Anak-anak di Mata Tuhan

0
15

Ayat bacaan: Mazmur 127:4
====================
“Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.”

“Saya tidak suka sama anak-anak…” kata seorang teman sambil cemberut melihat beberapa anak kecil yang berlari-lari sambil berteriak-teriak disebuah mal. Ada banyak orang yang berpikir sama seperti dia. Di beberapa negara Eropa pemerintahnya mulai kesulitan karena populasi semakin sedikit akibat penduduknya semakin tidak menginginkan keturunan. Banyak orang yang menganggap repot mengurus anak. Biayanya tinggi, jadi tidak punya waktu untuk istirahat dan sebagainya sering dijadikan alasan bagi pasangan-pasangan untuk menolak kehadiran anak dalam keluarga mereka. Mereka tidak mau direpotkan dengan kehadiran anak sama sekali. Lahir satu anak artinya harus menambah sedikitnya satu baby sitter dan satu pembantu. Pemandangan ini pun sering kita lihat, dimana sang ibu akan berjalan di depan bagai pragawati sedang dibelakangnya baby sitter dan pembantu akan tergopoh-gopoh menjaga anak-anaknya. Bukannya disyukuri, tapi kehadiran anak malah dianggap sebagai pengganggu kesenangan hidup. Ini bukanlah gambaran yang tepat menurut Tuhan. Anak-anak sesungguhnya memiliki posisi yang sangat berharga dan begitu istimewa di mata Tuhan.

Dalam kitab Mazmur kita bisa melihat sebuah ayat yang berkata demikian:“Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.” (Mazmur 127:4). Anak-anak digambarkan bagaikan anak-anak panah di tangan pahlawan, as arrows in the hand of a warrior. Jika anda ingin memanah sebuah target, tidakkah anda akan membidik dengan sebaik-baiknya agar bisa tepat mengenai sasaran? Seperti itulah pentingnya mengarahkan anak sejak masa kecil mereka agar mereka tampil menjadi orang-orang yang baik dan benar ketika mereka dewasa kelak. Begitu pentingnya sehingga kata pahlawan/warrior dipakai untuk menggambarkan posisi orang tua bagi anak-anaknya. Artinya, jika orang tua malas mengurus anak, tidak memperhatikan atau mempedulikan mereka dan lebih suka memberikan anak-anaknya ke tangan orang lain untuk mengurus, itu berarti mereka tidak bertindak sebagai pahlawan di mata Tuhan. Lebih lanjut lagi Tuhan pun mengatakan:“Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang.” (ay 5). Happy, blessed and fortunate, itu bahasa Inggris yang dipakai untuk menggantikan kata “berbahagialah” dalam versi English AMP-nya. Jika tidak mengurus anak dengan baik, selain merugikan masa depan anak tapi juga akan membuat orangtuanya mendapat malu pada suatu saat nanti akibat perilaku anak-anak mereka yang tidak terpuji.

Bagaimana reaksi Tuhan kepada orang yang menolak kehadiran anak-anak? Kita bisa melihat perihal ini dalam Matius 19:13-15. Pada saat itu ada orang yang membawa anak-anak kecil mereka untuk bertemu dan diberkati Yesus. Reaksi murid-muridNya adalah memarahi orang-orang itu. Mereka mengira bahwa Yesus akan terganggu dengan kehadiran anak-anak kecil. Tapi ternyata tidak demikian. Yesus justru menegur mereka. “Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.” (ay 14). Lalu kemudian Yesus pun memberkati anak-anak itu. Lihatlah sambutan penuh kasih dan kelembutan Tuhan terhadap anak-anak. Begitu tinggi posisi anak-anak di mata Tuhan sehingga Yesus sampai perlu mengatakan: “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 18:10). Anak-anak memang bisa terkadang merepotkan. Mereka bisa bertanya tentang banyak hal termasuk yang kita anggap tidak penting. Cerewet, bandel, dan membutuhkan banyak perhatian. Tapi itu semua bukan berarti bahwa kita boleh merendahkan mereka. Kita harus memberi kasih sayang kepada mereka, mendidik, merawat juga mengenalkan mereka akan firman Tuhan dan pribadi Tuhan sejak dini, agar mereka bisa bertumbuh menjadi teladan-teladan di tengah masyarakat kelak.

Anak kecil pun dijadikan role model oleh Yesus sendiri dalam menunjukkan sikap dan perilaku yang sesungguhnya berkenan di hadapan Tuhan. Perhatikan kata Yesus berikut ini dengan menempatkan seorang anak kecil langsung di hadapan murid-muridNya. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 18:3-4). Tidak lupa pula Yesus pun menyatakan pentingnya menyambut hadirnya seorang anak dimataNya. “Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.” (ay 5).

Selanjutnya kita bisa melihat bagaimana reaksi Tuhan ketika kita mengabaikan atau menyesatkan anak-anak kecil ini. “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.” (ay 6). Jika sampai sebegitu keras, itu tandanya anak-anak memang mendapat posisi yang sangat istimewa bagi Tuhan.

Dalam Perjanjian Lama kita bisa menemukan ayat yang menyatakan bahwa selain penting bagi kita untuk mengindahkan ketetapan-ketetapanNya, adalah penting pula untuk mengajarkan anak-anak dalam pengenalan akan Tuhan secara berulang-ulang sampai semua itu meresap dan tinggal di dalam diri mereka. “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.”(Ulangan 6:6-9). Anak-anak kecil terkadang sulit untuk berkonsentrasi, dan mereka mudah merasa bosan atau jenuh. Oleh karena itu kita harus mampu terus berulang-ulang mengajarkan mereka dan mencari cara penyampaian yang menarik agar mereka bisa menangkap intinya dengan baik. Mengajarkan sambil bermain atau lewat permainan-permainan, lewat lagu-lagu, atau bahkan dongeng sebelum tidur alias bedtime story mungkin bisa dipakai sebagai metode penyampai yang baik buat anak-anak. Perhatikan bahwa diperlukan usaha yang serius dan kerelaan mengorbankan sebagian waktu untuk bisa melakukan ini, tapi itulah yang diinginkan Tuhan bagi para orang tua. Anak-anak merupakan titipanNya yang harus disyukuri dan dibangun dalam pengenalan yang baik akan Tuhan, bukan untuk dianggap sebagai pengganggu, direndahkan, disepelekan atau disingkirkan dari hidup. Itulah yang dilakukan oleh pahlawan, dan jika melakukan itu, itu artinya kita menyambut Kristus. Melakukan sebaliknya? Menolak anak-anak itu berarti menolak Kristus, dan itu dikatakan oleh Kristus sendiri.

Jika anda mengira bahwa ini hanyalah tugas para ibu saja, anda keliru. Para ayah pun punya peran yang tidak kalah pentingnya dalam hal ini. Benar bahwa ayah harus bekerja mencari nafkah, tetapi seorang ayah teladan haruslah mampu menyediakan waktu bagi keluarga terlebih bagi anak-anaknya. Hanya mencari nafkah tanpa memperhatikan kebutuhan rohani atau jiwa dari anak tidak akan pernah cukup bagi perkembangan dan kebahagiaan mereka. Saya bertemu dengan banyak orang yang kehilangan figur ayah dalam hidupnya, dan mereka tumbuh menjadi orang-orang yang terus kehilangan sesuatu dalam hidupnya. Ada banyak pula diantara mereka yang terjatuh dalam banyak masalah karenanya. Firman Tuhan pun sudah mengingatkan secara khusus buat para ayah. “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.” (Kolose 3:21). Menghukum berlebihan dengan kekerasan, tidak mempedulikan, tidak memberi sedikitpun waktu bagi anak, ini semua akan menyakiti hati mereka dan membuatnya tawar. Oleh karena itu meski kita sebagai kepala rumah tangga harus sibuk memenuhi kebutuhan materi keluarga dan anak-anak, kita pun harus memperhatikan pula untuk memberi perhatian, kasih sayang dan membagi sebagian dari waktu kita secara khusus bagi mereka.

Sudahkah anda bertindak sebagai pahlawan dan mengarahkan “anak-anak panah” anda dengan baik, ke arah yang baik pula? Tidak mudah untuk menjadi orang tua, tapi kita memang harus mensyukuri titipan yang diberikan Tuhan kepada kita dengan mengarahkan mereka untuk menjadi teladan-teladan yang baik di masyarakat ketika mereka dewasa nanti. Ketika ada banyak orang yang masih mendambakan hadirnya buah hati dalam keluarga mereka, peliharalah dengan baik jika anda sudah memiliki buah hati titipan Tuhan ini dalam hidup anda. Mereka sangatlah berharga di mata Tuhan, dan kita yang dititipkan harus bisa menghargai itu dengan melakukan segala yang baik di masa pertumbuhan mereka.

Anak merupakan titipan Tuhan yang harus dihargai, diasuh, diurus, dipelihara dan dididik dengan baik

Dikutip dari :

http://24hoursworship.com/anak-anak-di-mata-tuhan-1/

http://24hoursworship.com/anak-anak-di-mata-tuhan-2/

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here