KEMBALI KE HAKIKAT NATAL

0
31

Meskipun kelahiran Yesus ke dunia sangat sederhana, perayaan Natal
kini identik dengan pesta besar dan belanja besar-besaran, rekreasi
dan bersukaria. Namun di bagian lain dari bumi ini, banyak orang
sedang mengalami kelaparan, penganiayaan, dan penderitaan karena
berbagai bencana alam. Bagaimana sikap kita dalam menghadapi semua
itu? Apakah kita akan bersikap acuh tak acuh atau menundukkan kepala
dan turut merasakan penderitaan mereka?

Saya sedang menanti-nantikan hari Natal — seperti tahun yang
sudah-sudah, saya yakin bisnis di seputar Natal akan kembali marak.
Komersialisme akan kembali ditawarkan untuk menyambut hari besar
tersebut. Saya dapat membayangkan suasana seperti apa yang akan
mewarnai hari-hari seputar Natal. Barangkali kita akan mencari pohon
pinus atau cemara hidup untuk dibawa pulang. Jika kedua jenis pohon
tadi sulit diperoleh, mungkin kita akan membeli pohon Natal plastik.
Sesudah itu, seluruh keluarga akan berkumpul dan bersama-sama
menghias pohon Natal itu. Lalu keesokan harinya, kita akan pergi ke
gereja untuk mendengar khotbah Natal yang disampaikan dari mimbar.
Setelah kebaktian usai, kita pun pulang.

Ke mana pun kita pergi, suasananya mirip dan kita akan berulang kali
disuguhi cerita-cerita seputar Natal. Sebagaimana layaknya
memperingati hari-hari besar lainnya, pada hari Natal biasanya kita
menyediakan hidangan istimewa, mengundang kerabat terdekat,
tetangga, atau teman-teman kantor untuk makan bersama di rumah.
Dengan kata lain, setiap kali hari Natal tiba, ada suasana khas
muncul di sekitar kita dan kita pun sibuk mengisi hari-hari itu
dengan aktivitas Natal. Namun sayang, tidak jarang kita menjalani
semua aktivitas tersebut tanpa didasari dengan pemahaman tentang
Natal sesuai maksudnya.

Banyak hal yang menyebabkan keluarga saya menjadi begitu tertarik
dan selalu menunggu-nunggu datangnya hari Natal. Mulai dari
kesempatan bertemu teman lama, melakukan perjalanan ke luar kota,
berkumpul bersama seluruh keluarga, termasuk dengan mereka yang
selama ini jarang bertemu sebab tinggal di kota lain. Meskipun
begitu, sukacita kita kadang-kadang terusik oleh kenyataan bahwa ada
banyak keluarga yang justru sedang berada di ambang kehancuran.

Belum lagi jika kita mulai memikirkan kerusakan lingkungan hidup
manusia yang semakin parah. Menipisnya lapisan ozon di atas sana
telah membuat bumi ini semakin panas. Kondisi udara di sekitar
tempat tinggal kita telah tercemar oleh asap buangan knalpot
kendaraan bermotor, air tanah mungkin mulai tercemar oleh limbah
pabrik yang dibuang sembarangan. Semua itu dapat mengurangi
sukacita. Belum lagi jika kita melihat kecenderungan banyak keluarga
yang tiba-tiba menjadi begitu konsumtif, sementara keluarga lainnya
begitu miskin sehingga tidak tahu pasti apakah esok hari masih bisa
makan atau tidak. Kurangnya pemahaman terhadap dasar-dasar iman
Kristen, khususnya dalam kaitan dengan peristiwa seputar Natal,
membuat banyak di antara kita menjadi kurang peka terhadap
penderitaan yang dihadapi sesamanya. Di satu sisi kita harus
bersukacita, namun di sisi lain ada banyak kekhawatiran. Kedua sisi
itu tarik-menarik sehingga kita menjadi bingung dan tidak tahu harus
melakukan apa.

Memang Natal tidak akan menjadi berkat jika kita melakukannya tanpa
memahami benar makna yang terkandung di dalamnya. Ibarat barang
elektronik, secanggih apa pun teknologi yang diterapkan, semua itu
tidak akan dapat dinikmati jika kabelnya tidak dihubungkan dengan
stop kontak; sebab dari situlah daya listrik itu tersedia. Makna
Natal yang sesungguhnya baru dapat dimengerti secara benar jika kita
dapat menghubungkan antara sukacita Natal pertama ketika hal itu
dulu terjadi dengan sukacita Natal sekarang maupun yang akan datang,
kendatipun manusia dan lingkungannya terus berubah.

Jika kita memerhatikan percepatan pertambahan penduduk dunia dan
membandingkannya dengan daya dukung bumi itu sendiri, pasti kita
akan sampai pada kesimpulan bahwa suatu saat umat manusia akan
menghadapi masalah serius dengan lingkungan. Belum lagi tekanan yang
diakibatkan oleh buruknya situasi ekonomi. Akan banyak tenaga kerja
yang terpaksa di-PHK karena perusahaan tidak lagi berproduksi, alias
bangkrut. Tekanan-tekanan tersebut lebih terasa jika kita hidup di
negara-negara berkembang. Namun di sisi lain, kehidupan terus
berjalan dan kita harus mengisinya.

Sebagai orang percaya, kita pun tidak luput dari semua masalah itu.
Kita sama-sama hidup di dunia dengan lingkungan yang semakin rusak.
Yang seharusnya membedakan antara mereka yang beriman dan yang tidak
adalah sikap dalam menghadapi semua itu. Di tengah-tengah sikap
pesimis sebagian besar orang terhadap masa depan bumi ini, hendaklah
kita tetap optimis. Persoalan lingkungan memang tidak akan hilang
begitu saja hanya karena segelintir orang bersikap dan bertindak
positif terhadap lingkungannya sementara yang lain mengeksploitasi
alam secara tidak bertanggung jawab. Namun sekurang-kurangnya, kita
telah melakukan bagian kita dan memberi pengaruh terhadap pemikiran
dunia yang cenderung pragmatis.

Sebelum menciptakan manusia, Allah lebih dahulu menciptakan berbagai
binatang. Dalam kitab Kejadian dikatakan, “Maka Allah menciptakan
binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup
yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung
yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik” (Kej. 1:21).
Sebelum air bah datang, Allah berkenan menyelamatkan setiap binatang
masing-masing sepasang melalui bahtera Nuh.

Dalam kitab Ayub, Allah berkata kepada Ayub dari dalam badai, “Di
manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah,
kalau engkau mempunyai pengertian! Siapakah yang telah menetapkan
ukurannya? Bukankah engkau mengetahuinya? –Atau siapakah yang telah
merentangkan tali pengukur padanya?” (Ayb. 38:4-5)

Dari pembacaan firman Tuhan tersebut, dapat disimpulkan bahwa alam
semesta ini diciptakan Tuhan dengan perhitungan yang matang. Antara
satu ciptaan dan ciptaan lainnya seharusnya ada interaksi harmonis
dan saling menguntungkan sehingga kehidupan yang satu menopang
kehidupan yang lain. Jika bumi yang kita huni ini kita eksploitasi
secara berlebihan, keseimbangan ekologi akan terganggu dan mulailah
muncul berbagai bencana alam.

Dengan munculnya berbagai persoalan yang semakin berat menekan
kehidupan umat manusia, bagaimana mungkin kita dapat merayakan Natal
dengan pemahaman bahwa setiap Natal harus ada pakaian baru untuk
anak-anak, makanan istimewa, suasana ceria, bahkan berekreasi ke
luar kota? Tetapi sebaliknya, apakah dengan tidak adanya hal-hal
semacam itu, maka kita tidak dapat lagi bersukacita dalam melewati
Natal? Lagi-lagi semua itu bergantung kepada anggapan masing-masing
kita tentang Natal. Jika jiwa konsumtif telah merasuki kehidupan
kita sehingga hakikat Natal itu identik dengan berbelanja pakaian
dan sepatu baru, pada saat tidak ada uang menjelang Natal akan sulit
untuk bersukacita.

Kita tidak mungkin mengubah keadaan sekitar kita menjadi seperti
yang kita inginkan. Yang paling mungkin adalah membangun sikap
positif terhadap semua keadaan yang kurang menguntungkan sekalipun.
Kita hendaknya mulai mengikis anggapan bahwa Natal identik dengan
pakaian baru dan makanan istimewa sehingga tanpa itu semua, perayaan
Natal menjadi kurang lengkap — padahal dahulu Yesus yang adalah
Pencipta alam semesta ini datang ke dunia dengan keadaan sangat
sederhana. Meskipun begitu, momen ini sangat penting, sebab itulah
peristiwa kelahiran Sang Juru Selamat, penebus dosa umat manusia.
Para gembala di padang pun bersukacita dengan apa yang ada pada
mereka. Mereka datang dan melihat bayi Yesus, lalu kembali ke tempat
kerja mereka dengan ucapan syukur kepada Allah.

Dunia bisnis memang telah membawa kita kepada pola hidup konsumtif.
Seolah-olah kita kerja setahun hanya untuk dihabiskan seminggu,
yakni pada saat merayakan Natal. Kita merayakan Natal semeriah
mungkin tanpa peduli dengan penderitaan masyarakat sekitar.
Akibatnya, kita tidak menjadi berkat bagi orang lain, bahkan
sebaliknya, menimbulkan kecemburuan sosial yang tidak mustahil dapat
menyulut munculnya perasaan benci. Bukankah itu tidak kita harapkan?

Kita tidak mungkin mengubah keadaan sekitar kita menjadi seperti
yang kita inginkan. Yang paling mungkin adalah membangun sikap
positif terhadap semua keadaan yang kurang menguntungkan sekalipun.

Dikutip dari : http://sekolahminggu.blogspot.com/2007/12/renungan-natal.html

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here