itu. Maka kita juga tidak layak mengikut Tuhan apabila kita menjadikan harta sebagai tuhan kita, terlepas dari kita kaya atau miskin. Yang Tuhan tekankan dalam ‘menjual harta untuk dibagikan kepada orang miskin’ ialah di bagian yang kedua, yaitu kemudian perintah untuk kemudian mengikuti Dia. Ini adalah undivided loyalty, kesetiaan yang tidak terbagi-bagi: Tuhanlah yang paling utama. Tuhan bukan menjadi prioritas pertama, kemudian gereja kedua dan keluarga ketiga dst. Tidak, Kristus harus menjadi fokus utama dari seluruh hidup kita. Karena bila Dia menjadi prioritas utama, maka kita akan menjadi tidak bertanggung jawab di bagian-bagian yang lain. Tetapi Kristus sebagai fokus utama berarti memuliakan Tuhan di dalam setiap hal yang kita lakukan di dalam hidup ini.

Undivided loyalty ini tidak bisa muncul dari perbuatan dan kekuatan kita. Kita harus telah mati bersama-sama dengan Kristus dan hidup dengan Kristus di dalam kita, sebelum kita bisa menjadikan Kristus sebagai fokus kita. Tuhan tidak meminta pemuda itu untuk berandai-andai bahwa bila dia menjual seluruh hartanya, agar dia diselamatkan. Tidak, tapi Tuhan tahu bahwa hati pemuda itu dikuasai oleh hartanya. Maka tuhannya itu harus dibuang dan dibunuh dari hidup pemuda itu, sehingga Kristus bisa bertahta di dalam hidup kita. Dan hal itu hanya bisa terjadi kalau Kristus menyelamatkan kita. Oleh karena itulah Tuhan Allah mengirimkan anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus turun ke dunia, datang ke dalam dunia, menjadi manusia, menderita, mati dan bangkit. Bila manusia bisa diselamatkan dengan perbuatan baiknya sendiri, maka Tuhan Yesus tidak perlu datang ke dunia. Firman Tuhan sudah menekankan bahwa hal itu tidak mungkin, sebab selalu ada dosa di dalam perbuatan baik manusia. Karena itulah Kristus harus datang dan mati. Segala sesuatu memang tidak mungkin bagi manusia, tapi mungkin bagi Allah.

Oleh  : Pdt. Budy Setiawan

Dikutip dari : http://lucky-laoh.blogspot.com/2012/09/orang-muda-yang-kaya.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here