MENGUBAH KEGAGALAN MENJADI BATU LONCATAN

0
15

Yohanes 21:1-14

Bila kita mengamati tokoh-tokoh terkenal yang ada di sekitar kita, mereka pun dulunya pernah menalami kegagalan dalam hidupnya sebelum akhirnya menjadi pribadi yang sukses seperti yang kita lihat saat ini. Misalkan saja : J. K. Rowling, dari Single Mother Hingga Jadi Penulis FenomenalMichael Jordan, Dikeluarkan dari Tim Tapi Akhirnya Jadi Atlet Sukses, Thomas Alva Edison, Dulu Jadi Murid dengan Ranking Terendah Kini Jadi Penemu Besar. Pembeda utama antara orang-orang sukses dan gagal adalah soal bagaimana mereka mempersepsi, memaknai dan memberi respon terhadap kegagalan yang ada. John C. Maxwell dalam Failing Forward menuliskan “The difference between average people and achieving people is their perception of and response to…failure.”

BAGAIMANA TUHAN MEMANDANG KEGAGALAN?

Hari ini kita bertemu dengan salah satu tokoh Alkitab yang pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya yaitu Simon Petrus. Yohanes 21 merupakan teladan Alkitab tentang bagaimana cara Tuhan dealing, berdamai dengan kita manakala kita sedang gagal. Dan bukan hanya bagaimana Tuhan dealing, berdamai dengan kita, namun juga tentang apa yang Tuhan selanjutnya bagi kita yang gagal ini. Simon Petrus, adalah pribadi dan murid Kristus yang benar-benar gagal dalam hidupnya. Ia tiga kali menyangkal Tuhan Yesus. Dia berputus asa, dan tidak menyaksikan imannya serta memenangkan dunia bagi Kristus. Mungkin pada saat peristiwa ini Petrus sedang mempertanyakan masa depannya tentang yang akan kubuat atau apa yang akan terjadi … toch aku sudah gagal.

Saat ini Petrus sedang dalam krisis, dan  kebanyak orang ketika sedang dalam keadaan krisis cenderung untuk kembmali ke sesuatu yang dapat membuat dirinya merasa nyaman dan aman. Oleh karena itu, Yohanes 21 dibuka dengan peristiwa dimana Petrus kembali kepada zona nyamannya yakni memancing.

Namun respons Tuhan Yesus terhadap mereka sangat mencengangkan. Respons pertama yang Tuhan berikan kepada kita yang gagal, tidak peduli berapa dalam atau parahnya kegagalan yang pernah terjadi dalam hidup kita adalah dengan memberikan anugerah-Nya. Inilah yang namanya unconditional acceptance, penerimaan Tuhan yang tanpa syarat terhadap kita. Ia menerima kegagalan, ketidak berdayaan, ketidak sanggupan kita apa adanya. Tuhan Yesus bukan hanya memberikan anugerah kepada Petrus, akan tetapi respon kedua yang Ia lakukan adalah dengan memberi pengampunan dan kepercayaan baru. Kepada Petrus yang telah gagal, Tuhan Yesus justru memberikan kepercayaan yang lebih besar. Kepada Petrus yang pernah gagal itu, Tuhan Yesus malah berkata Gembalakanlah domba-dombaku.

Menyadari bahwa kasih-Nya yang besar telah menghadirkan anugerah dan pengampunan bagi hidup kita, maka kita pun perlu melihat dan meresponi kegagalan sesuai pandangan-Nya. Bukan menyerah atau pun melarikan diri,  melainkan melihat dan memberi pemaknaan baru sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya. Oleh karena itu kita perlu memiliki prinsip-prinsip dasar dalam menyikapi kegagalan, agar tetap dapat maju dan berkemenangan seperti yang dikehendaki oleh Tuhan :

  1. Jika Tuhan sudah menerima, mengampuni dan memulihkan hidup kita yang gagal, maka kita perlu menolak penolakan..
  2. Berhenti menyalahkan orang lain.
  3. Melihat kegagalan sebagai sesuatu yang  temporer dan bukan permanen.
  4. Membangun harapan dan target secara realistic.
  5. Fokus pada kekuatan diri dan bukan pada kelemahan.

 

Dikutip dari : http://gkkadenpasar.com/khotbah/mengubah-kegagalan-menjadi-batu-loncatan/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here