BERTUMBUH UNTUK MENGHASILKAN BUAH

0
25

Galatia 5:22-23

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”

Hidup oleh iman bukan hanya sebatas dari doa yang dijawab. Hidup oleh iman adalah melakukan Firman Tuhan – bukan hanya saat ibadah atau di kamar sembahyang – tetapi dalam hidup sehari-hari. Saat kita melakukan Firman terjadi pertumbuhan, dan hasil melakukan Firman Tuhan adalah buah-buah iman.

Buah-buah apa yang harus kita hasilkan?
Pertama, buah-buah pertobatan. Pertobatan bukan berhenti pelan-pelan tetapi berhenti melakukan dosa saat itu juga. Pertobatan dari minum minuman keras dan merokok bukan dikurangi pelan-pelan, tetapi harus bertobat saat itu juga.
Kedua, buah-buah iman. Buah-buah iman adalah hasil dari melakukan Firman Tuhan. Jika kita belum menghasilkan buah-buah iman, kita tidak mungkin bisa memiliki buah-buah Roh Kudus.
Ketiga, buah-buah Roh Kudus. Pada umumnya di kalangan Pantekosta mengajarkan bahwa setelah orang percaya dibaptis Roh Kudus maka semuanya beres. Padahal setelah dibaptis Roh Kudus, orang tersebut masih berbuat dosa. Inilah yang membuat orang menjadi kecewa. Beberapa pengajaran tempo dulu juga berkata bahwa kita harus dibaptis Roh Kudus supaya kita ikut dalam pengangkatan dan luput dari sengsara pada zaman Antikristus. Hal ini menyebabkan orang percaya menjadi takut pada sengsara/mati syahid, dan mereka mau dibaptis Roh Kudus supaya bisa ikut dalam pengangkatan.
Kita harus memahami bahwa untuk menghasilkan buah Roh adalah proses. Perbedaan buah Roh dan karunia Roh adalah buah Roh adalah proses sedangkan karunia Roh adalah pemberian. Sebagai manusia lahiriah, kita ditolong oleh Roh Kudus untuk melakukan Firman Tuhan supaya menghasilkan buah Roh Kudus.

Apa rancangan / kehendak Allah atas orang percaya?
Rancangan Allah atas orang percaya yang bersifat jasmani atau materi sebagian besar sudah kita tahu yaitu rancangan masa depan yang penuh harapan dan akan menjadi naik dan tidak turun, menjadi kepala dan bukan ekor. Semua ini berbicara tentang perkara materi dan status sosial. Beberapa dari kita mungkin sudah mencapai hal ini. Tetapi apakah rancangan Allah atas kita hanya sampai di perkara materi dan status sosial? Sebegitu pentingkah materi dan status sosial? Kita harus menyadari bahwa ada rancangan Allah atas kita yang lebih besar dari perkara materi. Apakah itu?
Roma 8:29 “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”
Rancangan Allah tersebut adalah agar setiap orang percaya menjadi serupa dengan Kristus! Ada pepatah yang berkata, “Buah tak jatuh jauh dari pohonnya” yang artinya sifat atau karakter seorang anak tidak jauh dari sifat atau karakter orang tuanya. Pepatah ini tidak sepenuhnya benar. Karena ada orang yang memiliki orang tua yang sangat jahat, tetapi ia adalah orang yang sangat baik.

Apa saja faktor yang mempengaruhi karakter atau temperamen manusia?
1. Faktor genetik Berdasarkan faktor genetik, orangtua menurunkan kemiripan sifat kepada anaknya baik bersifat kemiripan fisik maupun kemiripan temperamen.
2. Lingkungan Faktor lingkungan bisa mempengaruhi temperamen seseorang, menjadi baik atau jahat.
3. Intelegensia Faktor intelegensia juga dapat mempengaruhi karakter seseorang.
4. Pengalaman Pengalaman hidup dapat mempengaruhi / mengubah karakter seseorang. Ada seorang hamba Tuhan yang dipakai Tuhan dengan luar biasa dengan pengajaran yang baik, ternyata terbentuk karakternya melalui pengalaman-pengalaman yang sangat menyakitkan yaitu dilecehkan secara seksual oleh ayah kandungnya sendiri. Tetapi pekerjaan/karya Tuhan memulihkan dan mengubahkan dirinya dan Tuhan memakai hidupnya menjadi berkat bagi banyak orang.

Galatia 5:16-17 “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging — karena keduanya bertentangan — sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.”
Secara lahiriah, kita merespon segala sesuatu yang terjadi dengan faktor jiwani. Sebagai orang percaya, jika kita melakukan segala sesuatu mengikuti kehendak daging (faktor jiwani), maka kita menjadi orang percaya yang menyiksa diri sendiri.

Jadi bagaimana kita bisa hidup oleh Roh?
Galatia 5:18 “Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat.”
Tuhan tidak pernah memaksa kita. Untuk dapat hidup oleh Roh, kita harus memberi diri dipimpin oleh Roh. Jika kita tidak memberi diri dipimpin oleh Roh maka seluruh gerak hidup kita dikendalikan oleh unsur jiwani. Unsur jiwani mudah “mengobok-obok” diri kita. Saat itulah saat yang paling tidak tepat dalam mengambil keputusan. Hal yang paling dahsyat yang dapat “mengobok-obok” diri manusia adalah ASMARA. Karena itu semua keputusan yang didasarkan oleh asmara adalah salah. Saat dikuasai asmara, orang dapat melakukan tindakan-tindakan yang nekat dan berbahaya.
Galatia 5:19-21 “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu — seperti yang telah kubuat dahulu — bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”
Apakah masih ada perbuatan daging pada daftar diatas yang masih kita lakukan? Jika masih ada, berarti kita calon-calon orang yang tidak akan masuk dalam Kerajaan Allah. Daftar diatas adalah dosa-dosa perbuatan. Tuhan menghendaki supaya kita tidak lagi melakukan perbuatan daging dengan memproses kita menjadi serupa Kristus.

Bagaimana Tuhan memproses kita?
Amsal 27:17 “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”
Tuhan memakai manusia dan situasi di sekitar kita untuk memproses dan menajamkan kita supaya kita mengeluarkan buah-buah Roh.
Galatia 5:22-23 “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”

  1. BuahKasih
    Mungkin ada orang yang berpikir bahwa ia memiliki kasih. Setiap orang memang mempunyai kasih tetapi belum sampai di tingkat Agape. Setiap orang umumnya hanya mempunyai 2 macam kasih yaitu filia (kasih persaudaraan) dan storge (kasih kekeluargaan) itupun tidak sempurna. Jenis kasih tersebut adalah kebaikan dibalas kebaikan. Itulah sebabnya Tuhan menghendaki agar kasih kita terus diproses sampai ke tingkat Agape. Dan buah kasih ini tidak didapatkan di kamar doa. Di kamar doa kita mendapat kekuatan, hikmat, dan petunjuk. Tetapi buah kasih kita hasilkan melalui melakukan Firman Tuhan. Kapan kita melakukannya? Saat ada kebencian, pengkhianatan, dll. Tahukah kita? Nilai tertinggi dari kasih adalah pengorbanan, nilai tertinggi dari pengorbanan adalah pengampunan, dan nilai tertinggi dari pengampunan adalah pemulihan.
    2. BuahSukacita
    Buah sukacita akan kita hasilkan saat kita mengalami pengalaman dukacita dalam berbagai situasinya. Saat itulah Roh Kudus memberikan penghiburan sehingga kita tetap bisa bersukacita dan justru menguatkan orang lain seperti yang Paulus katakan, “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.”
    Dua contoh diatas adalah buah Roh yang akan kita hasilkan melalui proses.

Lalu apa yang harus kita lakukan saat diproses Tuhan?
Roma 9:20-21 “Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?”

Saat kita diproses kita sesungguhnya berhadapan dengan kedaulatan Allah. Kedaulatan Allah lebih dari sekedar kewenangan Allah. Saat kita berhadapan dengan kedaulatan Allah, tidak ada satupun yang bisa mengubah keputusan Allah. Kita mungkin bisa mempunyai rencana, tetapi saat kita berhadapan dengan kedaulatan Tuhan, semua rencana kita bisa berantakan. Yusuf dan Maria adalah pribadi yang baik-baik, menjaga hubungan dengan baik-baik, dan memiliki rencana untuk masa depan mereka. Tetapi kemudian mereka berhadapan dengan kedaulatan Allah. Tuhan memilih Maria menjadi ibu untuk melahirkan Tuhan Yesus. Yusuf terkejut mengetahui Maria hamil padahal mereka menjaga kesucian mereka. Begitupun Maria yang pada awalnya terkejut, “Bagaimana mungkin itu terjadi sedangkan aku belum bersuami?”. Tetapi pada akhirnya mereka berserah pada kedaulatan Allah dan bersedia menjadi hamba bagi Allah. Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Allah. Terjadilah padaku menurut perkataanmu.”
Maka cara yang terbaik saat kita diproses adalah kita berserah pada kedaulatan Allah. Hidup berserah pada kedaulatan Allah tidak semudah yang kita duga, tetapi lebih indah dari yang kita duga. Maka marilah kita berserah dalam proses yang Tuhan kerjakan supaya kita dibentuk menjadi serupa dengan Kristus dengan menghasilkan buah Roh Kudus.

Written by Pdt. DR. R. F. Martino

Dikutip dari :

BERTUMBUH UNTUK MENGHASILKAN BUAH (3): Buah-Buah Roh Kudus

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here