Jaminan Pemeliharaan TUHAN dalam Perjalanan Kehidupan Ibadah Kita

0
12

Mazmur 121:1-8

 

 

Pembacaan Nats:
1 Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?
2 Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.
3 Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap.
4 Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.
5 Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.
6 Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam.
7 TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu.
8 TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.

Pengantar:
Pada suatu malam, seorang remaja yang terkenal malas tapi Pe-De (Percaya Diri), ditanya oleh ayahnya, “Nak, besok kamu ujian! Kamu sudah belajar belum, Nak?!”

Dasar anak malas, dia dengan tenang menjawab, “Tenang saja, Pak! Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.”

Sang ayah geleng-geleng kepala. Tapi karena tidak mau kalah, ayahnya pun berkata, “Memang ayat itu menguatkan sekali, Nak. Dan kelanjutan ayat itu berbunyi, ‘Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.’ Dan Ayah rasa, demikian juga dengan penjaga ujianmu, Nak!”

Saudara-saudara, berapa banyak diantara kita yang merasa senang mendengar ayat-ayat ini dibacakan?! Perkataan-perkataan yang sangat menghibur, bukan?! Bahkan untuk orang-orang yang hendak berlaku curang sekalipun, ayat-ayat ini bisa terdengar begitu “menguatkan”! Padahal ayat-ayat yang kita baca ini, lebih tepat ditujukan kepada orang-orang yang beriman dan beribadah kepada TUHAN, bukan untuk orang-orang yang hendak melawan TUHAN.

Isi Kotbah:
Pada ayat pertama kita menemukan keterangan bahwa ayat-ayat ini adalah sebuah syair nyanyian ziarah/perjalanan ibadah. Frasa “nyanyian ziarah” yang tercantum di bagian pertama Mazmur 121 ini adalah frasa kunci untuk menafsirkan makna ayat-ayat yang berikutnya. Dari frasa “nyanyian ziarah” itu, kita mengetahui bahwa Mazmur ini adalah sebuah syair nyanyian yang dinyanyikan oleh umat yang sedang dalam perjalanan menanjak menuju Bait Allah di Yerusalem, untuk beribadah kepada TUHAN. Karena itu, Mazmur ini harus ditafsirkan dalam konteks “kehidupan ibadah umat kepada TUHAN.”

Bagi kita yang hidup di zaman ini, Mazmur ini tetap relevan ketika kita mengingat bahwa kehidupan kita saat ini adalah juga sebuah “perjalanan ibadah” menuju sorga yang kekal; menuju langit dan bumi yang baru. Ketika saya mengatakan istilah “ibadah” dalam kotbah saya ini, itu bisa bermakna kebaktian seperti yang sedang kita lakukan sekarang ini, namun bisa berarti juga kehidupan keseharian kita sebagai orang Kristen. Jadi, mari kita mempelajari Mazmur ini dalam konteks “perjalanan ibadah” kita itu!

Syair Mazmur 121 ini terdiri dari empat bagian sebagai berikut:

Bagian Pertama, TUHAN memelihara kita mengawali perjalanan ibadah kita.

Bayangkan Saudara sedang ada bersama-sama rombongan Israel, yang sedang berjalan menanjak menuju Bait Allah di Yerusalem. Sembari berjalan perlahan menanjak untuk beribadah, Saudara kemudian berkata bersama Pemazmur, “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?” (ayat 1). Melalui kalimat ini, Saudara bertanya, siapakah yang dapat menolong aku ketika aku memulai perjalanan ziarah ini; ketika aku memulai kehidupan ibadah kita kepada TUHAN.

Ketika Pemazmur bertanya, “dari manakah akan datang pertolonganku?” Kata “pertolongan” disini, mengindikasikan adanya tantangan, bahkan bahaya, yang sedang dihadapi oleh umat Allah! Sebelum mengawali ibadah kepada TUHAN, pernahkah Saudara dengan sungguh-sungguh matang, memikirkan resiko yang akan Saudara tempuh? Pergi beribadah kepada TUHAN bukannya tanpa tantangan! Hidup beribadah kepada TUHAN bukan berarti tidak ada bahaya! Banyak perkara di hadapan kita, siap menghadang dan menghalangi kita untuk terus hidup beribadah kepada TUHAN!

Bersama Pemazmur, kemudian Saudara menatap gunung-gunung Yerusalem dan sekitarnya. Pemazmur sadar dan melihat, bahwa di atas gunung-gunung itu terdapat bahaya-bahaya yang dapat membuat ciut hati setiap orang, bahkan sebelum mereka memulai perjalanan. Banyak tantangan yang dapat membuat kita kalah sebelum bertanding, dan tantangan-tantangan itu terbentang di tempat-tempat tinggi seolah menantang kita.

Pada zaman dahulu, orang membangun kuil atau tempat-tempat ibadat untuk menyembah ilah-ilah palsu, di tempat-tempat tinggi seperti bukit ataupun gunung. Ilah-ilah palsu di gunung-gunung itu tak ubahnya seperti perempuan pelacur yang merayu-rayu dan menggoda setiap peziarah untuk menyimpang dari jalan peribadatan kepada TUHAN.

Tentang ilah di gunung-gunung, kita bisa membaca Kitab 1 Raja-raja 11:7-8 sebagai contoh. Di situ kita membaca sebuah tindakan yang nampaknya mencerminkan kebiasaan orang di zaman Perjanjian Lama, “…Salomo mendirikan bukit pengorbanan bagi Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, di gunung di sebelah timur Yerusalem dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon. Demikian juga dilakukannya bagi semua isterinya, orang-orang asing itu, yang mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka.” Jadi gunung dapat menunjuk pada ilah-ilah yang disembah orang.

 

Di dalam Mazmur 121 ini, Pemazmur bertanya, dari manakah akan datang pertolonganku? Di gunung yang satu ada Mezbah untuk Dewa Molokh yang berarti “Raja”. Akankah Molokh menguasaiku? Di gunung yang lain ada Kuil untuk Dewa Kamos yang berarti “Penakluk”. Akankah Kamos menaklukkanku? Ilah-ilah ini menggoda iman kita, para peziarah! Ilah-ilah ini menyimpangkan langkah-langkah kita, para peziarah, yang hendak pergi beribadah kepada TUHAN! Karena itu Pemazmur bertanya, “Dari manakah akan datang pertolonganku?”

Tidak hanya Dewa Kamos dan Dewa Molokh yang menjadi ancaman dan godaan bagi umat TUHAN. Tantangan lain juga muncul dari atas gunung, kali ini berasal dari diri manusia sendiri. Di Perjanjian Lama, ada satu bangsa yang tinggal di atas gunung-gunung karang yang tinggi, dan mereka harus menghadapi tantangan dari diri sendiri yang berbentuk kesombongan. Bangsa yang dimaksud adalah Bangsa Edom. Karena kesombongannya, Bangsa Edom dikecam TUHAN. Mereka dikecam, karena dari atas pegunungan Seir (Kej.36:8) yang berbatu karang kuat [lihat slide], mereka mempertuhan kekuatan dan kebijaksanaan mereka sendiri. Mereka pikir, kekokohan gunung-gunung batu tempat mereka tinggal itu, juga orang-orang bijaksana yang mereka miliki, akan melindungi mereka dari segala macam ancaman dan tantangan. Mereka tidak mencari TUHAN yang menciptakan langit dan bumi; sebaliknya mereka mencari pertolongan dari “diri mereka sendiri” di dalam liang-liang batu di pegunungan Seir.

 

 

Dalam bahasa Ibrani, kata “Edom” menggunakan kata yang sama yang digunakan untuk “Adam, Tanah/Bumi, Merah.” Memang, bangsa Edom ini berasal dari Esau, Si Merah (Kejadian 25:25). Esau itu saudaranya, Yakub (Israel). Jadi Bangsa Edom dan Bangsa Israel itu sebetulnya bersaudara. Dan Bangsa Edom ini juga dapat kita sebut sebagai “manusia bumi”, dan merupakan gambaran dari semua manusia di bumi ini, yaitu dalam hal semangatnya untuk “mempertuhan diri sendiri.”

Dalam Kitab Obaja, kita dapat membaca bagaimana TUHAN, melalui Nabi Obaja, mengecam Bangsa Edom yang mempertuhan kekuatan dan kebijaksanaannya sendiri di atas pegunungan Seir yang berbatu karang teguh dan tinggi itu. Obaja 1:3-4 mencatat Firman TUHAN kepada Edom, “Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: “Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?” Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang-bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan engkau, demikianlah firman TUHAN.”

Juga ayat 8 mencatat, “Bukankah pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, Aku akan melenyapkan orang-orang bijaksana dari Edom, dan pengertian dari pegunungan Esau?” Tidak hanya mengandalkan kekokohan tempat berlindungnya, orang-orang Edom juga merasa sombong dengan orang-orang bijaksana yang dimilikinya. Kalau Anda ingat, ada salah satu teman Ayub yang “bijaksana” bernama Elifas, orang Teman (Ayub 2:11). “Teman” adalah nama daerah yang terletak di wilayah Edom.
Ancaman TUHAN kepada Edom itu pun kemudian digenapi, tidak beberapa lama setelah masa Pembuangan Yehuda berakhir.

Bangsa Edom, diserang oleh Bangsa Nabatea, dan akhirnya orang-orang Nabatea, dengan cerdik berhasil merebut dan menduduki pegunungan Seir. Orang-orang Nabatea sadar bahwa mereka tidak akan sanggup untuk memerangi orang-orang Edom dari luar, karena dengan teknologi yang mereka miliki saat itu, siapakah yang dapat menghancurkan gunung batu karang tempat orang Edom berlindung. Karena itu, dengan cerdik orang-orang Nabatea menyamar sebagai pedagang-pedagang; dan dengan Karavan-karavan mereka, mereka masuk ke liang-liang batu tempat berlindung orang-orang Edom, lalu mereka pun dengan mendadak, menyerang orang-orang Edom. Setelah orang-orang Nabatea berhasil mengalahkan Edom dan merebut pegunungan Seir, mereka kemudian mengukir liang-liang batu itu menjadi bangunan-bangunan-bangunan indah yang masih dapat kita lihat peninggalannya sampai saat ini.

Tidak hanya kesombongan, ada tiga tantangan lain yang muncul dari dalam diri kita sendiri, dan dapat membuat kita tidak setia beribadah kepada TUHAN. Dalam Surat Ibrani 10:25 ditulis, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Ternyata ada orang yang ‘membiasakan’ diri untuk menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah! Jadi ada beberapa bentuk kebiasaan yang menjauhkan orang dari persekutuan.

Kebiasaan pertama, kemalasan. Kebiasaan kedua, menyimpan dosa sehingga tidak tahan kumpul dengan orang-orang benar. Sebagaimana ditulis dalam Mazmur 1:5, “Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar.” Untuk mengatasi “kemalasan” dan “kebiasaan menyimpan dosa”, hanya ada satu kata yang perlu diterapkan, “Bertobat!”

Penyebab internal yang ketiga adalah kekecewaan. Kekecewaan menjadi sebuah tantangan bagi kehidupan ibadah kita. Mungkin kita mengalami pengalaman dirugikan oleh orang! Atau kita mengalami peristiwa traumatis yang membuat kita mempertanyakan kehendak TUHAN bagi kita! Pengalaman-pengalaman kekecawaan dapat membuat kita menjauhkan diri dari persekutuan dan dari ibadah kepada TUHAN.

Untuk mengatasi “kekecewaan” semacam ini, mungkin kita dapat belajar “berpikir dengan benar”, yaitu percaya bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi Dia” (Roma 8:28). Kita juga perlu berlajar berpikir positif atau melihat hal-hal baik yang mungkin muncul dari pengalaman buruk yang kita alami, misalnya kita dapat berkata, “Yah, mungkin saya memang harus mengalami kerugian ini, demi menolong dia memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya! Contoh lain, seorang pengkotbah pernah menceritakan pengalamannya menuntut ilmu di Negeri Belanda. Beberapa tahun studi di sana, kemampuan Bahasa Belandanya tidak juga baik. Seringkali, ucapan Bahasa Belandanya ditertawakan orang. Dia menjadi kecewa dan marah karena ditertawakan. Tapi kemudian ia mencoba berpikir positif, “Yah, mungkin dengan begini saya bisa menghadirkan tawa dalam kehidupan oranglain.”

Dengan berpikir secara benar; dengan berpikir positif, kita tidak perlu hanyut dalam kekecewaan, apalagi sampai kemudian meninggalkan ibadah kepada TUHAN. Justru pengalaman kekecewaan yang kita alami, dapat kita jadikan contoh untuk menguatkan kehidupan diri kita sendiri di masa depan dan untuk menguatkan kehidupan oranglain. Kita harus senantiasa mengingat pernyataan Penulis Ibrani, “marilah kita semakin giat” untuk hadir dalam pertemuan-pertemuan ibadah kita; untuk saling menasihati. Ingat! Kedatangan TUHAN sudah dekat.

Selain tantangan-tantangan dari dalam, bagi kita saat ini ada pula tantangan dari luar, yaitu dari anggota keluarga, dari pihak agama lain, atau dari pemerintah. Inilah yang dihadapi saudara-saudara seiman kita, misalnya di GKI Yasmin, Bogor. Pihak-pihak luar itu telah menjadi alat-alat Setan untuk menghalangi umat TUHAN beribadah kepada TUHAN.

Jadi, sebelum Saudara memutuskan untuk pergi memulai perjalanan ibadah kepada TUHAN, sadari bahwa banyak bahaya; tantangan; ancaman, terbentang di hadapan kita. Saudara yakin mau maju?! Atau Saudara sudah merasa ciut dan kalah sebelum bertanding?! Saudara ingin mengalami mujizat atau pertolongan TUHAN? Maka Saudara pun harus berani mengakui dan menghadapi tantangan terlebih dahulu! Banyak orang Kristen ingin “mujizat”, tapi tidak bersedia mengalami “tantangannya.” Kalau ingin “mujizat”, ya, terima dulu, donk, “tantangannya.” Siapkan hati Saudara, karena banyak orang akhirnya menjadi kecewa, setelah akhirnya mengalami bahwa beribadah kepada TUHAN itu tidak semudah yang mereka bayangkan!

Pemazmur menyadari dan melihat adanya tantangan yang ada. Karena itu ia bertanya, “dari manakah akan datang pertolonganku?” Namun kemudian ia mengungkapkan pengakuan imannya, “Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.” Bersama Pemazmur kita dapat berkata, “Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.”

Saudara-saudara, apabila di tengah segala tantangan yang ada, hari ini; pagi ini; detik ini, kita dapat berjalan dalam kehidupan ibadah kepada TUHAN, maka itu semua adalah karena pertolongan TUHAN. Itu sebabnya, pada saat tadi kita memulai kebaktian, kita mengucapkan sebuah ungkapan pengakuan, atau yang biasa kita sebut “votum”, yang berbunyi, “Pertolongan kita ialah dari TUHAN yang menciptakan langit dan bumi”, terambil dari Mazmur 124:8. Bunyi votum ini mirip dengan bunyi Mazmur 121:2 yang tadi kita sudah baca. Dan kalimat votum ini pun kemudian dilanjutkan dengan “salam” sapaan, “kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus, menyertai kita sekalian.”

Perlu diingat, votum dan salam ini bukan doa. Jadi ketika Saudara mengucapkannya, tidak perlu menunduk dan tutup mata. Di beberapa gereja lain, votum dan salam itu biasanya diresponi jemaat. Jadi setelah Pendeta mengucapkan, “Pertolongan kita ialah dari TUHAN yang menciptakan langit dan bumi. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus, menyertai kita sekalian,” jemaat pun membalas dengan mengucapkan, “dan menyertai engkau juga.” Ini mirip seperti ketika orang Arab mengucapkan, “Asalamualaikum”, dan orang lain pun membalas, “Walaikumsalam.”

Mulai minggu depan, ketika Saudara mengucapkan votum dan salam di awal kebaktian! Ucapkanlah itu dengan mengingat Mazmur 124 dan juga Mazmur 121. Ucapkanlah itu dengan iman dan ucapan syukur. Sadari tantangan dan bahaya yang terbentang di hadapan Saudara, tapi hadapi itu bersama TUHAN. Beribadah kepada TUHAN tidak mudah, tapi layak untuk dihidupi. Mengapa demikian? Jawaban untuk pertanyaan ini dapat Kita temukan dalam poin-poin yang berikutnya. Namun satu hal yang pasti, dalam bagian pertama ini kita belajar bahwa TUHAN memelihara kita mengawali perjalanan ibadah kita.

Bagian Kedua, TUHAN memelihara kita terhindar dari kebinasaan kekal.

Bayangkan Saudara sedang ada bersama-sama rombongan Israel, yang sedang berjalan menanjak menuju Bait Allah di Yerusalem. Sembari berjalan perlahan menanjak untuk beribadah, Saudara kemudian berkata bersama Pemazmur, “Ia (TUHAN) takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel” (ayat 3-4).

Di dalam perjalanan ibadah yang menanjak, penuh tantangan yang menggetarkan, mudah sekali bagi kaki kita untuk goyah. Frasa “kaki yang goyah” dalam ayat ini mengingatkan saya pada kotbah seorang pendeta terkenal dari Tanah Amerika, yaitu Pendeta Jonathan Edwards. Pada tanggal 8 Juli 1741, pada masa Kebangunan Rohani Besar di Tanah Amerika, Pendeta Jonathan Edwards mengkotbah satu kotbah yang berjudul, “Orang-orang Berdosa di Tangan Allah yang Murka.” Kotbah ini mengangkat Ulangan 32:35 sebagai nats kotbahnya. Di dalam Ulangan 32:35 memuat frasa berbunyi, “…pada waktu kaki mereka goyang.” Kata “goyang” dalam Ulangan 32:35 yang dikotbahkan Edwards, berasal dari bahasa Ibrani מוֹט mowt (Baca: mote). Kata ini adalah kata yang sama yang digunakan untuk kata “goyah”, dalam Mazmur 121:3 yang sudah kita baca.

 

Ketika mengkotbahkan Ulangan 32:35 ini, Edwards mengkaitkan ungkapan “kaki yang goyah” ini dengan penghukuman dan penghancuran Israel akibat dosa-dosa mereka. Ketika Pemazmur berkata, “Ia (TUHAN) takkan membiarkan kakimu goyah”, itu berarti bahwa TUHAN tidak akan membiarkan umat pilihanNya jatuh ke dalam kehancuran dan hukuman kekal. Ini menjadi sebuah jaminan bagi umat TUHAN. Dan bagi kita yang hidup setelah masa pelayanan Yesus Kristus di dunia, janji itu semakin dipertegas melalui ucapan Yesus dalam Yohanes 10:28, “dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.” Ketika kita telah dilahirkan baru oleh Allah, keselamatan kita dijamin oleh TUHAN. Apa pun, bahkan Setan sekalipun, tidak dapat merebut kita dari tangan TUHAN, lalu membawa kita ke neraka. Tidak mungkin bisa!

Mendengar jaminan keselamatan yang semacam ini, orang lalu menuduh orang Kristen demikian, “Lihat itu orang Kristen! Keselamatannya sudah dijamin. Karena itu mereka bisa minum mabuk, main perempuan, dan mencuri seenaknya.” Ini tuduhan klasik! Namun setiap orang percaya mengerti bahwa “seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:26). Setiap orang yang sudah menerima anugerah iman melalui kelahiran baru, pastilah mengekspresikan imannya itu melalui perbuatan baik, meskipun terbatas dan tidak sempurna.

Pemazmur dalam Mazmur 121 yang tadi kita baca kemudian menekankan, “Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.” Istilah “penjaga” dalam ayat ini menggunakan bahasa Ibrani (שָׁמַר shamar. Baca: shaw-mar’) yang sama seperti yang digunakan dalam:

  1. Kejadian 4:9 ketika Kain berkata, “Apakah aku penjaga adikku?” Seorang kakak yang baik tentu akan melindungi adiknya.
  2. Dan kata Ibrani yang sama juga digunakan dalam Ester 2:3 yang mencatat tentang “Hegai, sida-sida raja, penjaga para perempuan.” Seorang penjaga para perempuan milik raja tentu akan merawat dan memperhatikan keperluan dan hal-hal baik yang diperlukan para perempuan itu.
  3. Juga dalam 1 Samuel 17:20, “Lalu Daud bangun pagi-pagi, ditinggalkannyalah kambing dombanya pada seorang penjaga.” Seorang penjaga kambing domba yang baik tentu akan memelihara ternak yang dititipkan kepadanya.
  4. Juga dalam 1 Samuel 17:22, “Lalu Daud menurunkan barang-barangnya dan meninggalkannya di tangan penjaga barang-barang tentara.” Seorang penjaga penitipan barang yang bertanggungjawab tentu tidak akan membiarkan barang yang dititipkan orang kepadanya rusak.

Jadi ungkapan “penjaga” disini bernuansa “melindungi; merawat; memperhatikan keperluan dan kebaikan dari pihak/benda yang dijaga.” Karena itu, tepatlah jika istilah “menjaga” disini kita terjemahkan dengan kata “memelihara”.

Ketika Pemazmur menyatakan bahwa TUHAN adalah “penjaga” atau “shamar”, itu berarti bahwa dalam perjalanan ibadah kita kepada TUHAN, Ia pasti memelihara iman kita sehingga kita tidak binasa; Ia memelihara kehidupan rohani kita sehingga kita tidak kehilangan kehidupan kekal kita; dan Ia memelihara dengan memperhatikan apa yang menjadi keperluan dan kebaikan kehidupan spiritualitas kita. Kehidupan ibadah dan kerohanian kita, dipelihara oleh TUHAN seperti seharusnya Kain menjaga Habil; seperti Hegai memelihara Ester dan para perempuan di istana raja; seperti penjaga kambing domba dan penjaga barang-barang perlengkapan tentara memelihara ternak dan barang-barang yang Daud titipkan.

Pemazmur mengatakan bahwa dalam memelihara iman kita dari kebinasaan, Allah “tidak terlelap dan tidak tertidur.” Ia tidak membiarkan iman kita kepadaNya gugur. Allah kita berbeda dengan Dewa Baal yang disembah orang Israel di zaman Raja Ahab. Ketika nabi-nabi Baal bertanding dengan Elia untuk membuktikan siapa sesungguhnya Allah yang hidup itu! Kitab 1 Raja-raja 18:26 mencatat aksi para nabi Baal itu, “Mereka mengambil lembu yang diberikan kepada mereka, mengolahnya dan memanggil nama Baal dari pagi sampai tengah hari, katanya: “Ya Baal, jawablah kami!” Tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab. Sementara itu mereka berjingkat-jingkat di sekeliling mezbah yang dibuat mereka itu.”

 

Apa yang kemudian Nabi Elia lakukan? Ayat 27 mencatat, “Pada waktu tengah hari Elia mulai mengejek mereka, katanya: “Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga.” Dewa Baal telah membiarkan iman para pengikutnya gugur, namun tidak demikian dengan Allah yang disembah Elia. Ia adalah Allah yang hidup, dan mengirimkan api dari langit untuk membakar habis korban persembahan yang dipersiapkan Elia di atas Gunung Karmel. Allah sungguh-sungguh penjaga Israel yang tidak tertidur maupun terlelap.

Memang, dalam perjalanan kita beribadah kepada TUHAN, ada saja kemungkinan bagi kita untuk mengalami kejatuhan ke dalam dosa; atau untuk menjadi kecewa kepada TUHAN. Namun Mazmur 37:23-24 menyatakan, “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” Juga Amsal 24:16 mencatat, “Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali.” Bersama Pemazmur kita dapat mengakui bahwa, sungguh, dalam perjalanan ibadah kita, TUHAN memelihara kita terhindar dari kebinasaan kekal.

Bagian Ketiga, TUHAN memelihara sampai kita menerima jaminan sorga bagian kita.

Bayangkan Saudara sedang ada bersama-sama rombongan Israel, yang sedang berjalan menanjak menuju Bait Allah di Yerusalem. Sembari berjalan perlahan menanjak untuk beribadah, Saudara kemudian berkata bersama Pemazmur, “Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu. Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam” (ayat 5-6).

Berjalan menanjak menuju Bait Allah, adalah sebuah perjalanan beratapkan langit. Matahari terik memancar di siang hari, dan rembulan bersinar di malam senyap. Dalam ayat 5-6 ini, Pemazmur menyatakan bahwa TUHAN itu naungan kita. Dalam bahasa Ibraninya, kata “naungan” ini juga berarti “bayangan”. Bayangan yang dimaksud disini adalah bayangan tempat kita berlindung dari teriknya sinar matahari di siang hari atau bayangan tempat kita bersembunyi dari cahaya rembulan di malam hari.

Contoh untuk memperjelas adalah sebagai berikut: Di siang hari yang terik, Anda sering berusaha berlindung dari teriknya sinar matahari dengan berdiri di atas bayangan pohon atau bangunan bukan? Suatu hari isteri saya mengawasi anak-anak didiknya di tingkat Sekolah Dasar yang sedang menjalani upacara bendera di bawah terik matahari pagi. Isteri saya berdiri sedemikian rupa, sehingga menimbulkan bayangan di tanah yang berlawanan arah dengan matahari. Seorang siswa SD itu diam-diam memindahkan posisi berdirinya dan berdiri tepat di atas bayangan isteri saya. Ia tahu kalau ia berdiri di atas bayangan gurunya yang lebih tinggi badannya itu, ia akan terlindung dari teriknya sinar matahari yang ada di arah sebaliknya. Pemazmur menggunakan fenomena ini untuk menggambarkan jaminan perlindungan TUHAN atas kita.

 

Pemazmur kemudian menulis bahwa TUHAN membayangi kita “di sebelah tangan kanan” kita. Apa maksudnya? Ada dua maksud dari frasa ini:

  1. Ini menunjukkan bahwa Allah menjadi teman seperjalanan kita. Ia mendampingi kita dan berdiri di samping kita, sampai kita mencapai tujuan perjalanan kita, yaitu Sorga.
  2. Sebelah kanan melambangkan “kehormatan atau keutamaan.”

Perlindungan TUHAN tidak boleh kita salah gunakan untuk berbuat sesuka hati. Seperti yang saya katakan tadi, ada orang-orang yang menuduh bahwa jaminan keselamatan yang diperoleh orang Kristen, seolah-olah menjadi tiket untuk kita melakukan tindakan-tindakan jahat. Toh, pada akhirnya kita akan masuk surga. Tapi dalam ayat ini, Pemazmur mengingatkan, “Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.” Sebelah kanan melambangkan “kehormatan atau keutamaan.”

Ketika Yakub menyilangkan tangannya saat memberkati Efraim dan Manasye, Efraim yang bungsu menerima tumpangan tangan kanan, sedangkan Manasye yang sulung justru menerima tumpangan tangan kiri, ini menunjukkan bahwa Efraim akan menerima kehormatan atau menerima berkat yang utama (Kej.48:14). Demikian juga ketika dikatakan bahwa Yesus naik ke sorga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Itu bukan berarti bahwa di sorga ada tiga singgasana. Kalimat ini hanya hendak menunjukkan bahwa Yesus naik ke sorga untuk menduduki tempat terhormat dan yang utama (1 Petrus 3:22).

 

Kalau TUHAN berada di sebelah kanan kita, itu berarti kita harus hidup dalam penghormatan kepada Dia; menjadikan Dia yang terutama dalam hidup kita. Meskipun Ia menjamin keselamatan kita; dan menjamin bahwa sorga akan kita peroleh sepenuhnya kelak, namun bukan berarti kita dapat menjalani kehidupan saat ini dengan seenaknya, tanpa menghormati Dia dan tanpa mengutamakan Dia. Tidak bisa demikian!

TUHAN itu berdiri menaungi kita sedemikian rupa, sehingga kita dapat berlindung dengan berdiri di atas bayang-bayang-Nya. Pertanyaannya, berlindung dari apa? Pemazmur menulis, dari “matahari yang menyakiti pada waktu siang, dan bulan pada waktu malam”.

Kalimat ini sebetulnya bernada eskatologis atau mengarahkan pandangan kita ke masa depan. Di dalam Wahyu 22:5 dicatat bahwa di sorga yang menjadi tempat tinggal kita kelak, “malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.” Jadi, ada jaminan dari TUHAN bahwa Ia akan mengawal kita di hingga tiba di tempat dimana matahari tidak lagi diperlukan karena sudah ada TUHAN yang menerangi, dan bulan tidak lagi diperlukan karena tidak ada lagi malam.

Di dalam Perjanjian Lama, ada tiga lambang kejahatan atau bahaya: (1). Samudera; (2). Gurun; dan (3). Malam. Tapi melalui Mazmur 121:5-6, TUHAN menjanjikan kepada kita bahwa Ia akan melindungi kita di bawah bayang-bayang-Nya sampai kita tiba di tempat dimana matahari dan bulan tidak diperlukan lagi; suatu tempat dimana tidak ada lagi malam; tidak ada lagi bahaya yang mengancam; tidak ada lagi kejahatan, yaitu sorga.

Dalam ayat ini, penjagaan TUHAN tidak berhenti hanya sampai pada melindungi kita dari kebinasaan, tapi lebih dari itu, TUHAN menjamin kehidupan kekal di sorga kelak. Sebagai orang Kristen, pada detik ketika kita lahir baru, kita memperoleh kehidupan kekal, namun kita masih hidup di dunia dan tidak langsung diangkat ke sorga! Kita masih harus menjalani perjalanan ibadah/ziarah di dunia ini. Dan ayat ini menjadi jaminan, bahwa di dalam perjalanan ibadah/ziarah itu, TUHAN memelihara sampai kita menerima jaminan sorga bagian kita.

Bagian Keempat, TUHAN memelihara keberlanjutan perjalanan ibadah kita.

Bayangkan Saudara sedang ada bersama-sama rombongan Israel, yang sedang berjalan menanjak menuju Bait Allah di Yerusalem. Sembari berjalan perlahan menanjak untuk beribadah, Saudara kemudian berkata bersama Pemazmur, “TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya” (ayat 7-8).

Kata “kecelakaan” disini berasal dari bahasa Ibrani רַע ra` (baca: rah), yang berarti keburukan atau kejahatan. Kemudian dikatakan, “Ia akan menjaga nyawamu”. Kata “nyawa” disini berasal dari bahasa Ibrani נֶפֶשׁ nephesh (baca: neh’-fesh), yang berarti jiwa atau hidup. Jadi melalui kalimat pertama ini, Pemazmur menyatakan bahwa TUHAN akan memelihara jiwa dan hidup kita dari segala keburukan dan kejahatan.

Pertanyaan muncul dalam batin saya. Lalu mengapa dalam Alkitab, dan juga dalam Sejarah Gereja, banyak orang-orang kudus TUHAN; banyak orang-orang Kristen, tetap saja mengalami hal-hal buruk, bahkan menderita karena kejahatan oranglain?! Apakah itu berarti, Firman TUHAN ini tidak berlaku dalam kehidupan mereka?! Ataukah sebetulnya TUHAN itu ingkar terhadap janjiNya?!

Kita harus membaca ayat 7, dengan menempatkannya dalam konteks kalimat yang berikutnya di ayat 8, “TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.” Keluar masuk darimana dan kemana?! Karena Mazmur 121 ini berbicara dalam konteks perjalanan ibadah umat kepada TUHAN ke Bait Allah, maka tentu yang dimaksud adalah keluar masuk Bait Allah.

Istilah “keluar masuk” disini menunjukkan bahwa ibadah umat ini tidak hanya berlaku sekali seumur hidup, namun berulangkali dalam kehidupan umat. Hal ini makin dipertegas dengan kalimat “dari sekarang sampai selama-lamanya.” Jadi ketika TUHAN mengatakan bahwa Ia akan memelihara kita dari segala yang jahat, itu harus dibaca dalam konteks ibadah. Maksudnya adalah, tidak satu pun anazir jahat, yang akan dapat menghentikan perjalanan ibadah kita kepada TUHAN untuk seterusnya.

Selama kita hidup di dunia, kita mungkin dapat sakit; kita mungkin dapat mengalami pengalaman dirugikan oranglain; kita mungkin dapat mengalami dianiaya oleh sesama kita; kita mungkin dapat mengalami kelaparan, telanjang, bahkan karam kapal seperti Rasul Paulus, namun melalui Mazmur 121:7-8 ini, kita percaya bahwa tidak satu anazir jahat pun dapat menghentikan perjalanan ibadah kita kepada TUHAN untuk seterusnya.

Kalau perlu kita beribadah kepada TUHAN dari atas ranjang rumah sakit; kalau perlu kita beribadah kepada TUHAN dalam kerugian; kalau perlu kita beribadah kepada TUHAN dengan luka-luka; kalau perlu kita beribadah kepada TUHAN dalam semua pengalaman kesusahan yang pernah Rasul Paulus alami. Namun di dalam semua itu, tidak satu anazir jahat pun dapat menghentikan perjalanan ibadah kita kepada TUHAN untuk seterusnya. Melalui ayat ini kita percaya, bahwa TUHAN memelihara keberlanjutan perjalanan ibadah kita.

Kesimpulan
Demikian, di bawah tema: Jaminan Pemeliharaan TUHAN dalam Perjalanan Kehidupan Ibadah Kita, kita dapat belajar empat poin:
1. TUHAN memelihara kita mengawali perjalanan ibadah kita.
2. TUHAN memelihara kita terhindar dari kebinasaan kekal.
3. TUHAN memelihara sampai kita menerima jaminan sorga bagian kita.
4. TUHAN memelihara keberlanjutan perjalanan ibadah kita.
Kiranya TUHAN senantiasa memelihara kita untuk dapat berpegang pada janji FirmanNya ini. Amin.

 

 

Oleh : Oleh: Ev. NT Prasetyo, M.Div.

Dikutip dari : https://ntprasetyo.wordpress.com/2013/01/27/jaminan-pemeliharaan-tuhan-dalam-perjalanan-kehidupan-ibadah-kita/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here