Anak Panah & Pahlawan

0
16

Membesarkan anak merupakan hal yang rumit dan pelik. Sejak dari waktu anak dikandung ibu, sampai anak tersebut lahir, diteruskan dengan masa-masa pertumbuhan, orang tua menghabiskan banyak waktu dan energi untuk menjalankan berbagai tugas dan tanggung jawab. Orang tua harus mem-beri makan anak, memastikan kesehat- annya, melindungi keselamatannya, membayar pengeluaran yang serasa tak kunjung habis, menyediakan pendidikan, dan seterusnya. Kadang waktu 24 jam terasa tidak cukup, bahkan waktu untuk diri sendiri saja acap harus dikorbankan. Setelah berjerih lelah bertahun-tahun demi anak, akhirnya apa yang didapat orang tua? Kadang kala orang tua harus kecewa karena anaknya ternyata tidak sesuai dengan harapan mereka. Sejalan dengan waktu dan pertumbuhannya, anak mulai mempunyai pemikiran dan pandangan sendiri yang berbeda dengan orang tua, memberontak dan menjauhkan diri dari orang tua, menjalani kehidupannya pribadi, bahkan serasa meninggalkan mereka setelah membangun keluarga sendiri. Orang tua merasa kehilangan anaknya, dan segala pengorbanan untuk membesarkan anak tersebut terasa percuma.

Alkitab tidak tinggal diam dalam hal membesarkan anak. Salah satu bagian dari mana kita dapat mengambil pelajaran adalah Mazmur 127 ayat 3 dan 4. Kendati pun bagian ini tidak membahas segalanya tentang membesarkan anak, namun di dalamnya Tuhan telah menetapkan suatu sikap serta pola kewajiban dan tanggung jawab yang mendasar bagi orang tua di dalam membe-sarkan anak.

  Mazmur 127:3-4, “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah. Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.” (NIV, “Sons are a heritage from the LORD, children a reward from him. Like arrows in the hands of a warrior are sons born in one’s youth”). Ayat 3 mengajarkan bahwa anak adalah pemberian dari Tuhan. Kendati pun orang tua menyediakan sarana fisik, mental dan material untuk mendapatkan seorang anak, namun pada akhirnya Tuhanlah yang menghadirkan anak tersebut.

Dari sini kita dapat belajar bahwa orang tua harus membesarkan anaknya dengan hati dan fokus yang terarah pada Tuhan, bukan pada ego dan kehendak diri sendiri. Anak ada karena kasih karunia Tuhan semata; menaruh fokus pada Tuhan di dalam membesarkan anak merupakan salah satu ungkapan syukur dan terima kasih orang tua kepada Tuhan sang pemberi karunia tersebut. Lebih dari itu, anak disebut sebagai milik pusaka. Hal ini menunjukkan betapa berharganya anak di mata Tuhan, sehingga ia layak disebut suatu pusaka.

Tuhan tidak asal memberi; anak pemberianNya adalah makhluk yang berharga. Oleh sebab itu, orang tua tidak boleh asal membesarkan anak, melainkan harus melakukannya dengan benar dan bertang-gung jawab. Orang tua harus menjawab kepada Tuhan bagaimana ia membesarkan milik pusaka yang Tuhan berikan kepada mereka.

Sekarang kita melangkah ke ayat ke-empat. Ayat ini memberikan gambaran yang menarik tentang hubungan orang tua dengan anak. Anak digambarkan sebagai anak panah, sedangkan orang tua digambarkan sebagai pahlawan yang memegang anak panah tersebut. Pada masa dahulu, panah dan busur adalah salah satu senjata andalan para pejuang dalam peperangan. Agar seorang pejuang dapat menjadi pahlawan bangsa yang berhasil, ia harus dapat menggunakan senjatanya, termasuk panah dan busurnya, dengan baik. Gambaran orang tua dan anak sebagai pahlawan dan anak panah memberikan kepada kita suatu pelajaran tentang apa yang Tuhan inginkan di dalam hubungan orang tua dengan anak, dan dari padanya kita dapat memetik pelajaran tentang salah satu tanggung-jawab yang harus dipikul orang tua terhadap anaknya.

Untuk dapat menggunakan anak panah dengan efektif, pertama seorang pahlawan atau pemanah harus terlebih dahulu pasti akan sasarannya. Ia harus yakin ke mana ia harus mengarahkan anak panahnya, sasaran apa yang harus dituju oleh anak panahnya. Tanpa keyakinan sedemikian akan membuat pemanah ragu-ragu di dalam mengarahkan anak panahnya, keraguan mana akan mengurangi efektifitas serangannya. Lebih jauh lagi, sasaran yang ia yakini itu haruslah sasaran yang benar dan memang selayaknya dijadikan sasaran.
Keyakinan yang buta, yaitu keyakinan dengan hal yang salah sebagai sasaran, akan membuat anak panahnya melesat dengan baik, namun mengenai obyek yang tidak seharusnya. Kedua hal di atas adalah hal yang tidak pantas dilakukan oleh seorang pahlawan. Demikian pula dengan orang tua yang memiliki anak.

Orang tua harus menyadari bahwa hidup anaknya mempunyai suatu sasaran tertentu. Merupakan tanggung jawab orang tua untuk mencari hikmat Tuhan agar mengetahui sasaran hidup anaknya yang sebenarnya, lalu mengarahkan tepat ke sana. Tanpa keyakinan akan sasaran dan panggilan anak dalam hidupnya akan membuat orang tua membesarkan anak dengan seram-pangan dan membuat anak bertumbuh tanpa arah. Keyakinan pada sasaran yang salah akan membuat orang tua memaksakan pertumbuhan yang tidak sesuai dengan jati diri anak dan membuat hidup anak tidak penuh dan tidak memuaskan. Keduanya tidak pantas dilakukan oleh orang tua. Oleh sebab itu, orang tua harus menyadari bahwa membesarkan anak itu lebih dari sekedar memberi cukup makan, menyediakan papan yang memadai, mencukupi segala kebutuhan materi, menyediakan pendidikan yang ter-baik, ataupun mempersiapkan cukup harta. Betapa pun berguna segala hal itu, itu bukan segalanya bagi anak, bahkan mungkin bukan yang paling penting dalam hidup anak.

Orang tua harus menyadari bahwa hidup anak mempunyai tujuan tertentu dari Tuhan, dan tujuan hidup itu belum tentu sama dengan harapan pribadi orang tua. Orang tua mungkin berharap anaknya akan menjadi orang sukses, tenar, kaya, atau memegang kedudukan penting dalam pemerintahan, menjadi dokter, atau konglomerat. Namun orang tua juga harus belajar menyampingkan semua harapan itu dan mencari tahu apa yang Tuhan kehendaki dari hidup anak itu, dan jikalau ternyata kehendak Tuhan tidak sama dengan harapannya, orang tua harus bersedia mengi-kuti kehendak Tuhan. Bukankah anak itu pemberian dan pusaka dari Tuhan, bukan hasil kehendak diri sendiri? Tuhan menghen-daki orang tua untuk bertindak sebagai pahlawan yang dengan baik memakai anak panahnya, yang tahu dengan pasti sasaran yang tepat dalam hidup anaknya.

Setelah mengetahui sasarannya, pahlawan harus tahu bagaimana membidik dan mengarahkan anak panahnya agar dapat dengan tepat mendarat pada sasarannya. Betapa pun yakinnya pahlawan akan sasaranya, dan betapa pun tepat keyakinannya itu, jikalau ia tidak mampu membidik dengan benar, anak panahnya tidak akan memberikan faedah, bahkan mungkin akhirnya mendarat di tempat yang salah dan merugikan. Demikian pula orang tua sebagai pahlawan, harus tahu bagaimana mendidik anaknya ke arah sasaran yang tepat. Orang tua harus mengarahkan anaknya kepada tujuan yang dipersiapkan Tuhan, mengarahkan hatinya dan mempersiapkan hidupnya kepada apa yang Tuhan kehendaki dari anak itu. Dan hal ini perlu dilakukan sejak usia dini, karena semakin anak bertumbuh dewasa dan terbuka pada pengaruh luar yang semakin luas dan di luar kontrol orang tua, semakin berat tarikan pada anak itu untuk menjauhi jalan Tuhan. Bimbingan yang benar di masa kecil merupakan dasar yang kokoh bagi kehidupan anak. Semakin baik didikan di masa kecil, semakin kuatlah anak menghadapi badai hidup yang berupaya menghanyutkannya keluar dari jalan Tuhan. Tuhan menghendaki agar orang tua mengarahkan anaknya pada sasaran hidup yang Tuhan telah tetapkan, sebagaimana pahlawan membidik anak panahnya pada sasaran yang tepat.
Setelah mengetahui sasaran yang tepat dan membidik dengan benar, pahlawan harus melepaskan anak panahnya. Betapa pun tepatnya sasaran yang diincar dan betapa pun mahirnya bidikan yang dilakukan, namun jikalau anak panah itu tetap ditahan dalam tangan pahlawan, anak panah itu tidak akan pernah berguna. Demikian pula orang tua sebagai pahlawan, harus berani melepaskan anaknya menjalani kehidupannya sendiri. Pada setiap tahap pertumbuhan anak, orang tua harus membimbing dengan benar, lalu melepaskan anaknya untuk merealisir bimbingan tersebut dalam hidup yang riil. Semakin dewasa pertumbuhan anak, semakin harus dilepas agar dapat melesat lebih cepat, menerjang tantangan kehidupan, menempuh jarak yang lebih jauh dalam hidup, maju langkah demi langkah semakin dekat dengan sasaran hidupnya.

Orang tua tidak perlu kuatir anaknya akan tersesat dalam hidup jikalau mereka telah menjalankan tanggung jawab-nya membimbing anak sejak kecil kepada sasaran yang benar. Orang tua tidak perlu kuatir anaknya tidak memenuhi harapan mereka jikalau mereka telah meletakkan harapan itu pada kehendak Tuhan dalam hidup anaknya, dan sekali lagi, telah mengarahkan anaknya pada sasaran tersebut. Hanya orang tua yang egois dan gagal dalam mendidik anak yang perlu merasa kuatir untuk melepaskan anaknya. Sedangkan orang tua yang sudah menjalankan kewajib-annya namun tidak rela melepaskan anaknya, akan membuat hidup anaknya tidak berguna. Orang tua yang membesarkan anaknya di dalam Tuhan, mengarahkan hidupnya ke tujuan yang telah dipersiapkan Tuhan, dapat melepas anaknya di dalam penyerahan kepada Tuhan dan berharap untuk melihat hidup anaknya melesat bagi kemuliaan Tuhan.

Mengenal sasaran yang benar, membidik dan melepaskan adalah hal-hal yang perlu dilakukan seorang pahlawan di dalam memakai anak panahnya. Demikian pula dengan orang tua. Dengan menggam-barkan orang tua sebagai pahlawan dan anak sebagai anak panahnya, Tuhan mengajarkan pada orang tua untuk mencari tahu kehendak Tuhan untuk hidup anaknya, mengarahkan anaknya pada sasaran itu, lalu melepaskannya untuk memenuhi panggilan hidupnya itu. Walaupun benar bahwa hasil akhir juga bergantung pada banyak faktor lainnya lagi, namun ketiga hal tersebut tetap merupakan sarana membangun dasar yang mantap bagi anak. Orang tua memang menanggung berbagai kewajiban lain untuk anak dan diri sendiri, namun tanpa ketiga hal di atas hidup anak akan menjadi tanpa arah, tidak matang dan tidak berguna di mata Tuhan.Tanpa ketiga hal tersebut, dapat dikata segala pengorbanan orang tua adalah sia-sia. Orang tua tidak boleh mengelak dari tugas ini, karena ini adalah bagian dari tanggung jawab dan rasa syukur orang tua kepada Tuhan yang telah mengaruniakan anak itu sendiri — suatu pusaka, sesuatu yang berharga — kepada mereka.

Biarlah hikmat Raja Salomo dalam Amsal 22:6 dapat membimbing para orang tua: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”. Amin.

 

Dikutip dari : http://www.oocities.org/~eunike-net/15/panah15.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here