Buah-buah Roh

0
11

Galatia 5:22-26

Pendahuluan

Sebuah mesin hanya akan menghasilkan suatu produk atau barang, tetapi tidak mungkin menghasilkan buah. Buah harus timbul dari kehidupan. Manusiapun demikian, selama ia masih mati secara rohani ia tidak bisa bertumbuh,  sekalipun diberi pupuk apapun (misalnya: etika humanistik, peraturan-peraturan) tidak akan bertumbuh, ibarat batu yang disirami air, pupuk namun tidak bisa bertumbuh.

Bagaimana kita memiliki hidup yang bertumbuh?

PERTUMBUHAN DIMULAI DENGAN KEHIDUPAN.

Manusia hanya bisa dihidupkan oleh Roh Kudus (ay.25). Itu yang Roh Kudus kerjakan dalam diri Paulus, sebelumnya ia seorang yang mati secara rohani, sehingga buah yang dihasilkan semata-mata hanyalah dosa (Pembunuhan pengikut-pengikut Kristus dan hamba-hamba Tuhan). Setelah ia dihidupkan Roh di jalan menuju Damsyik, ia mengalami pertumbuhan yang pesat bahkan berbuah banyak.

Orang yang telah dihidupkan Roh akan menyadari bahwa hidupnya adalah milik Yesus. Paulus di dalam ayat 24 mengatakan Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Kata menyalibkan (stauroō), kata menyalibkan merupakan metafora dari sikap seorang percaya yang meninggalkan cara hidupnya yang lama. Kedagingan tidak lagi memerintah atas kita, tetapi Kristuslah yang  memerintah atas kita oleh Roh-Nya. Roh Kudus yang menghidupkan kita dan kemudian memimpin hidup kita.

PERTUMBUHAN ADALAH SUATU PROSES.

Di ayat 16-18, Paulus membahas tentang  2 pilihan: hidup menurut daging atau hidup menurut Roh. Tidak ada tempat yang netral. Setiap orang percaya harus memilih untuk hidup dipimpin Roh atau hidup menurut daging.  Daging dan Roh adalah 2 hal yang berlawanan. tidak mungkin orang yang hidupnya dipimpin Roh sekaligus dipimpin dagingnya/nafsunya. Kata dipimpin merupakan istilah hukum untuk menggambarkan seorang kondisi seorang tahanan. Seorang tahanan berada di bawah otoritas orang lain dan tidak punya hak apapun. demikianlah ketika seseorang dipimpin oleh Roh, maka Roh berotoritas atas dirinya, dia hanya punya satu pilihan yaitu mentaati kehendak Roh.

Tidak ada Buah yang tumbuh dalam semalam, demikian juga tidak ada orang percaya yang dapat berbuah dengan sempurna dalam waktu semalam. Ia akan tumbuh dari waktu ke waktu.    Kita harus membiarkan Roh Kudus membimbing kita, Ia akan mengarahkan kita masuk dalam proses pertumbuhan dan  buah. Kita harus rela masuk dalam proses. Di dalam  itu  Ia akan membawa kita ke dalam berbagai-bagai ujian yang akan mengembangkan dan menyempurnakan buah dalam diri kita. Jangan  mencoba untuk memperpendek waktu proses.

Proses pertumbuhan berlangsung seumur hidup tetapi proses berarti ada arah yang jelas dalam pertumbuhan.

PERTUMBUHAN MEMERLUKAN KASIH KARUNIA.

Buah yang dihasilkan adalah hasil dari kedekatan dengan Roh Kudus (ay.18,25) bukan etika humanistik belaka. Masalah yang timbul di Galatia adalah adanya Guru-guru palsu yang  telah menyesatkan orang-orang percaya di  Galatia sehingga mereka berpikir bahwa mereka dapat dibuat lebih benar dan dapat diterima di hadapan Allah atas dasar hukum Musa. Itu sebabnya Paulus menasehati Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. (Gal 5:1 ITB). Orang percaya di Galatia mulai mengukur spiritualitas mereka dengan usaha mereka sendiri. Pendekatan legalistik mereka membuat mereka hakim atas orang lain.

Pertumbuhan ini mustahil  kita hasilkan sendiri, karena Allahlah yang memulai kehidupan di dalam diri kita, maka pertumbuhkan kita bergantung pada kasih karunia Tuhan. Pertanyaannya, apakah Saudara sudah memiliki hidup yang bergantung pada Allah?

Kita akan melihat bagaimana pengertian masing-masing karakter dari buah Roh.

BUAH ROH: SATU BUAH, SEMBILAN RASA

“Buah” Roh yang dipakai di sini berbentuk tunggal, artinya adalah 9 cita rasa ini adalah satu kesatuan yang  harus dimiliki oleh orang yang percaya. Buah Roh yang dihasilkan di dalam kita bukanlah “sembilan buah yang berbeda”, tapi satu “buah” tunggal diwujudkan dalam sembilan kualitas yang berbeda. Ini mengingatkan kita bahwa Roh Kudus menghasilkan buah-Nya dalam diri kita secara keseluruhan – tidak ada musim buah “kasih”, terus buah  “sukacita” adalah musim berikutnya, kemudian “perdamaian” musim berikutnya, dan seterusnya.

Kesembilan karakter buah Roh itu dapat dikelompokkan menjadi 3: pertama  Karakter ini berhubungan dengan Allah (Kasih, Sukacita, Damai sejahtera). Kedua, karakter yang berhubungan dengan sesama (Kesabaran, Kemurahan, Kebaikan). Ketiga,  karakter yang berhubungan dengan diri sendiri (Kesetiaan,  Kelemahlembutan, Penguasaan diri/Kontrol diri).

KARAKTER YANG BERHUBUNGAN DENGAN ALLAH

Kasih (Agape) adalah tindakan  mencari kebaikan tertinggi bagi orang lain. Kasih itulah yang Allah curahkan bagi kita (Rom 5: 5).  Kasih dalam Kristus yang “melampaui pengetahuan” (Ef 3: 16-19). Itulah sebabnya pekerjaan Roh Kudus di dalam diri orang percaya harus menghasilkan cinta satu sama lain (1 Yoh 4: 10-11, 16, 21). Karena kita  “dipimpin oleh Roh” akan Ia akan menghasilkan buah CINTA di dalam hidup kita.

Bersukacitalah (chara) merupakan  sebuah panggilan untuk menjadikan  sukacita sebagai sebuah gaya hidup. Entah kita berada dalam situasi yang menggembirakan atau merugikan. Kita harus terus bersukacita. Sukacita  Kristen adalah  hasil dari sebuah teologi yang mendalam bahwa Allah mengendalikan segala sesuatu untuk kebaikan dan kemuliaan-Nya sendiri dan juga demi kebaikan orang-orang yang mengasihi Dia, dan dengan demikian mereka harus tetap bersukacita tidak peduli bagaimanapun keadaannya. Tuhan adalah sumber sukacita yang tak habis-habisnya.

Damai sejahtera (Eireine). Suasana aman, tentram dan damai sejahtera dalam kehidupan sebenarnya dicari oleh manusia disepanjang zaman di manapun juga. Damai sejahtera yang sejati, tidak bisa diukur oleh uang, rumah , mobil atau apa saja. Damai sejati adalah anugerah Tuhan, “Damai sejahteraKu, Kuberikan kepadamu dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.” Yoh.14:27. Damai sejahtera ini adalah lahir dari keyakinan akan kesempurnaan pemeliharaan Tuhan dalam setiap detail hidup kita. Dengan demikian, tidak ada peristiwa apapun juga yang sanggup mencuri damai sejahtera umat percaya.

KARAKTER YANG BERHUBUNGAN DENGAN SESAMA

Dalam hubungan dengan sesama memang dibutuhkan kesabaran (makrothumia). Mokrothumia punya pengertian panjang sabar dan tekun. Panjang sabar adalah memiliki kualitas pengendalian diri yang baik dalam menghadapi  provokasi. Allah adalah pribadi yang memiliki karakter ini secara sempurna. Karena Ia  panjang sabar, memungkinkan untuk kita  memiliki keselamatan! (2Ptr 3:15) dan bertobat! ( Ro 2: 4). Ini adalah dasar bagi orang percaya untuk saling mengasihi dan mengusahakan kebaikan orang lain.

Karakter yang berikut adalah  Kemurahan (khrestotes).  Karakter ini berarti kebaikan yang dipenuhi dengan kemurahan hati. Khrestotes membuat kita bisa bersikap baik dan murah hati terhadap sesamanya yang membutuhkan, bahkan termasuk kepada mereka yang tidak menyenangkan. Kita sendiri memang sulit melakukan hal ini; tetapi Roh Kudus yang tinggal di dalam kita memampukannya.

Kesabaran dan kemurahan tidak lengkap bila belum ada kebaikan (agathosune). Agathosune berarti kebaikan yang mengandung unsur memperbaiki dan mendisiplin agar orang lain lebih baik. Menurut William Barclay, Agathosune berarti kebaikan dalam pengertian yang luas, yaitu “kebajikan yang tersedia dalam segala perkara”. Di dalamnya terkandung unsur marah dan disiplin. Barclay menjelaskan bahwa Yesus menunjukkan agathosune (kebaikan) ketika Ia mengadakan pembersihan di Bait Allah serta mengusir mereka yang menjadikan tempat itu seperti pasar; tetapi Ia menunjukkan khrestotes (kemurahan) kepada perempuan berdosa yang meminyaki kaki-Nya. Kasih orang Kristen adalah kasih yang mengusahakan kebaikan orang lain. Tindakan kasih yang tidak mengandung disiplin tidak akan menghasilkan kebaikan.

KARAKTER YANG BERHUBUNGAN DENGAN KARAKTER DIRI SENDIRI

Yang pertama dari kualitas ini adalah “kesetiaan” (Pistis). kata ini di dalam teks yang lain diterjemahkan “iman”. Tapi di teks ini, pistis diterjemahkan “kesetiaan” – yaitu, kejujuran dan integritas dalam tindakan kita, dan komitmen dan tanggung jawab kita. Karakter ini merupakan implikasi dari kesadaran bahwa kita memiliki Allah yang Maha Tahu, Maha Melihat. Karena semua tindakan kita, pikiran kita, dan motif kita berada di bawah pengamatan konstan Bapa Sorgawi maka kita harus memiliki karakter setia.

Kualitas kedua berkaitan dengan diri batin kita adalah “kelembutan” Mayoritas bahasa Inggris menerjemahkan lemah lembut (Praus) dengan “meek”. Kata ini digunakan 4 kali dalam PB di (Mat 5: 5; 11:29; 21: 5; 1 Pet 3: 4). Dalam  Yunani Klasik kata ini digunakan untuk menjinakkan anjing, obat yang menenangkan, suara yang  lembut atau angin yang sepoi-sepoi. Kelemahlembutan  adalah sikap hati di mana ia menyerahkan masalahnya dibawah  kontrol  Allah, sehingga ia dimampukan untuk tetap bersikap lembut.

Akhirnya, kualitas terakhir dalam kategori ini adalah “pengendalian diri”.  Mayoritas versi bahasa Inggris menerjemahkan “self control”. Kata ini biasa dipakai untuk menggambarkan raja yang sedang memiliki masalah pribadi, namun mampu mengendalikan dirinya sehingga dia tentap dapat menjalankan roda pemerintahan. Ternyata Orang Kristen diharapkan dapat memiliki karakter ini. Kualitas karakter seperti ini penting untuk menciptakan sebuah komunitas yang baik.

Penutup:

Sudahkah saudara memiliki hidup yang bertumbuh dan berbuah? Semuanya hanya dapat terjadi jika saudara tetap menempel pada Pokok Anggur. Melekatlah kepada-Nya, relakanlah hidupmu dipimpin oleh Roh Kudus, taatilah setiap proses yang Tuhan ijinkan karena itu adalah kesempatan terbaikmu untuk lebih mengenal Allah, bertumbuh  dan berbuah bagi Allah. Amin

Dikutip dari : http://rec.or.id/article_448_Buah-buah-Roh-(Galatia-5:22-26)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here